Suara.com - Media sosial ternyata makin mempermudah terjadinya perundungan atau bullying di antara anak. Kondisi tersebut dipicu karena kemudahan melampiaskan emosi kepada orang lain.
"Pada dasarnya memang daring mengubah 'medan permainanan'. Kalau dulu bisa bullying secara langsung. Sekarang karena daring mempermudah akses," kata psikolog Putu Andini dalam konferensi pers bersama Child Fund Internasional di Jakarta, Jumat (17/3/2023).
Putu menjelaskan, apabila seorang anak memiliki rasa amarah yang sangat besar dan ingin melampiaskan kepada temannya, perasaan itu cenderung bisa ditahan saat bertemu langsung. Karena ada perasaan waspada diketahui orang lain.
Berbeda halnya apabila pelampiasan emosi tersebut dilakukan secara daring lewat media sosial. Anak cenderung merasa lebih aman untuk melakukannya.
"Ketika lewat daring, wajah gak terekspos, akhirnya berbagai emosi disalurkan lewat situ. Karena mereka sebenarnya tak ingin identitasnya terungkap dan terugikan juga," imbuhnya.
Menurut Putu, tindakan seperti itu bisa dilakukan oleh anak laki-laki maupun perempuan.
Berdasarkan survei yang dilakukan lembaga Child Fund Internasional (CFI) juga menemukan bahwa anak laki-laki dan perempuan sama rentannya untuk menjadi pelaku maupun korban bullying di media sosial.
CFI mencatat, sebanyak 5 dari 10 anak dari 13-24 tahun pernah menjadi pelaku cyber bullying. Sementara 6 dari 10 anak muda pernah menjadi korban.
Secara usia, anak berua 13-15 tahun yang paling rentan menjadi korban bullying. Sedangkan pelaku bullying paling banyak dilakukan oleh siswa SMA dibandingkan murid SMP dan mahasiswa.
Baca Juga: Ganas, Akun Instagram Boy William Hilang Diduga Diserang Fans Blackpink
"Sekarang ini kita butuh digital literasi. Itu kenapa kita butuh Swipe Safe. Diperlukan kita semua, mulai dari orangtua, anak itu sendiri, pendidik, juga media untuk kita melengkapi diri dengan digital literasi supaya bisa resiliens terhadap risiko yang dihadapi," kata spesialis peelindungan anak dan Advokasi CFI di Indonesia Reny Haning.
Swipe Safe merupakan program yang digagas oleh CFI Indonesia bersama CFI Australia sebagai strategi untuk literasi digital demi mencegah terjadinya cyber bullying.
Berita Terkait
-
Abel Cantika Ungkap Luka Batin Jadi Korban Bully sampai Takut Keluar Kelas dan Pindah Sekolah, Nagita Slavina Dibuat Terkejut
-
Lirik Lagu Viral di Media Sosial TikTok dan Instagram, Kehilanganmu Berat Bagiku oleh Kangen Band
-
CEK FAKTA: Tidak Sigap Tangani Kasus Sambo, Kapolri Listyo Sigit Prabowo Dipecat oleh Jokowi
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
Terkini
-
Big Bad Wolf 2026: Jadwal, Lokasi, dan Tips Berburu Buku 24 Jam di ICE BSD
-
5 Bedak yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam, Wajah Cerah Berseri di Usia 40 Tahun
-
7 Mesin Cuci Portable yang Bagus untuk Anak Kos, Murah dan Hemat Listrik
-
Maskara Anti Luntur dan Tahan Gesek Merk Apa? Ini 7 Pilihan Produknya Agar Mata Badai Seharian
-
5 Bedak Padat Tahan Air dan Keringat Agar Makeup Tetap Flawless Saat Cuaca Panas
-
Dari Buku ke Panggung: Serunya Jelajah Yogyakarta Menuju Sarga Festival 2026
-
Semua Jurusan Bisa Daftar, Ini Posisi yang Dibuka untuk Kampung Nelayan Merah Putih
-
20 Link Twibbon Hari Kartini 2026 Gratis Unduh untuk Meriahkan Semangat Emansipasi
-
Transforming Spaces with Canvas Prints: A Complete Guide
-
Waspada Bahaya Hustle Culture: Hobi Overwork Terbukti Picu Penyakit Jantung di Usia Muda