Suara.com - Suhu minus 1 derajat Celcius menyambut ketika Suara.com menyambangi Iyashi No Sato Nenba, meski saat itu waktu menunjukkan pukul 10 pagi dan matahari bersinar cukup cerah. Tenang dan asri, begitulah kesan yang didapat ketika kaki melangkah memasuki gerbang desa tradisional yang terletak di kaki Gunung Fuji ini. Cenderung hening, malah, meski saat itu rombongan wisatawan cukup ramai mengunjungi desa itu
Deretan rumah kayu tradisional Jepang beratap jerami terhubung dengan jalan-jalan setapak yang berundak. Ditambah dengan pemandangan puncak Gunung Fuji yang berselimut salju tepat di depan desa, Iyashi No Sato Nenba memang layak diberi julukan 'healing village'. Berjalan perlahan di desa yang berlokasi di Yamanashi ini, seakan terbawa aura teduh yang mengusir segala penat dan jenuh.
Bekas Desa Pertanian
Sebelum menjadi tempat wisata, Iyashi No Sato Nenba yang berlokasi di tepi barat Danau Saiko merupakan sebuah desa pertanian. Namun, desa ini hancur akibat tanah longsor saat terjadi angin topan tahun 1966. Puluhan tahun kemudian, rumah-rumah beratap jerami tradisional desa tersebut direkonstruksi, dan desa tersebut pun dibuka sebagai museum dan desa kerajinan tradisional, dengan harga tiket masuk sebesar 350 Yen (Rp 45.000) saja.
Saat ini, ada sekitar 20 rumah tradisional di Iyashi No Sato Nenba. Masing-masing rumah telah diubah menjadi toko suvenir, restoran, galeri, serta tempat persewaan kimono. Para wisatawan juga bisa mencoba berbagai kerajinan tradisional di rumah-rumah ini, misalnya membuat origami, arang, dan mie soba.
Salah satu rumah yang paling ramai adalah tempat persewaan kimono. Di sini, wisatawan bisa menyewa kimono hanya dengan membayar 1.000 Yen (Rp 131.000) dan bisa dipakai sepuasnya sampai desa wisata tutup. Tempat persewaan kimono ini konon adalah yang termurah di Jepang, mengingat harga sewa kimono di tempat-tempat wisata lain berkisar antara 4.000 - 6.000 Yen (Rp 524.000 - Rp 786.000).
Selain kimono, ada juga baju armor samurai untuk para lelaki, serta baju ninja untuk anak-anak. Di sini disediakan pula geta, yaitu sandal khas Jepang yang mirip bakiak, sebagai pelengkap kimono. Ada juga pedang samurai yang bisa digunakan untuk properti foto. Setelah kostum lengkap dikenakan, Anda bisa berfoto dengan latar desa tradisional ataupun puncak Gunung Fuji yang bersalju.
Musim gugur, ikan ayu, dan teh botol...
Baca Juga: Kaki Gunung Fuji, Tempat Pengujian Jaringan International Roaming Smartfren
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Daftar Penjualan Mobil Mewah Juni dan Bocoran Amunisi Baru Jelang GIIAS 2026
-
Gagal Tembus Barikade Polisi, Massa Pendemo Berikan 3 Tuntutan Ini
-
Sempat Memanas, Massa Pendemo Coba Terobos Barikade Polisi Demi ke Patung Kuda
-
Persis Solo Resmi Rekrut Feby Eka Putra, Bidik Promosi ke BRI Super League
-
Sudah Masuk Ranah Pidana, KPK Ungkap Dasar Hukum Tolak Laporan Gratifikasi Raja Juli
-
4 Physical Sunscreen Heartleaf Cegah Kulit Sensitif Iritasi Akibat Sinar UV
-
Bebas dari Status Tersangka, Piche Kota Akui Alami Trauma: Saya Belum Bisa Kembali Normal
-
BGN Pamer Opini WTP, Langsung Dicecar Ramai-ramai Anggota DPR: Jangan-jangan Dibikin-bikin
-
9 Rekomendasi Serum Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Wajah
-
Dua Mahasiswa Indonesia Bawa Isu Kesehatan Mental Lewat Sepak Bola ke Markas PBB