Suara.com - Pendidikan bukan hanya soal teori di kelas. Ia bisa menjadi pijakan awal untuk perubahan besar. Di tengah krisis iklim yang kian mendesak, partisipasi aktif dari sektor pendidikan memainkan peran penting dalam mempercepat transformasi energi terbarukan yang adil dan inklusif.
Pemanasan global bukan lagi ancaman masa depan. Ia terjadi sekarang.
Suhu ekstrem, banjir di tengah musim kemarau, hingga kekeringan yang meluas telah menjadi keseharian di banyak wilayah.
Di sinilah pentingnya membekali generasi muda—khususnya pelajar—dengan pengetahuan kritis tentang energi dan perubahan iklim.
“Generasi Z adalah populasi yang paling besar dan orang muda, baik siswa SMP maupun SMA harus diberi ruang untuk mempelajari isu ini karena sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Ketika menyoal dampak krisis iklim, masyarakat marjinal yang paling rentan. Di sini anak muda bisa ikut menyuarakan agar masyarakat bisa mendapatkan haknya untuk hidup lebih layak dan sehat,” ujar Ketua RE–Agent, Valensiya komunitas kaum muda untuk transformasi energi bersih dan terbarukan yang adil dan inklusif.
Pernyataan ini menjadi dasar mengapa RE-Agent bersama Trend Asia menyasar sekolah sebagai ruang belajar perubahan. Dalam program “RE–Agents Goes to School” yang digelar di SMAN 3 Jakarta, pameran energi terbarukan menjadi cara konkret menghubungkan pengetahuan dengan aksi.
Kegiatan ini mendorong sekolah membuka ruang belajar transisi energi, sekaligus mendekatkan isu lingkungan dengan kehidupan siswa.
“Pendidikan ini adalah hal yang jarang dilakukan, karenanya ia menjadi sebuah kesempatan yang harus dimaksimalkan apalagi bagi siswa SMAN 3 Jakarta, di mana kegiatan pendidikan energi terbarukan ini dilaksanakan, untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai transformasi energi bersih dan terbarukan. Kegiatan yang menyokong pendidikan energi terbarukan perlu banyak dilakukan sebab ini menjadi bukti bahwa kami juga ingin beralih ke energi terbarukan,” ujar Mukhlis, Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta.
Krisis iklim bukan hanya soal sains. Ia adalah isu keadilan. Dampaknya tidak merata—dan anak muda perlu memahami mengapa dan bagaimana mereka bisa berperan. Data dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan bahwa 2024 berpotensi menjadi tahun terpanas dalam sejarah. Salah satu penyebab utamanya adalah tingginya emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara dan gas.
Baca Juga: Dari Kotoran Jadi Harapan: Kisah Nadia Mazaya Kembangkan Energi Bersih dari Desa
Namun sayangnya, kebijakan energi nasional belum sepenuhnya mencerminkan arah transisi ini.
“Alih-alih kita segera beralih ke sumber energi yang lebih bersih, pemerintah baru saja mengumumkan rencana ketenagalistrikan 2025-2034 (RUPTL) yang malah menambah kapasitas penggunaan energi fosil, dengan PLTU batu bara sebesar 6,3GW dan PLTG sebesar 10,3GW–belum termasuk penambahan di kawasan industri. Ini mengunci kita dalam ketergantungan pada energi fosil, sementara Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang jauh lebih besar kira-kira mencapai 3.686GW. Energi terbarukan, khususnya surya dan angin, juga 15 persen lebih murah,” jelas Beyrra Triasdian, Juru Kampanye Energi Terbarukan Trend Asia.
Di sisi lain, inisiatif akar rumput terus tumbuh. Di Bandung Barat, PLTMh di Kampung Tangsi Jaya memanfaatkan aliran Sungai Ciputri untuk menggerakkan koperasi pengolahan kopi. Di Blora, guru SMKN 1 Blora, Noer Chanief, menciptakan Omset Pintar—gabungan tenaga surya dan angin—untuk menerangi desa-desa tanpa listrik.
“Di Blora 60 persen wilayahnya adalah hutan dan desa-desa di sana tidak mendapatkan akses listrik. Listrik itu bagaikan kemewahan... Akhirnya, kami membuat kincir yang dilengkapi panel surya untuk menerangi jalan. Ia bebas emisi dan biaya,” jelas Noer Chanief.
Inovasi ini tidak hanya soal teknologi, tapi juga kemandirian energi dan peningkatan ekonomi lokal. Pendidikan energi terbarukan harus bisa merangkul dimensi ini bukan hanya tentang sumber daya, tetapi juga soal keadilan dan keberlanjutan.
“Kesadaran untuk mendorong adanya pendidikan energi terbarukan yang inklusif harus dibangun sampai kita bisa mengimplementasikan pola hidup ramah lingkungan... Pembelajaran soal energi terbarukan sudah sangat mendesak ketika melihat kondisi bumi saat ini,” pungkas Nadya Fidina Salam, guru geografi SMAN 3 Jakarta.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Biar Lebih Tenang, Ini Cara Pastikan Aplikasi yang Kamu Pakai Aman
-
Anti-Burnout Club: 4 Cara Sederhana Ciptakan Momen 'Zen' ala Naomi Zaskia di Tengah Kesibukan
-
Cuaca Makin Gerah? Ini 7 Kipas Angin Berdiri Anti-Berisik, Anginnya Semriwing
-
7 Cushion Wudhu Friendly dengan Hasil Flawless Seharian, RIngan dan Aman di Kulit
-
Berhenti Menunggu Sempurna: Mengapa Ide Brilian Anda Terbuang Sia-sia Jika Terus Menunda
-
Keren, Sekolah Ramah Lingkungan dari 2,2 Ton Sampah Plastik Dibangun di Tangerang
-
Bukan Cuma Tempat Tinggal, Hunian di Indonesia Kini Jadi Incaran Investasi
-
Bye-bye Minyak dan Beruntusan! Ini 5 Sunscreen Tone Up yang Bikin Wajah Cerah Instan
-
Kerap Disepelekan! Satgas IDAI Ingatkan Wabah Influenza Pernah Sebabkan 100 Juta Kematian
-
7 Tas ASI Cooler Bag Paling Tahan Lama, Bisa Jaga Suhu Hingga 20 Jam