Suara.com - Pangeran Harry dan Meghan markle berniat untuk hanya memiliki dua anak paling banyak. Ini berbeda dengan sang kakak, Pangeran William dan Kate Middleton yang telah memiliki tiga anak.
Tentu Harry memiliki alasan sendiri dibalik keputusan itu. Dilansir dari Express UK, ia mengatakan tidak ingin punya banyak anak untuk dampak lingkungan
Harry sangat ingin mengungkapkan keprihatinannya tentang perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir, bahkan memulai inisiatif perjalanan berkelanjutan yang disebut Travalyst.
Namun, dia menghadapi tuduhan kemunafikan setelah mengambil empat jet pribadi hanya dalam 11 hari tahun lalu, mengendarai Cadillac yang boros bahan bakar di sekitar LA dan membeli rumah mewah di Santa Barbara yang kemungkinan besar memiliki tagihan energi yang tinggi.
Selama wawancara dengan majalah Vogue musim panas lalu, Harry membahas tentang memiliki anak dengan ahli lingkungan Dr Jane Goodall dan bagaimana dia sadar bagaimana hal itu dapat berdampak pada perubahan iklim.
Menariknya, ini sejalan dengan keharusan kerajaan untuk menghasilkan dua anak, satu ahli waris dan satu cadangan.
Dr Goodall juga mengatakan bahwa perubahan iklim akan menyebabkan orang “memperebutkan tanah subur terakhir, air tawar terakhir”.
Harry menambahkan bahwa “kita harus bisa meninggalkan sesuatu yang lebih baik untuk generasi berikutnya”.
Ini telah menjadi pertanyaan umum bagi generasi Harry dalam beberapa tahun terakhir, dengan anggota Kongres AS Alexandria Ocasio-Cortez secara terbuka bertanya: “Bolehkah tetap memiliki anak?”
Baca Juga: 5 Pemberitaan Teranyar Seputar Meghan Markle, Benar Mau Nyapres?
Membesarkan anak dilaporkan menghasilkan sekitar 58,6 metrik ton emisi karbon setiap tahun.
ONS mengatakan tahun lalu angka kelahiran di Inggris dan Wales telah mencapai level terendah sejak 1938, ketika pencatatan dimulai.
Namun, lembaga pemikir Amerika, Acton Institute, mengatakan penurunan angka kelahiran bisa lebih banyak merugikan daripada membantu krisis lingkungan.
Dalam postingan tahun lalu, organisasi tersebut menjelaskan bahwa "bahaya masa depan adalah angka kelahiran yang terlalu rendah, tidak terlalu tinggi".
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Parigi Moutong Diguncang Gempa M 6,2 Tengah Malam, BMKG Minta Warga Waspada
-
Pengibaran Bendera Bulan Bintang Picu Bentrok di Masjid Raya Baiturrahman
-
Air Laut Surut Lalu Masuk Permukiman, Warga Pasimarannu Panik Mengungsi Mandiri
-
Soroti Manuver Politik di Kasus Eks Jampidsus, Sejumlah Akademisi Minta Prabowo Turun Tangan
-
Dua Pidato di DPR Tunjukkan Arah Ekonomi Prabowo Semakin Jelas
-
Gempa NTT, Selly Gantina Minta Pemerintah Segera Tembus Daerah Berdampak
-
PTBA Kembali Hadirkan BIDIKSIBA, Buka Jalan Generasi Muda Menuju Pendidikan Tinggi
-
Spot 17-an Kekinian di Blok M: Dari Secret Gig sampai Tantangan Senyum!
-
Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah
-
Hendardi Singgung Manuver Hukum Eks Jampidsus, Dinilai Kelabui Publik Soal Substansi Perkara