- Dolar menguat membuay biaya administrasi marketplace fashion mengalami kenaikan.
- Dampak situasi ini, harga bahan baku menekan margin keuntungan pelaku UMKM fashion hingga tersisa 10 persen.
- Brand fashion terpaksa menaikkan harga jual di marketplace untuk menutupi membengkaknya Harga Pokok Produksi dan berbagai biaya tambahan.
Suara.com - Kenaikan biaya administrasi marketplace membuat pelaku UMKM fashion semakin tertekan. Margin keuntungan yang sebelumnya bisa mencapai 30 persen kini menyusut hingga sekitar 10 persen.
Fakta ini diungkapkan Founder brand fashion Gamaleea sekaligus Head Creative Rendezvous Modest Market, Eras Pragitha, yang kerap mewadahi puluhan brand fashion online untuk mengikuti bazar offline Rendezvous.
"Kalau dulu profit mereka bisa mencapai 30 persen, sekarang mungkin hanya sekitar 10 persen. Pertanyaannya, apakah margin 10 persen itu cukup untuk menutup biaya operasional yang terus meningkat?" ujar Eras dalam keterangan yang diterima Suara.com, Minggu (31/5/2026).
Eras mengatakan berbagai brand fashion memang masih memperoleh keuntungan. Namun, keuntungan tersebut terus tergerus karena harga bahan baku produksi mengalami kenaikan seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Akibatnya, tidak jarang brand akhirnya memilih menaikkan harga barang yang dijual di marketplace seperti Shopee, Lazada, Tokopedia, dan platform lainnya.
"Cukup berat. Brand harus menghitung ulang HPP (Harga Pokok Produksi) karena ada banyak biaya tambahan yang sebelumnya tidak ada, seperti biaya pengembalian barang dan kenaikan biaya administrasi marketplace. Kalau tidak diperhitungkan dengan baik, akan terjadi kebocoran biaya yang cukup besar," papar Eras.
Kondisi ini pula yang membuat brand fashion online kerap memilih mengikuti bazar offline agar pembeli dapat memperoleh harga yang lebih terjangkau. Salah satunya melalui Bazar Rendezvous Modest Market di AEON Mall Jakarta Garden City yang digelar pada 26 hingga 31 Mei 2026.
Melalui bazar seperti ini, brand fashion dapat menjual produknya dengan harga lebih murah dibandingkan di marketplace karena tidak dibebani berbagai biaya tambahan seperti yang terdapat pada platform belanja online.
"Jadi mereka lebih banyak memberikan special item dan special offers untuk teman-teman yang datang ke bazar," terang Eras.
Baca Juga: 3 Zodiak yang Bakal Lewat Masa Sulitnya Usai 31 Mei 2026, Tak Lagi Stres dan Tanpa Beban
"Di bazar offline, perhitungannya lebih jelas karena biaya operasional sudah diketahui sejak awal. Berbeda dengan marketplace yang sering memunculkan biaya-biaya tambahan," sambungnya.
Di sisi lain, bazar offline juga memberikan kesempatan bagi brand untuk membangun hubungan yang lebih personal dengan pelanggan.
Konsumen dapat melihat langsung kualitas produk, mencoba barang yang diinginkan, hingga berinteraksi dengan pemilik brand.
Faktor tersebut menjadi nilai tambah yang sulit diperoleh melalui transaksi digital. Terlebih di tengah tren konsumen yang semakin selektif dalam membelanjakan uangnya, pengalaman berbelanja kini menjadi pertimbangan penting.
Eras menilai kegiatan offline tidak hanya membantu meningkatkan penjualan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan ekonomi lokal.
Menurutnya, ketika masyarakat tetap berbelanja secara bijak, roda ekonomi akan terus bergerak dan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha kecil maupun menengah.
"Sekarang kita lagi gencar untuk menghidupkan lokal. Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang, kita tetap harus belanja. Brand-brand juga ingin lebih dekat dan lebih mudah dijangkau oleh pelanggan mereka. Makanya mereka ikut kegiatan offline seperti bazar," pungkas Eras.
Berita Terkait
-
Kasih Paham: Dolar Naik Gila-gilaan, Kenapa Rupiah Kita Kalah?
-
Tren Fashion Polkadot Comeback! Motif Retro Kembali Digandrungi Gen Z dan Ibu Muda
-
Anak Menkeu Purbaya Tak Pikirin Rupiah Loyo Saat Kuliah di AS, Bayar Pakai Bitcoin!
-
4 Ide Outfit ala Jeon Somi dengan Nuansa Pastel yang Stylish tanpa Ribet!
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Kursi Botol Berterbangan, Suporter Argentina Bakul Pukul Jelang Lawan Inggris
-
10 Trik Kotor Kiper Argentina Emiliano Martinez Bikin Publik Inggris Ketar-ketir
-
Makna Tersembunyi Jersey Argentina Lawan Inggris: Warisan Budaya hingga Memori 1986
-
AI Prediksi Hasil Inggris vs Argentina: Albiceleste Menang Dramatis, Messi dan Kane Cetak Gol?
-
Medco E&P Perkuat Ekonomi Warga Muba Lewat Budidaya Lele Berkelanjutan
-
Prabowo Didesak Evaluasi KDKMP, Dinilai Menyimpang dari Semangat Koperasi
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Perkuat Sinergi, Buka Jalan Pendidikan bagi Putra-Putri Daerah
-
AHY dan Merry Riana Hadir Bersama Sahabat Ojol, Nobar Piala Dunia 2026
-
PTBA Dukung Pengungkapan Tambang Batubara Ilegal di Muara Enim, 11 Tersangka Ditangkap
-
KPK Tindak Lanjuti Laporan Dugaan Korupsi Gubernur Jambi dan Bupati Tebo