Suara.com - Pola asuh atau parenting unik diterapkan Marshanda kepada anak semata wayangnya, Sienna Ameera Kasyafani dan mengedukasi kesehatan mental sejak kecil agar anaknya merasa nyaman.
Tak main-main, peduli pada kesehatan mental anak ini ia terapkan meski dengan cara mengajarkan anak usia 9 tahun itu untuk setel musik rock keras-keras, hingga berjoget lagu metal.
"Sienna dia itu, aku bilang kamu mau pasang lagu sama ibu yang keras, karena mungkin that will make your feel better, kan aku pernah pasang lagu rock dia joget-joget, lagu yang metal gitu loh aku sampai kaget gitu," ujar Marshanda saat berbincang dengan Ussy Sulistiawati dalam potongan video yang dibagikan akun Instagram @insta_julid dikutip suara.com, Sabtu (26/11/2022).
Bahkan Marshanda juga tidak sungkan menceritakan apa yang dialaminya, terkait kesehatan mental kepada anaknya. Tujuannya bahwa tidak apa-apa jika merasa perasaannya tidak baik-baik saja, dan dia berhak meluapkannya di hadapan ibunya meski dengan cara berjoget.
"Jadi aku ajarin juga feeling is healing, dengan sambil ngasih tahu bahwa perjalanan hidup ibu tuh gini loh," ungkap Marshanda.
Mengutip Lehigh Center, mengajarkan tentang kesehatan mental pada anak membuat mental anak lebih kuat di masa mendatang, bahkan anak jadi lebih perhatian terhadap lingkungan sekitar.
Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk mengajarkan kesehatan mental pada anak, seperti sebagai berikut:
1. Ajari Anak Teknik Perhatian
Tidak ada salahnya mengajarkan anak yoga dan mindfulness sejak dini. Jika sejak kecil terlatih mindfulness anak jadi lebih fokus dan perhatian pada orang sekitar tanpa menghakimi.
Baca Juga: Lagi Perbaiki Kondisi Mental, Marshanda Sering Nangis Tanpa Sebab yang Jelas
2. Melatih Anak Atasi Masalahnya Sendiri
Meski tidak ada orangtua yang ingin anaknya terluka, tapi membiarkan anak berkembang dan bertumbuh sendiri, ia bakal mampu mengatasi masalahnya sendiri.
Caranya bisa dengan mengajarkan membereskan mainannya sendiri, membuang sampah, dan memasukan keranjang kotor ke dalam keranjang cucian sedari kecil.
3. Gunakan Bahasa dengan Hati-hati Pada Anak
Meski terdengar sepele, kata-kata juga punya kekuatan. Bisa dengan cara saat melihat mimik tertentu pada anak, seperti marah, sedih, atau bahagia arahkan anak ke cermin, dan kenali bagaimana perasaan itu di dalam tubuh.
Selanjutnya, daripada berkata-kata orangtua bisa minta anak mengenali mimik orang tuanya, bagaimana sedang marah, sedih, atau bahagia, sehingga kata-kata kerap tidak diperlukan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Menularkan Kepedulian dari Pinggiran Ciliwung: Cara River Ranger Ubah Cara Pandang Terhadap Sungai
-
4 Rekomendasi Sabun Cuci Muka dari Brand Lokal untuk Pudarkan Flek Hitam
-
Masih Bolak-balik Bisnis ke Indonesia, Segini Kekayaan Shin Tae-yong
-
3 Jenis Kanker yang Paling Banyak Menyerang Anak Muda di Singapura
-
Lirik Lagu Erika oleh OSD HMT ITB yang Berisi Pelecehan Seksual
-
7 Rekomendasi Parfum Heaven Scent Best Seller, Wangi Mewah Tak Harus Mahal!
-
5 Sepeda Lipat Ukuran 20 yang Nyaman dan Praktis, Mulai Rp800 Ribuan
-
Kontroversi Dikidoy, Akun yang Live TikTok Sidang Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI
-
Apa itu Objektifikasi Perempuan? Berkaca pada Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI
-
Apa Beda Whistleblower dan Justice Collaborator di Kasus Pelecehan FH UI?