Suara.com - Kalimantan terkenal sebagai daerah penghasil rotan terbesar di dunia, tak heran jika banyak warganya yang piawai menjalin rotan menjadi berbagai bentuk kerajinan yang unik. Keahlian ini belakangan dilihat sebagai peluang bisnis yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan warga setempat.
Para pengrajin ini, oleh sejumlah LSM seperti Non-Timber Forest Product- Exchange Programme for South and Southeast Asia (NTFP-EP), Riak Bumi, Yayasan Dian Tama, Koperasi Jasa Menenun Mandiri, dan Yayasan Petak Danum, dikumpulkan untuk mengembangkan potensi mereka di bawah bendera Borneo Chic.
Business Manager Borneo Chic, Jusup Tarigan mengatakan, sejak didirikan pada 2010 lalu, tak kurang dari 400 pengrajin lokal di Kutai Barat, Sintang, dan berbagai daerah di Kalimantan tengah dirangkul untuk memproduksi anyaman, tenun, hingga madu yang melibatkan proses sakral dalam pembuatannya.
"Tujuannya adalah bagaimana kerajinan tradisional ini bisa diangkat dan memiliki pasar, sekaligus melestarikan budaya Dayak karena dalam memproduksi sebuah karya tenun atau anyaman, pengrajin melibatkan upacara adat yang sakral," ujar Jusup pada temu media 'Borneo Chic's 5th Anniversary' di Jakarta, Senin (18/4/2016).
Produk yang dihasilkan para pengrajin ini bervariasi mulai dari tas, keranjang, tikar, asesori, dan ragam fesyen. Harga yang dipatok untuk memiliki kerajinan khas Kalimantan ini mulai dari Rp300 ribu hingga Rp3 juta.
Tarigan mengakui harga produknya agak mahal. Tingginya harga yang dibanderol untuk produk kerajinan ini, menurutnya, karena melewati proses produksi yang tidak sebentar. Ia mencontohkan, untuk membuat sehelai kain tenun dengan pewarna alami, pengrajin harus melewati 20 proses yang memakan waktu hingga berminggu-minggu lamanya.
"Produksi kerajinan ini kan bukan menjadi pekerjaan utama masyarakat setempat. Mereka bisa saja berprofesi sebagai petani atau ibu rumah tangga sehingga membuat kerajinan ini hanya pekerjaan sampingan," tambahnya.
Melalui Borneo Chic, lanjut Jusup, masyarakat tak hanya diajak untuk melestarikan kerajinan tradisional, namun juga meyakinkan mereka untuk selalu menjaga kelestarian hutan.
"Dengan menyadari bahwa hutan membawa hal positif bagi pendapatan mereka, maka mereka juga termotivasi untuk menjaganya," imbuhnya.
Dalam memasarkan produk mereka, Borneo Chic memiliki gerai sendiri di Jalan Bangka, Jakarta Selatan. Produk Borneo Chic juga bisa didapatkan di Alun-Alun Indonesia, Grand Indonesia Shopping Mall, dan beberapa gerai di Bali.
Dalam waktu dekat Borneo Chic juga melayani pembelian secara daring melalui website mereka di www.Borneochic.com.
"Mulai minggu ini kita sudah bisa memulai pembelian online, karena sekarang tren penjualan sudah merambah ke ranah e-commerce," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi