Butuh Panduan Pembelajaran yang tepat di Era Kenormalan Baru
Kekhawatiran Ajeng dirasakan pula oleh Tommy Adi yang awalnya berencana mendaftarkan buah hatinya ke lembaga Pendidikan Anak Usia Dini alias PAUD, tetapi ditunda karena kasus Covid-19.
Ia mengatakan selama kasus Covid-19 belum menunjukkan perubahan positif yang berarti, tidak merasa nyaman mengikutkan anaknya untuk belajar secara tatap muka.
"Di Jakarta aja kasusnya masih bertambah. Untuk anak-anak yang gede SMP-SMA, mungkin mereka mengerti pentingnya protokol kesehatan, gimana cuci tangan segala macem, bolehlah 13 Juli masuk sekolah. Tapi untuk PAUD, TK, SD kayaknya belum ngerti, karena mereka masih sembarangan," terang Tommy panjang lebar.
Pendapat Tommy memang beralasan kuat, tak heran bila para orangtua ada yang menunda memasukkan anak-anaknya ke PAUD dan TK. Bahkan mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih ada yang memilih homeschooling sebagai alternatif pendidikan anak-anaknya agar terlindungi dari risiko Virus Corona.
Melihat banyak orangtua yang khawatir, Elma Salma Zakiyah, salah satu guru TK di Bandung, Jawa Barat, berharap pemerintah tak hanya memberikan protokol kesehatan, tetapi juga pedoman belajar mengajar di sekolah atau panduan pembelajaran khususnya untuk PAUD, TK dan SD di era adaptasi kebiasaan baru atau kenormalan baru ini.
Panduan pembelajaran yang tepat di era kenormalan baru menurutnya sangat penting, karena anak-anak usia dini (PAUD, TK dan SD) belajar tidak dilakukan dengan duduk diam di kursi, tetapi mereka bereksplorasi dan bersosialisasi dengan teman-temannya.
Cara belajar seperti inilah yang membuat anak-anak bila belajar tatap muka di sekolah menjadi rentan.
"Kami sekolah taman kanak-kanak pastinya sangat berbeda, karena butuh banyak bermain, belajar, bermain sambil bersosialisasi. Jadi, kami sangat berharap dari pemerintah untuk lebih memikirkan lagi solusinya, bagaimana cara belajar murid TK yang seharusnya seperti apa," terang Elma.
Baca Juga: Wapres dan Mendikbud Tinjau Kesiapan Sekolah Sambut Kebiasaan Baru
Selanjutnya: Sekolah Swasta Juga Harus Diperhatikan oleh Pemerintah ...
Harapan serupa dikemukakan pula oleh Rentha Jullindah Zendrato, Guru Bahasa Inggris di SD Sekolah Unity School, Primary 1.
Ia mengatakan, meski di sekolahnya sejak dari area parkir sudah menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker hingga pengecekan suhu, hingga guru bergiliran masuk, tetapi untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan tatap muka maupun online perlu memiliki panduan pembelajaran di era kenormalan baru, baik belajar secara tatap muka maupun online.
"Bagaimana ke depannya, kita sebagai guru minta dipercepat pedoman belajar online itu bagaimana ke depannya biar sama serentak semuanya," imbuhnya.
Rentha sebagai guru yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat mengaku, dibanding anak SMP hingga SMA, untuk anak TK hingga SD biasanya akan lebih mudah mengajarkan kebiasaan baru, karena mereka cenderung penurut dan mudah diatur.
"Apalagi anak-anak itu di umur segitu mudah mematuhi peraturan yang ada, tapi mohon kerjasama antarorangtua dan guru aja," katanya.
Sekolah Swasta Juga Harus Diperhatikan oleh Pemerintah
Tak hanya sekolah negeri, sekolah swasta juga harus mendapat perhatian dari pemerintah. Apalagi sekolah swasta seluruh biaya operasionalnya mandiri, mulai dari gaji staf hingga guru, peralatan dan peralatan mengajar, fasilitas sekolah dan masih banyak lagi. Berbeda dengan sekolah negeri yang mendapat kucuran dana dari pemerintah.
Untuk itulah sekolah swasta pun sangat berharap mendapat dukungan dari pemerintah agar bisa survive di masa pandemi Covid-19.
"Pemerintah bisa memberikan dukungan misalnya dalam hal kelancaran internet dan gratis internet untuk sekolah-sekolah swasta, siswa guru maupun orangtua, agar pembelajaran online dapat berjalan dengan lancar," ujar Kepala Sekolah Rita berharap.
Ia mengaku saat pandemi Covid-19 sekolah swasta juga banyak yang terhimpit masalah ekonomi lantaran banyak orangtua menunda mendaftarkan anaknya ke sekolah.
"Dukungan pemerintah berupa dana untuk pembiayaan gaji guru maupun honor guru juga sangat diperlukan di sekolah swasta, karena sangat terasa selama pandemi ini jumlah siswa yang mendaftar berkurang, sementara jumlah guru yang ada mencukupi," tutupnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Lingkungan Kerja Nyaman Jadi Prioritas Baru Gen Z dan Milenial dalam Memilih Karier
-
7 Shio Paling Beruntung di Juli 2026, Cuan Melimpah!
-
Review Azzura Luminous Cushion: Harga Terjangkau, Wajah Glowing Instan
-
Rekomendasi Ombre Wardah Staylock Lip Matte yang Tahan 20 Jam, Makan Ayam Geprek Tetap On!
-
Rekomendasi Ombre Lip Cream OMG yang Tahan Lama dan Tidak Kering, Lengkap dengan Review Pengguna
-
5 Serum Lokal di Bawah Rp50 Ribu untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Lengkap dengan Review
-
Berawal dari Sekolah di Perbatasan, Inovasi Kulit Pisang Ini Kini Bawa Indonesia ke Kancah Global
-
5 Warna Lipstik yang Cocok untuk Wanita Usia 55 Tahun, Tampilan Lebih Fresh dan Anggun
-
5 Rangkaian Skincare Harian untuk Kulit Berjerawat Rekomendasi Dokter Estetika
-
Apa Merk Cushion yang Bagus? Ini 8 Rekomendasi yang Sudah BPOM