Lifestyle / Relationship
Selasa, 03 Mei 2016 | 15:59 WIB
Ilustrasi manusia bahagia (Shutterstock)
Siapa yang tak ingin bahagia? Pastinya, tidak ada yang akan menjawab 'tidak' untuk pertanyaan itu. Tapi, bagaimanakah dan di manakah kebahagiaan dapat direngkuh?
 
"Pencarian manusia adalah pencarian kebahagiaan," kata psikolog Roslina Verauli kepada media di Jakarta, Selasa (3/5/2016).
 
Banyak yang menyamaartikan kebahagiaan dengan hal-hal semisal uang, pekerjaan, pasangan, atau tingkat pendidikan. Semakin banyak uang yang dimiliki, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi jabatan, semakin tampan atau cantik pasangan, maka kebahagiaan akan datang.
 
Kendati demikian, kebahagiaan sejatinya bersifat relatif dan subyektif. Menurut psikolog yang akrab disapa Vera itu, karena manusia punya kemampuan adaptasi dengan uang, pasangan, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan lain-lain. Setelah mereka beradaptasi dengan yang mereka punya, tingkat kebahagiaan dalam diri pun bisa menurun kembali.
 
"Karena itulah kebahagiaan berasal dari dalam diri sendiri," kata dia.
 
Kebahagiaan dapat dicapai melalui pemenuhan "peta kebahagiaan" yang antara lain terdiri dari "kesadaran diri", "kepercayaan diri", "keberanian", "bertanggung jawab", "fokus", juga "lingkungan".
 
"Orang-orang akan jauh lebih bahagia jika mereka berada di tengah lingkungan yang di dalamnya mereka merasa didukung," katanya lagi.
 
Lingkungan menjadi penting karena kebahagiaan ternyata bersifat menular. Menurut Vera, saat seseorang sedang bersama dengan keluarga dan teman yang memiliki koneksi yang hangat, kebahagiaan sedang tertular. "Itulah mengapa Alexander Watson pernah mengatakan 'rasa bahagia itu menular'."
 
Kemajuan teknologi di berbagai bidang yang terjadi saat ini juga mampu membantu kita membawa kebahagiaan. "Teknologi memudahkan kita untuk mampu mengorganisasikan kehidupan menjadi lebih mudah agar target-target dalam hidup bisa tercapai," tutupnya. (Insan Akbar Krisnamusi)

Tag

Load More