Suara.com - Ketika sudut-sudut ibu kota semakin diselimuti gaya hidup kosmopolitan yang tentu saja modern, tak sedikit orang yang lantas memilih kembali erat-erat memeluk tradisi.
Fenomena anomali dalam kehidupan modern DKI Jakarta yang sudah menyandang status metropolis tersebut, kerapkali mendapat cibiran.
Sebab, oleh seorang kosmopolit, segala hal yang berbau tradisi seringkali diidentikkan dengan kemunduran peradaban ke masa lalu yang dipenuhi klenik dan irasional.
Namun, setidaknya, segala prasangka itulah yang justru melahirkan dan memacu semangat anggota komunitas praktisi kartu Tarot. Mereka ingin membuktikan, kartu Tarot bukan sejenis ilmu halimunan alias gaib, dan tetap bisa ”menemani” kehidupan penghuni metropolis Jakarta.
"Meramal, tarot, saya ibaratkan seperti perkiraan cuaca. Simpelnya, memberi pilihan kepada orang dan apa risiko dalam setiap pilihan," tutur Inca O’Keefe, ‘pembaca’ kartu tarot dari Komunitas Tarot Jakarta kepada Suara.com.
Dedy Darmawan, rekan seprofesi sekaligus teman Inca dalam komunitas tarot, menuturkan mereka tak jarang mendapat anggapan negatif serta penolakan masyarakat karena berprofesi sebagai pembaca tarot.
Segala prasangka itu bermula dari masih lekatnya persepi penggunaan kartu tarot adalah praktik klenik alias perdukunan.
Baca Juga: Suami Mau Kabur, Perempuan Ini Nekat Duduki Kap Mobil yang Melaju
“Penolakan juga disebabkan masih adanya anggapan memercayai ramalan bertentangan dengan agama,” ungkapnya.
Menurutnya, segala stigma tersebut salah. ”Membaca” lembar demi lembar kartu tarot sama sekali tidak menggunakan kekuatan garib.
Sebaliknya, sama seperti seorang psikolog, kartu tarot hanya medium untuk menelisik sisi terdalam persona seseorang.
Dedy dan para pembaca tarot lainnya, selama bertahun-tahun, sangat serius melawan segala stigma dengan beragam argumentasi penjelasan. Upaya itu berhasil. Kekinian, semakin banyak pihak yang ingin memakai kemampuan unik mereka.
“Kami kerap digandeng perusahaan dalam proses seleksi pegawai. Sudah mulai banyak perusahaan yang bekerja sama dengan pembaca tarot. Karena secara tidak langsung kami juga harus bisa menguasai ilmu psikologi," jelasnya.
Selain dipinang beberapa perusahaan, pembaca tarot juga kerap menjadi pilihan masyarakat sebagai “teman curhat” guna melepaskan penat pikiran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Manga Romantis The Dangers in My Heart Resmi Tamat dalam Tiga Chapter Lagi
-
Membaca Bu, Aku Ingin Pelukmu: Beratnya Rindu Ketika Ibu Tak Lagi Ada
-
AC Panasonic Premium Inverter HU Series, AC Hemat Listrik, Cepat Dingin & Udara Lebih Bersih
-
Gudang Buku dan Alat Musik SDN 04 Srengseng Sawah Terbakar, Petugas Damkar Tiba dalam 4 Menit
-
Saepul Rencanakan Mutilasi Depok Demi Gasak Motor Korban
-
Jalan Hertasning Nyaris Rampung! Ini Update Terbaru Proyek Jalan Rp2,5 Triliun di Sulsel
-
Dari Rival Jadi Ikon: Jejak Tajam Pemain 'Pengkhianat' di Persib dan Persebaya
-
Polisi Ungkap Fakta Baru Kasus Mutilasi Depok, Pelaku Tergabung dalam Grup Komunitas Gay
-
Riset Terbaru: Siram Atap dengan Air Hujan Terbukti Tekan Penggunaan AC saat Gelombang Panas
-
Jateng dan Kaltim Teken Kerja Sama Raksasa Rp20,2 Triliun, Pasok Pangan hingga Dukung IKN!