Peristiwa ini juga terjadi pada tahun 2020, saat itu Donald Trump akan melakukan kampanye di Tulsa, Oklahoma. Tiket pada kampanye itu terjual habis dengan permintaan 1 juta, padahal kapasitas venue hanya 19 ribu orang.
Namun, saat ia hadir peserta yang datang hanya 6 ribu orang. Usut punya usut ternyata para penggemar K-pop ini yang meludeskan tiket online, tetapi tidak hadir.
Seruan itu pun bermula dari sebuah video di TikTok milik Mary Jo Laupp. Dalam unggahannya itu ia menyerukan untuk boikot kampanye Trump.
Menurutnya, kampanye Trump yang sosoknya dekat dengan supremasi kulit putih, tak semestinya digelar pada 19 Juni yang diperingati hari berakhirnya perbudakan. Lokasi kampanyenya pun berpengaruh, karena Tulsa menjadi wajah rasisme serta segregasi.
Unggahan video milik Mary Jo itu pun viral dan mendapat respon masif dari penggemar K-pop. Tentu saja hal itu sukses membuat Trump kesal karena sabotase ini.
Kpopers Thailand Menentang Kekuasaan Mutlak Militer dan Monarki
Pada tahun 2020, Thailand memanas akibat gelombang demonstrasi yang meminta Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mundur serta kekuatan monarkinya, yang diwakili oleh Raja Vajiranlongkorn.
Aksi itu merupakan inisiasi dari anak muda. Menurut mereka Prayuth sangat sulit digoyangkan setelah ia mengkudeta pemerintah sipil pada 2014 dan kemudian membuat draf konstitusi yang berpeluang memperpanjang masa jabatannya.
Di sisi lain, monarki dianggap sudah terlalu lama menikmati keistimewaannya, termasuk kebal hukum dengan aturan lese-majeste yang bisa memenjarakan orang yang kritis terhadap kerajaan sampai 15 tahun.
Namun, di masa-masa perjuangan itu munculah sebuah kelompok penggemar K-pop dari Thailand yang menarik perhatian. Kala itu mereka melakukan mobilisasi yang cukup berdampak, mereka melauka penggalangan dana di Twitter salah satunya melalui fanpage Girl Generation yang berhasil mengumpulkan 25 ribu USD dalam waktu 9 jam.
Dalam jangka waktu satu minggu, mereka bisa berhasil meraih galang dana mencapai 128 ribu USD.
Diketahui, donasi itu digunakan untuk membeli alat-alat perlindungan untuk para demonstran seperti helm, jas hujan, hingga sarung tangan untuk melindungi mereka dari tindakan polisi.
Tak hanya itu, sebagian uang juga digunakan untuk pembiayaan bantuan hukum yang dilakukan Thai Lawyers for Human Right untuk menangani pendampingan terhadap demonstran yang tertangkap dan ditahan militer selama aksi itu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Acer Aspire 7 Pro Terbaru Dibanderol Rp13,49 Juta, Bawa RTX 3050 dan 2 Slot RAM Siap Upgrade
-
Bank Sumsel Babel Tebar Promo HUT RI, Jajan Cukup Bayar Rp1.945 dengan QRIS BSB Mobile
-
Cashback Jadi Andalan Luna Maya Saat Belanja, Sudah Kumpulkan Hingga Rp 1,6 Juta
-
Bank Sumsel Babel Perluas Layanan, 624 Prajurit Yonif TP 893 Kini Punya Akses Perbankan
-
Dari Sekolah hingga UMKM, Internet Mengubah Kehidupan Warga di Daerah 3T
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
-
Viral Tukang Cukur di Rancabungur Dimarahi Karena Belum Pasang Bendera, Ini Kata Camat
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi