Suara.com - Bagi mereka yang hobi mendaki gunung, Djukardi 'Bongkeng' Adriana, adalah seorang legenda. Langkah kakinya tak pernah menjauh dari ketinggian di puncak gunung. Walau berjalan perlahan, langkahnya ternyata telah berjalan selama 50 tahun dalam menapaki puluhan gunung di Indonesia maupun mancanegara.
Di antara pegiat alam, nama Djukardi Ardiana sebenarnya lebih akrab disapa Akang atau Abah 'Bongkeng'. Panggilan yang didapatkannya ketika mengikuti pendidikan dan pelatihan di perhimpunan Wanadri tahun 1973.
Berdekatan dengan hari lahirnya ke-70 tahun pada akhir Agustus lalu, Abah Bongkeng menjejakkan kakinya di tanah tertinggi Provinsi Jawa Barat, Gunung Ciremai 3.078 mdpl. Pendakian itu dimaknainya sebagai napak tilas sekaligus melepas rindu setelah enam bulan tak mendaki akibat terhalang wabah virus corona.
"Kemarin 28 Agustus, saya mendaki Ciremai untuk napak tilas dan ingin tahu kondisi pendakian era new normal. Juga ingin mengukur kemampuan saya, ternyata masih oke," ucap Abah Bongkeng ditemui suara.com di Bandung, Sabtu (26/9/2020).
Bagi Abah Bongkeng, mendaki gunung selalu dimaknainya dengan ziarah. Ia meyakini akan mendapatkan hal-hal yang berkaitan dengan makna hidup saat berkegiatan di alam terbuka.
"Di mana saya harus sabar dalam hal segala bidang, di situ alam memberikan sesuatunya tentang kesadaran kita sebagai manusia," ucapnya.
Berkegiatan di alam sejak usia remaja saat masih menggunakan seragam putih abu-abu, bapak dua anak itu tak pernah menyangka perjalanannya mendaki gunung akan mencapai 50 tahun. Mengawalinya dari sekadar hobi, Abah Bongkeng kemudian bertekad menjadikan kegiatan pendakian menjadi profesinya.
Walau disadarinya, sekitar tahun 70-80an kegiatan pendakian di Indonesia masih sepi dan peluang pekerjaan tak seberagam saat ini. Namun, ia bercerita, pengalamannya saat melakukan ekspedisi ke pegunungan Alpen di Eropa bersama Wanadri membuka matanya tentang peluang pendaki gunung yang bisa menjadi profesi di masa depan.
"Tahun 1982 saya mendaki ke Eropa, mendaki puncak tertinggi pegunungan Alpen. Di sana kegiatan pendakian sudah jadi tumpuan hidup, kebanyakan seperti itu. Makanya saya tambah yakin di sini pun bisa hidup," tegasnya.
Baca Juga: Rencana Mendaki Gunung? Begini Protokol Kesehatan yang Wajib Dilakukan!
Mantan Mahasiswa Seni yang Keasikan Bermain di Alam
Menggeluti organisasi pegiat alam sebenarnya baru diselami Abah Bongkeng setelah menyandang status mahasiswa di Yogyakarta. Sebelumnya, ia mengaku hanya ikut mendaki dengan teman-temannya yang telah lebih dulu aktif di organisasi pecinta alam di kampus.
Meski telah akrab dengan alam sejak masih kecil saat diajak ayahnya ke daerah perkebunan, Abah Bongkeng tetap dibuat tak berkutik saat berhadapan dengan alam terbuka di gunung. Ia mengaku kerap panik jika tersesat di gunung, sementara teman-temannya justru tetap bersikap santai.
"Saya lihat orang lain kalau tersesat sepertinya tidak panik. Saya pelajari ternyata dia memiliki wawasan pengetahuan. Akhirnya saya masuk suatu organisasi pendaki gunung dan perhimpunan Wanadri tahun 1973," ujar Abah Bongkeng yang saat ini aktif mengurus organisasi Eiger Adventure Service Team (EAST).
Tekadnya untuk menekuni aktivitas pendakian makin diyakininya. Sayangnya, terlalu aktif mendaki gunung, Abah Bongkeng justru harus merelakan kuliahnya yang saat itu di jurusan seni rupa interior.
"Saya di DO semester 2 menjelang 3. Itu gara-gara terlalu aktif, saya lupa kuliah. Tapi dengan adanya itu, saya punya keputusan bahwa saya harus hidup dari sini," tegasnya.
Peristiwa drop out itu tak pernah disesalinya. Sebab menurutnya, tak sedikit juga pegiat alam saat ini yang aktivitasnya tak sejalur dengan jurusan akademisnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Daftar Harga Mesin Cuci LG Front Loading 8 Kg Terbaru, Mulai dari Rp4 Jutaan
-
Munif Taufik Dijuluki Justice Collaborator Kasus FH UI, Apa Ancaman Hukumannya?
-
Hari Kartini 21 April 2026 Apakah Libur? Cek Ketentuan Resmi Menurut SKB 3 Menteri
-
6 Mesin Cuci 2 Tabung Harga Rp1 Jutaan yang Hemat Listrik, Cocok untuk Rumah Tangga
-
7 Rekomendasi Kacamata Anti Sinar UV 400, Lindungi Mata dari Sengatan Godzilla El Nino
-
4 Ancaman Hukuman Berat Menanti 16 Mahasiswa UI Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di Grup Chat
-
7 Parfum Wanita yang Tercium dari Jarak Jauh, Murah Cuma Rp30 Ribuan
-
Front Loading vs Top Loading, Ini Kelebihan dan Kekurangan Mesin Cuci 1 Tabung
-
Bukan Whistleblower, Munif Taufik Dicap Netizen Justice Collaborator di Kasus FH UI, Apa Bedanya?
-
5 Rekomendasi Primer yang Tahan Lama, Bikin Makeup Menempel Seharian