Lifestyle / Komunitas
Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05 WIB
Ilustrasi anak-anak belajar menghadapi krisis iklim dengan gim (Magnific)

Suara.com - Untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks, Knowledge and Innovation Exchange (KIR) Jakarta Summit 2026 menyoroti penguatan peran anak dan remaja sebagai agen perubahan dengan pendekatan yang inklusif. Salah satu terobosan yang dikenalkan adalah gim “GenerAksi”. Gim ini merupakan hasil riset kolaboratif Australia-Indonesia yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kontekstual mengenai kerentanan wilayah terhadap perubahan iklim.

Melalui penelitiannya, Widi Laras Sari dari PUSKAPA Universitas Indonesia menyebutkan bahwa anak-anak sebenarnya juga terpapar dan mengalami sendiri dampak perubahan iklim dari pengalaman di sekitarnya. Misalnya, ketika terjadi bajir semata kaki berulang kali di daerah tempat tinggalnya. Namun apa daya, mereka belum mampu membahasakan situasi, apalagi membuat kebijakan mitigasi dan solusi iklim.

Anak-Anak Bisa Belajar dengan Percaya Diri

Akhirnya, diciptakanlah gim GenerAksi yang bersifat partisipatif dengan melibatkan anak-anak secara langsung dalam proses pembuatan konsep, prototipe, hingga pengujiannya. Dengan ini, materi yang disampaikan dapat relevan dengan sudut pandang anak-anak dalam memahami isu lingkungan. Kepala Sekolah Hawkaway Primary School, Leigh Johnson, menjelaskan bahwa metode ini telah menjangkau 1.600 anak di 80 sekolah yang tersebar di empat provinsi.

“Sistem gamifikasi membuat anak-anak dapat belajar secara menyenangkan dan percaya diri tentang subyek ini. Gim ini juga sudah dipamerkan ke sejumlah negara seperti Australia hingga Kosta Rika dan dialihbahasakan juga ke bahasa Inggris dan Spanyol,” ujar Leigh.

Tantangan Distribusi

Meski inovasi ini terbukti efektif meningkatkan kesadaran anak, tantangan besar muncul pada aspek pemerataan distribusi. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyambut baik penggunaan gim ini sebagai pengayaan kurikulum pendidikan perubahan iklim dengan indikator evaluasi keberhasilan yang kini sudah tersedia di platform Rapor Pendidikan.

Namun, kesenjangan infrastruktur dan pendanaan masih menjadi penghambat dalam penerapannya di wilayah terpencil. Hal ini menjadi krusial mengingat pendidikan iklim harus mampu menyentuh seluruh siswa tanpa terkecuali.

Terkait hal tersebut, Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikdasmen, Irsyad Zamjani, menekankan perlunya strategi adaptasi. “Kita perlu memikirkan bagaimana adaptasinya ke ruang-ruang kelas di pelosok Indonesia karena tentu butuh pembiayaan untuk produksinya,” tegas Irsyad.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Angkat Raffi Ahmad Jadi Duta Kehormatan: Dorong Edukasi dan Gaya Hidup Sehat

Melalui KIE Jakarta Summit ini, kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperluas jangkauan solusi inovatif yang inklusif agar pendidikan iklim tidak hanya menjadi milik siswa di kota besar, tetapi juga menjangkau seluruh lapisan anak dan remaja Indonesia.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More