Suara.com - Orang tua idealnya menjadi lingkungan terdekat yang bisa menjadi pelindung bagi anak-anak. Karenanya, orang tua sebisa mungkin perlu tahu setiap persoalan yang mungkin tengah dialami oleh anak. Tetapi, terkadang, anak mungkin merasa enggan curhat kepada orang tua dan memilih berbagi cerita dengan teman sebayanya.
Salah satu pengurus Forum Anak Nasional Avina mengakui kalau kebiasaan itu kerap terjadi pada anak usia remaja.
"Memang usia anak lebih percaya kepada peer group-nya. Tapi memang kadang tidak aman juga cerita kepada yang masih seumuran karena sering kali saran yang diberikan justru meleset," cerita Avina saat berkunjung ke kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di Jakarta.
Menurutnya, ada alasan dibalik sikap anak yang lebih nyaman cerita kepada teman sebaya. Hal itu lantaran anak kerap kali merasa lebih dapat dukungan apabila cerita kepada temannya. Sementara curhat kepada orang tua justru cenderung dihakimi dan dapat omelan.
"Sebenarnya untuk anak-anak nyaman dengan orang tua itu dengan gak usah di-judge. Tapi kadang, kalau anak baru mau bicara (langsung di-judge), kita baru ngomong 10 kata, orang tua udah 100 kata. Kita sebenarnya udah tahu yang dikatakan orang tua itu benar. Tapi kita butuh didengarkan dulu, validasi dulu perasaan anak," tutur Avina.
Sebagai anak, dia merasa orang tua seharusnya bertanya terlebih dahulu tentang perasaan anaknya. Bisa jadi anak memang tidak akan langsung mengungkapkan segalanya. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak menyerah untuk lakukan pendekatan dengan bertanya secara lembut.
"Kalau sekali gak bisa ngobrol, yaudah anak-anak juga butuh waktu. Setelahnya bisa tanya lagi bagaimana, apa yang terjadi tanpa harus dimarahi. Karena anak-anak usia remaja kalau cerita ke peer grup, mereka pasti langsung dibelain. Tapi kalau sama orang tua kita malah dimarahin. Meski pun diujungnya juga orang tua pasti akan membela, beri saran juga," kata Avina.
Menanggapi hal tersebut, Deputi Pemenuhan Hak Anak KPPPA Nahar mengingatkan bahwa setiap anak memiliki hak bicara di dalam rumah tangga. Anak juga memiliki kehidupannya sendiri yang tidak bisa seluruhnya hanyandiatur oleh orang tua.
"Kehidupan anak tidak hanya keinginan orang tua saja. Tapi perlu juga sisi keinginan anak. Karena hak anak salah satunya adalah hak berpartisipasi," ujarnya.
Baca Juga: Virgoun Terjerat Narkoba, Inara Rusli Pilih Bungkam Demi Ketiga Anaknya
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?