Suara.com - Pandemi Covid-19 juga turut memengaruhi sektor pertanian, termasuk kesejahteraan petani. Hal ini disampaikan Rusli Abdulah, Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Di mana, selama beberapa bulan terakhir, lanjut dia, petani tidak bisa lagi bebas menjual hasil panen mereka karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan di beberapa daerah.
Hal ini menyebabkan terputusnya rantai logistik dari desa ke kota. Belum lagi, kata Rusli, ancaman penyebaran Covid-19 yang membuat daya beli masyarakat akhirnya menurun.
"Akibatnya supply meningkat, daya beli menurun. Akhirnya harga drop. Terlihat inflasi rendah, berujung pada permintaan pangan yang juga menurun," jelasnya dalam acara peluncuran program Bango Pangan Lestari yang diselenggarakan secara virtual di Jakarta, Selasa (25/8/2020).
Meski begitu, kata Rusli, pada kuartal II 2020, sektor pertanian mengalami pertumbuhan walau tidak sebesar pertumbuhan pada kuartal yang sama tahun lalu, yakni naik sebesar 2,19 persen dari kuartal I.
Ini dikarenakan, di tengah pandemi Covid-19, permintaan bahan makanan di rumah tangga juga meningkat. Karena, lanjut dia, masyarakat kini lebih memilih untuk memasak sendiri di rumah. Bahkan, frekuensi memasak di rumah lebih tinggi hingga 49 persen dari sebelumnya.
"Volumenya naik. Pertama yang mengalami kenaikan paling tinggi itu telur hingga 26 persen, daging 19 persen, daging unggas 25 persen, serta buah dan sayur 8 persen," jelasnya lagi.
Belum lagi adanya perubahan prilaku konsumen di masa pandemi Covid-19 yang semuanya sudah beralih ke media digital atau virtual, untuk menghindari kontak fisik.
Untuk itu, dia mengharapkan agar kesejahteraan petani dapat terus menjadi prioritas bagi banyak pihak agar bisa beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat di tengah pandemi ini.
Baca Juga: Penggorengan Nyaris Terbalik, Video Wanita Masak Makaroni Ini Bikin Panik
Mengingat, saat ini konsumen juga membutuhkan bahan pangan berkualitas untuk mencukupi asupan gizi dan melindungi daya tahan tubuh selama pandemi.
Beberapa di antaranya ialah dengan memastikan daerah pertanian sebagai zona hijau pandemi Covid-19. Selain itu, bantu petani dengan mencari solusi terhadap beberapa masalah yang sering mereka hadapi.
"Seperti masalah-masalah di sektor struktural, caranya dengan adopsi teknologi, regenerasi petani, dan memperluas akses pasar untuk hasil tani," kata dia.
Selanjutnya ialah meningkatkan literasi dan inklusi keuangan petani, serta meningkatkan akses internet untuk mendukung pergeseran pola belanja dari offline ke online.
"Pemasaran secara online, diharapkan akan mampu membuka akses jual beli yang lebih luas, terbuka, dan cepat, untuk keuntungan petani maupun masyarakat," ungkapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
5 Serum Lokal untuk Mencerahkan Wajah, Bye-Bye Kulit Kusam dan Noda Hitam
-
5 Parfum Wangi Minyak Telon, Aromanya Lembut dan Bikin Tenang
-
5 Mesin Cuci Front Loading Langsung Kering Tanpa Jemur, Baju Bisa Langsung Dipakai
-
5 Zodiak Paling Hoki Soal Keuangan dan Karier pada 13 April 2026
-
5 AC Portable Mini Watt Kecil untuk di Kamar: Angin Semriwing, Anti Ribet Pemasangan
-
7 Mesin Cuci 2 Tabung yang Awet dan Hemat Listrik, Cucian Cepat Kering dan Bersih Maksimal
-
Pilah Sampah dari Sumber, Jalan Nyata Jakarta Tekan Timbulan hingga Tuntas
-
Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir
-
Kemenekraf Dukung IDD Pavilion Tembus Dunia, Target Ubah Citra Indonesia Jadi Pusat Desain Global
-
Bagaimana Cara agar Cushion Tidak Luntur Saat Berkeringat? 7 Tips Makeup Tahan Lama di Cuaca Panas