Tujuan terapi kognitif adalah untuk mengidentifikasi distorsi kognitif yang mengarah pada jenis pemikiran tersebut, kemudian menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis dan positif. Dengan melakukan hal itu, orang dapat meningkatkan suasana hati dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.
4. Humanistic therapy (terapi humanistik)
Sejak tahun 1950-an, aliran pemikiran yang dikenal sebagai humanistic therapy mulai memengaruhi psikoterapi. Psikolog humanis, Carl Rogers, mengembangkan pendekatan yang dikenal sebagai terapi humanistik yang berpusat pada pasien.
Dalam humanistic therapy, terapis fokus menunjukkan penghargaan positif tanpa syarat kepada pasien. Alhasil, cara menciptakan ruang aman bagi pasien dalam terapi, sehingga mereka dapat mengeksplorasi perasaan dan keyakinan tanpa takut dihakimi oleh terapis.
Saat ini, aspek-aspek pendekatan ini masih banyak digunakan. Pendekatan humanistik terhadap psikoterapi berfokus pada membantu orang memaksimalkan potensi mereka dan menekankan pentingnya eksplorasi diri, kehendak bebas, dan aktualisasi diri.
5. Psychoanalytic therapy (terapi psikoanalitik)
Psikoterapi telah dipraktikkan dalam berbagai bentuk sejak zaman Yunani kuno. Kendati demikian, psikoterapi mulai dikenal secara resmi ketika Sigmund Freud mulai menggunakan terapi bicara untuk menangani pasien.
Teknik yang umum digunakan oleh Freud meliputi analisis pemindahan, interpretasi mimpi, dan asosiasi bebas. Terapi ini dinamakan psychoanalytic therapy atau terapi psikoanalitik.
Pendekatan psikoanalitik melibatkan penyelidikan terhadap pikiran dan pengalaman masa lalu pasien. Tujuannya untuk mencari pikiran, perasaan, dan ingatan bawah sadar yang dapat memengaruhi perilaku mereka saat ini.
Baca Juga: Di Balik Gaun Pengantin, Luka Psikologis Pernikahan Dini
Kesimpulannya, ada banyak jenis psikoterapi yang tersedia. Jenis yang paling tepat untuk kamu tentu bergantung pada berbagai faktor, termasuk preferensi, kondisi kesehatan mental, dan tingkat keparahan gejala yang dirasakan.
Berita Terkait
-
Di Balik Gaun Pengantin, Luka Psikologis Pernikahan Dini
-
Benarkah Merokok Berlebihan Bisa Rusak Kesehatan Mental? Ini Faktanya
-
Hari Perempuan Sedunia 2025: Saatnya Percepat Aksi untuk Kesehatan Mental Perempuan
-
Game Online: Hiburan atau Jerat Kecanduan?
-
Generasi Sandwich, Bertahan di Tengah Himpitan Tanggung Jawab Keluarga
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Tren Arsitektur Hijau 2026: Material Eco-Friendly Jadi Standar Baru Bangunan
-
7 Foundation Full Coverage Anti Crack, Makeup Tetap Mulus Meski Berkeringat
-
Powder Blush vs Liquid Blush: Mana yang Lebih Cocok untuk Kulit Anda?
-
5 Lip Tint yang Stain-nya Tahan Lama, Murah dan Tak Bikin Bibir Kering
-
5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
-
UNIQLO x Cecilie Bahnsen Debut di Indonesia, Koleksi Feminin Romantis Siap Jadi Statement Daily Wear
-
Literasi Keuangan Jadi Kunci Perempuan Lebih Percaya Diri Kelola Bisnis
-
Sepeda Hybrid Cocok Buat Apa? Ini 5 Pilihan Terbaik dengan Harga Bersahabat
-
Sepatu Salomon Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah untuk Hiking dan Aktivitas Outdoor
-
Mendekati Usia 30? Ini Cara Simpel Jaga Elastisitas Kulit Biar Tetap Kencang dan Glowing