Suara.com - Kegemaran terhadap belanja memang dilakukan banyak perempuan, tapi bagaimana kalau si Dia sudah kelewatan boros, kamu sebagai pasangan tidak bisa tinggal diam.
Ada trik yang harus kamu lakukan untuk mengendalikan sifat pasangan yang boros dilansir Hello Sehat.
1. Ajak diskusi serius
Ketika hobi belanja pasangan seolah sudah mendarah daging dan sulit untuk “direm”, hal pertama yang bisa Anda lakukan adalah mengajaknya bicara serius.
Buat pasangan mengerti bahwa kebiasaan buruk yang satu ini dapat menjerumuskannya di masa mendatang bila tidak segera diubah sejak dini. Pertimbangkan cara yang akan Anda lakukan untuk mengoreksi kekurangan pasangan yang boros ini. Usahakan jangan sampai membuatnya tersinggung yang malah akan memperkeruh suasana.
2. Buat anggaran keuangan
Alasan terbesar mengapa seseorang bisa sangat boros biasanya karena tidak memiliki anggaran pengeluaran dan pemasukan yang rinci. Akibatnya, ia jadi kurang mempertimbangkan jumlah pengeluaran yang sesuai dengan pemasukannya.
Nah, mulai sekarang sebaiknya buat anggaran keuangan yang mencakup kebutuhan Anda dan pasangan setiap bulannya, tergantung apakah Anda dan pasangan sudah berumah tangga atau masih dalam tahap pacaran.
Bantu pasangan membuat perincian mulai dari hal yang kecil hingga besar, meliputi uang makan, uang bensin atau ongkos untuk ke kantor, uang belanja keperluan rumah tangga, sampai uang untuk kebutuhan penting lainnya.
Baca Juga: Gisel : Akhirnya Bapak Ahok Bebas Juga, Seneng dan Bangga...
Jangan lupa, sisihkan beberapa persen dari pendapatan untuk mengisi tabungan jangka panjang. Setelah itu, rutinlah mencatat berapa pengeluaran harian beserta keterangannya.
Dengan membuat anggaran keuangan yang jelas, Anda dan pasangan jadi punya gambaran berapa dana yang boleh dikeluarkan, berapa yang telah dikeluarkan, dan sejauh mana batasan pengeluaran setiap bulannya.
3. Buat kesepakatan bersama
Sudah berhasil membuat pasangan yang boros mau lebih membatasi keinginan belanjanya, serta sudah menyusun anggaran keuangan bulanan sedemikian rupa, kini saatnya Anda berdua membuat kesepakatan bersama.
Misalnya dengan berusaha untuk menggunakan dana sesuai batas kebutuhan, tidak berlebihan, terlebih sampai menggunakan anggaran keperluan lainnya. Tanamkan dalam diri pasangan, tak terkecuali Anda, untuk lebih mendahulukan membeli kebutuhan yang penting.
4. Jangan segan untuk menegur pasangan
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
4 Shio Paling Pelit, Nomor 1 Terlalu Hemat Uang
-
Promo Skincare di Indomaret: Toner Jadi Rp6 Ribuan, Cuma Berlaku Sampai 13 Mei!
-
Hewan Kurban Pilih Jantan atau Betina? Ketahui yang Paling Utama Menurut Syariat
-
6 Fakta Penting Hantavirus, Virus Menular yang Mewabah di Kapal Pesiar Mewah
-
Sudah Lewat 30 April 2026, Telat Lapor SPT Tahunan Kena Denda Berapa?
-
5 Ciri-Ciri Mesin Cuci Perlu Diganti Bukan Diperbaiki, agar Tidak Rugi Jangka Panjang
-
Komunitas Bermain: Ruang Sederhana di Tengah Kota yang Mengembalikan Masa Kecil Saya
-
Wishlist Menumpuk? Saatnya Checkout Produk Kecantikan hingga Kesehatan di Sini: Diskon hingga 70%!
-
Dari Sejak Dini, Aksi Kecil Anak-Anak Menanam Bibit Tanaman Bisa Jadi Harapan Besar bagi Bumi
-
Anak Alami Dampak Iklim, Bagaimana Gim Interaktif Ini Jadi Solusi Kesenjangan Edukasi?