Kotak Suara / Pemilu
Senin, 09 September 2024 | 15:54 WIB
Anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini. (Suara.com/Lilis)

Suara.com - Jejak digital kedua bakal calon Gubernur Jakarta Ridwan Kamil dan Pramono Anung dikuliti netizen lantaran dinilai bernada seksis dan menyudutkan perempuan sebagai objek.

Salah satu cuitan seksis Ridwan Kamil tanggal 1 April 2011 bertuliskan, "Tips Bank: Sbim buka rek, lihat ukuran lingkar dada customer service anda. KI terlalu besar, curigai. Segera pindah ke Bank lain. #MD".

Sementara itu, cuitan Pramono Anung yang membahas tentang perempuan berbaju seksi. "Cewek berbaju seksi itu aneh, dilihatin dibilang kita kurang ajar, kalau kita cuekin, dibilang kita homo #Nyantai ah," tulis Pramono Anung pada tanggal 8 Oktober 2011.

Menanggapi hal tersebut, anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menegaskan, bahwa tulisan-tulisan seperti itu termasuk bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

"Cuitan-cuitan yang seksis yang cenderung menjadikan perempuan sebagai objek itu menjadi catatan dan juga pekerjaan rumah bagi kita semua untuk terus mengingatkan para pemimpin agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang mendiskriminasi perempuan," kata Titi, ditemui di Jakarta, Senin (9/9/2024).

Menurutnya, penting bagi setiap politisi untuk menjaga perilaku mereka, baik secara konvensional maupun di platform digital. Karena rekam jejak seperti itu akan terungkap kembali dalam aktivitas politik.

Cuitan lawas dari Ridwan Kamil dan Pramono Anung juga menjadi suatu refleksi bahwa dunia politik Indonesia masih sangat seksis dan patriarkis.

"Kalau pun mereka lakukan pada praktik masa lampau, itu juga mengindikasikan bahwa ada satu masa guyonan-guyonan mereka itu seksis dan mengobjektifikasi perempuan. Itulah yang harus kemudian menjadi evaluasi bagi pemilih, apakah perilaku itu masih tercermin sekarang atau tidak," ujar dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia tersebut.

Jejak digital bernada seksis tersebut bisa juga jadi tolak ukur dalam menerka para calon kepala daerah itu dalam memiliki cara pandang terkait keberpihakan mereka terhadap isu-isu perempuan.

Baca Juga: "Ditahan" jadi Menseskab Meski Sudah Resign, Pramono Anung Curhat Dapat Tugas dari Jokowi, Apa Itu?

"Bukan hanya pada program dan gagasan tetapi juga sejauh mana interaksi mereka mencerminkan hal yang sama," lanjut Titi.

Menurut Titi, kini menjadi pekerjaan rumah bagi Ridwan Kamil dan Pramono Anung untuk meyakinkan publik bahwa mereka sudah berubah atau memiliki keberpihakan yang lebih baik dan lebih ramah terhadap hak-hak perempuan dan keadilan gender.

Load More