Sebagian besar dari kita masih terjebak pada anggapan bahwa sebagai kepala keluarga laki-laki harus memiliki pendapatan yang lebih tinggi dibanding pasangannya.
Tapi man, kondisi sudah berubah. Kini makin banyak kesempatan kerja untuk perempuan, yang pada gilirannya makin banyak perempuan yang memiliki pendapatan lebih tinggi dari suaminya. Maka, jika Anda mengalami hal ini Anda tidak perlu merasa malu atau pun merasa rendah diri.
Ingat, kehidupan pernikahan lebih tergantung pada pemahaman dan cinta Anda pada pasangan. Ini lebih dari apapun. Jika dia baik-baik saja dengan Anda dalam semua aspek maka gaji juga bukan masalah.
Berikut adalah beberapa cara untuk melihat masalah ini dengan perspektif yang lebih baik.
Sadari peran gender telah berubah.
Banyak hal berubah seiring dengan perubahan zaman. Kini makin banyak peran yang tidak spesifik untuk jenis kelamin tertentu. Jadi, jika istri Anda tidak masalah jika penghasilan Anda lebih rendah, jangan juga menjadikannya masalah. Jangan mengidentifikasi kejantanan Anda dengan pendapatan yang lebih tinggi.
Uang bukan satu-satunya aspek.
Camkan dalam pikiran, bahwa uang memang penting tapi itu bukan satu-satunya aspek dalam merawat hubungan. Uang hanyalah salah satu aspek, di antara banyak aspek lainnya seperti penghormatan, kasih sayang dan masih banyak lagi.
Kompensasikan ke hal lain.
Jika dibutuhkan jangan segan berbagi tanggung-jawab dengan istri. Itu bisa dalam mengurus tugas rumah tangga maupun merawat anak-anak.
Lihat gambar besar.
Jika Anda memandang lukisan besar, Anda akan sadar tujuan dari sebuah perkawinan adalah untuk berbagi kebahagiaan. Jadi penuhi tanggung jawab Anda, sehingga Anda tak lagi khawatir dengan 'kekurangan' yang satu ini.
Pahami makna uang.
Uang adalah sebuah kebutuhan. Tanpa uang, hidup bisa macet. Ya, uang bakal mendefinisikan status Anda di masyarakat dan juga mempengaruhi hubungan Anda. Tapi jika istri Anda tidak berpikiran uang adalah masalah maka Anda tidak perlu khawatir.
Jangan pedulikan pendapat orang lain.
Jika pendapatan istri lebih tinggi, mungkin orang akan menganggap Anda lemah. Tapi jangan pedulikan, selama Anda bahagia bersama istri Anda. (boldsky.com)
Berita Terkait
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Cegah Kanker Serviks, Kemenkes Beri Vaksin HPV untuk Anak Laki-Laki Mulai Agustus
-
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Lagi! Radius 5 KM Wajib Steril
-
Efisiensi atau Diskriminasi? Membaca Ulang Preferensi Rekrutmen Perusahaan
-
Saat Perempuan Begadang Demi Piala Dunia 2026, Apa yang Salah?
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Laporan CrowdStrike 2026: AI Kini Menjadi Senjata Utama Pelaku Siber
-
Dibintangi Margaret Qualley, Remake Film Possession Tayang Juni 2027
-
Crunchyroll Dapat Hak Distribusi Internasional Film Baru Makoto Shinkai
-
BRI Poso Bersama Kejari Tuntaskan Kendala Administrasi Kredit ASN
-
Hafalan Surah Ad-Dhuha Jadi Gimmick Promosi Miras, Polisi Diminta Usut Dugaan Penistaan Agama
-
17 Rekomendasi Doorprize Malam Puncak 17 Agustus yang Memuaskan
-
Apakah 18 Agustus 2026 Cuti Bersama? Cek SKB 3 Menteri dan Pengumuman Pemerintah
-
Khali the Killer Malam Ini di Trans TV: Dilema Pembunuh Bayaran demi Biaya Berobat Nenek
-
Demutualisasi Siap Dilakukan, Bos BEI Sudah Punya Calon Investor Mau Caplok Saham Bursa
-
Kota Serang Darurat Tenaga Pengajar, Puluhan SD dan SMP Kekurangan 300 Guru