/
Jum'at, 14 Juli 2023 | 16:41 WIB
Eks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo berpidato dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Ummat ke-1 di Asrama Haji, Jakarta Timur, Rabu (15/2/2023). (Suara.com/Bagaskara)

Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Gatot Nurmantyo mengatakan, kondisi Indonesia saat ini menjadi lebih berbahaya daripada masa Perusahaan Hindia Timur atau VOC.

"Ini sejarah berulang. Jadi kondisi sekarang ini lebih bahaya daripada VOC, lebih berbahaya daripada (masa penjajahan) Belanda," kata Gatot dalam pernyataannya dikutip Liberte Suara, Jumat (14/7/2023).

Gatot mengingatkan kondisi perekonomian Indonesia dalam kondisi bahaya di tengah pesatnya perkembangan kapitalisme dan liberalisme yang bertolak belakang dengan Pancasila.

Ia menguraikan Indonesia pascaproklamasi. Pada saat itu Indonesia belum berbentuk negara yang lengkap dengan perangkat-perangkatnya melainkan hanya sebuah bangsa.

Eks Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) mengungkapkan janji proklamator Presiden Sukarno melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, serta mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat.

Indonesia, lanjutnya, ketika baru merdeka belum memiliki banyak akademisi tetapi sudah dihadapkan pada tingkat kemiskinan yang tinggi.

"Maka harus perlu dicerdaskan untuk bisa mencapai kesejahteraan. Maka ada Pancasila tadi untuk menjaga agar tidak boleh liberalisme, kapitalisme, dan komunisme masuk karena itulah cita-cita kemerdekaan," tambahnya.

Gatot menegaskan, liberalisme dan kapitalisme sangat bertentangan dengan Pancasila, khususnya sila kedua yakni kemanusiaan yang adil dan beradab.

"Saat ini Pancasila juga sedang dikeroyok oleh liberalisme dan komunisme," pungkas Gatot.

Baca Juga: Pantas Nggak Belibet, Sosok Ini Ternyata Bantu Susun Naskah Klarifikasi Syahnaz Sadiqah dan Jeje Govinda

Load More