Suara.com - Sutradara Hanung Bramantyo sukses menggarap produksi film berjudul Tuhan Izinkan Aku Berdosa adaptasi novel bertajuk ‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur’ karya Muhiddin M Dahlan. Selain kisahnya, sosok penulis novel ini pun turut jadi perbincangan. Ini dia profil Muhiddin M Dahlan.
Film yang sedang tayang di bioskop ini mengangkat isu sensitif dengan tokoh utama seorang pelacur. Tuhan, zinkan Aku Berdosa mengangkat kisah tentang Nadya Kirani alias Kiran yang merupakan seorang anggota rohis di kampusnya. Ia berkeinginan untuk segera lulus agar bisa gantian dalam membiayai kehidupan orangtuanya.
Kondisi ekonomi keluarganya yang tidaj stabil karena sang ayah seorang pensiunan dan sedang sakit keras, serta ibunya seorang ibu rumah tangga biasa, membuat Kiran selalu merasa bersalah setiap kali mendapat kiriman uang dari orangtuanya.
Singkat cerita, Kiran dilamar oleh seorang ulama untuk menjadi istri ketiga namun kemudian terjadi masalah. Namun masalah yang dihadapi Kiran tersebut rupanya berbuntut panjang, sampai-sampai ia dituding melecehkan ulama besar. Bahkan kedua orangtua Kiran percaya dengan fitnah dari ulama itu.
Kemudian muncul Ami, seorang pelacur paruh baya yang menolong Kinan keluar dari kondisi itu. Kehidupan Kinan pun seketika berubah.
Profil Muhiddin M Dahlan
Muhiddin M Dahlan pria yang akrab dengan sapaan Gus Muh itu merupakan seorang penulis dan sastrawan. Muhiddin M Dahlan lahir pada tanggal 12 Mei 1978 di Pantai Barat, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Gus Muh sapaan akrabnya, lahir dari keluarga nelayan dan mempunyai tiga orang saudara. Pendidikan dasarnya dihabiskan di Desa Tondo dan begitu mengagumi sepakbola.
Pendidikan menengah pertama ia tempuh di Kecamatan Sirenja sampai akhirnya meninggalkan Kabupaten Donggala untuk melanjutkan sekolah di STM Negeri Kota Palu. Gus Muh lantas melanjutkan pendidikannya di IKIP Yogyakarta dan IAIN Sunan Kalijaga namun keduanya tak diselesaikan.
Akan tetapi, ia tetap tinggal di Yogyakarta dan menekuni dunia baca tulis dan secara total menjalaninya hingga sekarang. Ia mulai dikenal sejak produktif menulis esai, artikel, hingga resensi di berbagai media massa.
Puncak kariernya terjadi saat menulis beberapa novel yang kontroversial misalnya seperti “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur” dan “Lekra Tak Membakar Buku.” Lebih dari 20 judul buku juga sudah ditulis dari tangannya dan beberapa ada yang menjadi bahan penelitian pada bidang sastra.
Bahkan, Muhidin M Dahlan juga pernah membuat buku tentang perjalanan hidupnya berjudul “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta” yang diterbitkan pada tahun 2003. Lalu di tahun 2005 novel ini dicetak ulang dan diganti dengan judul “Jalan Sunyi Seorang Penulis.” novel tersebut merupakan satu-satunya novel autobiografi yang ditulis oleh Muhidin M Dahlan.
Selain itu, sosoknya juga menjadi koordinator dari belasan riset yang juga sudah dibukukan. Sejak tahun 2006 Gus Muh aktif di Yayasan Indonesia Buku Jakarta/Yogyakarta yang giat dalam menggerakkan Perpustakaan Iboekoe dan Arsip.
Lalu pada tahun 2018 ia mendirikan Radio Buku, sebuah komunitas yang berinovasi dan menggagas jalan baru dalam memfasilitasi masyarakat untuk mendengarkan buku melalui radio. Alternatif baru tersebut juga mendapat respon yang bagus dari masyarakat khususnya mahasiswa di wilayah Yogyakarta.
Ayah tiga anak tersebut sampai sekarang masih disibukkan sebagai guru menulis kreatif. Tak hanya itu, ia juga menjadi pembicara penulisan kreatif di berbagai forum di berbagai kota di Indonesia.
Demikian profil Muhiddin M Dahlan, penulis novel yang diangkat menjadi film berjudul Tuhan Izinkan Aku Berdosa karya Hanung Bramantyo. Semoga bermanfaat!
Kontributor : Putri Ayu Nanda Sari
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Kenduri Kurban di Pidie Jaya, Tradisi yang Sembuhkan Duka Penyintas Banjir
-
Cushion Korea Apa Saja yang Bagus? Ini 4 Pilihan dengan Review Nyaris Sempurna di Shopee
-
Lipstik Apa yang Bagus dan Tahan Lama? Ini 3 Pilihan yang Melembabkan Bibir Awet Seharian
-
Indonesia Open 2026 Jadi Pesta Rakyat Bulu Tangkis, Bisa Nikmati Sportainment hingga Test Drive EV
-
4 Sepatu Wanita Casual dari Brand Lokal, Nyaman di Kaki dan Enak Dipandang
-
4 Sunscreen untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat Paling Populer di Indonesia
-
Belajar Langsung di Hutan Mangrove, Cara KLH Kenalkan Keanekaragaman Hayati ke Generasi Muda
-
Profil Bupati Pandeglang: Lantik Tersangka Pidana Tabrakan Maut Jadi Staf Ahli Hukum
-
4 Lipstik di Minimarket Terdekat yang Mudah Ditemukan, Harga Mulai Rp15 Ribuan
-
Menjaga Tradisi Sangjit, Sangjit by Sinar Wijaya Hadir dengan Layanan Terintegrasi