Pembukaan Festival Lima Gunung XV/2016 dijadikannya momentum refleksi atas nilai-nilai luhur yang telah dibangun oleh nenek moyang bangsa. Mereka seakan hendak mengunggah nilai-nilai luhur yang selama ini terpendam.
Tokoh berwibawa dan kejawen Komunitas Lima Gunung Sitras Anjilin memimpin rangkaian prosesi ritual. Para pelaku prosesi meletakkan berbagai sesaji di bawah yoni di reruntuhan candi utama. Mereka bersemadi selama beberapa saat sebagai tanda berdoa.
Sitras yang juga pemimpin Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang di kawasan Gunung Merapi bersama Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto dan didampingi seorang peziarah selama tiga bulan terakhir di Candi Gunung Wukir, Wijiyanto, tiga kali mengelilingi reruntuhan bangunan utama candi itu.
Pada kesempatan itu, Wijiyanto asal Lumajang, Jawa Timur juga memercikkan air dari tempayan menggunakan janur kepada setiap peserta prosesi ritual yang berkumpul di bawah reruntuhan Candi Gunung Wukir.
Langit cerah di atas bukit dan suasana khidmat menjadikan aura refleksi "Pala Kependhem" terasa merasuk ke batin setiap orang.
Tak ada suara tak perlu yang terdengar, selain tembang doa berbahasa Jawa dilantunkan Sitras dengan iringan lembut musik tiup dan tetabuhan genta serta lonceng yang lirih oleh Kelompok Bohemian Yogyakarta, sesekali mewarnai kekhusyukan prosesi mereka yang berasal dari berbagai latar belakang agama serta kepercayaan.
Tak ada pelantang juga dalam acara takzim itu seakan menjadikan segala gerak, persembahyangan, dan pidato sejumlah tokoh menyatu dalam suasana cerah dan tiupan angin di atas bukit dengan reruntuhan candi yang dikelilingi rerimbun pepohonan.
Penyair yang juga reporter salah satu stasiun televisi lokal, Widodo Setyawan, membacakan karya puisinya berjudul "Demi Sanjaya atas Jawadwipa" dibarengi dengan performa gerak oleh sejumlah penari dengan koreografer Ayu Permata (Yogyakarta), mewarnai peluncuran buku Komunitas Lima Gunung berjudul "Jawadwipa Kependhem".
"'Demi Sanjaya. Kita corat-coret zaman yang usang. Ditinggal kekasih dalam mimpi Jawadwipa makmur akan tambang emas. Jawadwipa kaya akan pangan beras. Ini yang disebut elegi atau ironi? Demi Sanjaya. Kita sembunyikan sadar dalam mata yang berkaca. Kita tak lebih dari pendoa dengan naluri yang iba. Terkubur terpendam dalam kemasyhuran Jawadwipa'," begitu dua di antara 12 bait syair dibaca Widodo dengan lantang seakan merefleksikan nilai dalam tema "Pala Kependhem".
Tentang apresiasi atas pembukaan festival di candi itu, diungkapkan oleh Ketua Kelompok Kerja Publikasi dan Pemanfaatan Cagar Budaya Balai Peninggalan Cagar Budaya Jawa Tengah Wahyu Kristanto.
"Mereka telah turut melestarikan cagar budaya ini. Pelestarian candi tidak hanya fisiknya, tetapi juga nilai-nilai di dalamnya melalui kegiatan kebudayaan ini," ujarnya.
Pembukaan festival juga ditandai dengan pidato dari sejumlah tokoh, antara lain Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Edy Susanto, mantan Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Laily Prihatiningtyas, pemuka warga Dusun Carikan Suhono, dan Direktur Borobudur Writers and Cultural Festival Yoke Darmawan.
Budayawan Komunitas Lima Gunung Sutanto Mendut berulang kali menegaskan tentang luar biasanya kandungan makna kehidupan bersama masyarakat yang terpendam di Candi Gunung Wukir dengan Prasasti Canggalnya.
Pelestarian atas nilai-nilai kebudayaan seperti halnya melalui situs cagar budaya Candi Gunung Wukir, ujarnya, menjadi persoalan penting seiring dengan kemajuan zaman.
"Ini situs (Candi Gunung Wukir, red.) yang luar biasa, bahkan dibangun sebelum Candi Borobudur (sekitar abad ke-8, red.) dan Candi Prambanan (sekitar abad ke-9, red.). Jadi, nenek moyang kita dahulu bekerja keras lalu makmur dahulu, dan kemudian membangun situs peradaban besar," katanya.
Ia menyebut nenek moyang bangsa dengan otaknya yang cerdas dan masyarakat hidup makmur terlebih dahulu, ditunjukan melalui pembangunan Candi Gunung Wukir, lalu membangun Candi Borobudur yang agung itu.
"Komunitas Lima Gunung ingin mengajak siapa saja untuk belajar bersama, merawat peradaban cerdas. Ini situs luar biasa, otaknya Candi Borobudur dan Prambanan. Ada kecerdasan yang berjalan di dalam tanah, terpendam," katanya.
Setiap generasi menerima dan merawat warisan dari leluhurnya yang cerdas dan setiap generasi pula seharusnya membuat warisan budaya yang cerdas untuk penerusnya.
Berita Terkait
-
Festival Budaya Indonesia Hadir di Turki, Tampilkan Kekayaan Tradisi 2 Negara
-
Merayakan Keberagaman Melalui Pesta Budaya
-
Asal-Usul Lumpia Semarang, Salah Satu Warisan Budaya Nusantara yang Diakui UNESCO
-
Gali Potensi Ekonomi Adat dan Budaya, Ganjar Temui Raja-raja se-Nusantara
-
Mengintip Kemeriahan Festival Lima Gunung di Lereng Gunung Andong
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
4 Rekomendasi Spot Treatment untuk Flek Hitam yang Sudah BPOM dan Mudah Didapat
-
5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
-
Urutan Skincare Malam Viva untuk Mencerahkan Wajah Kusam, Bikin Kulit Glowing di Pagi Hari
-
Cushion Skintific Petal untuk Kulit Apa? Ini Rekomendasi sesuai Skintone dan Undertone
-
Idul Adha 2026 Berapa Hari Lagi? Mari Hitung Mundur dan Cek Jadwalnya
-
5 Rekomendasi Sunscreen untuk Atasi Hiperpigmentasi Usia 45 Tahun ke Atas
-
Cara Cek Apakah NIK Kita Terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan?
-
Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
-
Sepatu Suede Dicuci Pakai Apa? Ini 7 Tips Mencucinya agar Tidak Cepat Rusak
-
Call Center BPJS Ketenagakerjaan 24 Jam, Apa Saja Layanannya?