Suara.com - Meski Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan bahwa biaya pendidikan tingkat SD dan SMP negeri maupun swasta agar digratiskan, sebagian orang tua dari keluarga miskin tetap memilih Sekolah Rakyat sebagai tempat belajar anak-anak mereka.
Sekolah Rakyat yang diperuntukan bagi siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem itu diketahui juga tanpa dipungut biaya apa pun, hanya saja sistem pendidikan dibuat boarding school alias berasrama.
Dipilihnya Sekolah Rakyat itu diwakili oleh Fitri dan Sukana, dua orang tua dari keluarga miskin di Kabupaten Bandung yang anaknya kini menjadi calon siswa Sekolah Rakyat, salah satu program di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bagi Fitri, keputusan untuk tetap menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat bukan hanya soal biaya. Meskipun sekolah reguler juga digratiskan, ia melihat ada nilai tambah yang ditawarkan oleh Sekolah Rakyat, terutama karena sistemnya yang berasrama.
"Mendingan anak saya di sekolah berasrama karena (bukan hanya) secara pendidikan, agama juga terjamin. Bukannya ini ya, cuma kalau sekolah (reguler) kan siang sekolah udah (pulang). Kalau (Sekolah Rakyat) itu kan ada tahapan lagi, selain sekolah ada mengaji, bisa mengembangkan hobi anak saya," kata Fitri ditemui Suara.com di rumahnya di kawasan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/5/2025).
Fitri mengakui bahwa melepas anak untuk tinggal di asrama bukanlah perkara mudah sebagai orang tua. Akan tetapi, dia menimbang hal itu sebagai bagian dari perjuangan demi masa depan anaknya agar bisa lebih baik.
"Ya enggak apa-apa (tinggal di asrama) karena kan anak saya di sana juga belajar pendidikan. Orang tua mana sih yang rela ngelepasin anaknya, tapi kan demi masa depan anak saya. Saya cuma bisa mendukung anak saya," ucapnya.
Sementara itu, Sukana memprioritaskan faktor jarak dan kenyamanan. Ia tetap bersyukur dengan keberadaan Sekolah Rakyat karena selama ini biaya pendidikan anak terasa beban yang berat baginya, terutama dengan penghasilan yang tak menentu.
"Kalau di sini (Sekolah Rakyat) gratis, Alhamdulillah, terbantu. Ibu mah penghasilannya kecil. Enggak tentu, kadang gak dapat sama sekali, kadang mah sebulan sejuta (Rp1 juta)," ujar Sukana.
Baca Juga: Curigai Bareskrim, Rismon Sebut Skripsi Jokowi Pakai Font Times New Roman: Tak Sesuai Zamannya!
Namun jika harus memilih antara Sekolah Rakyat atau sekolah reguler yang juga gratis, Sukana mrnjawabnya dengan lugas.
"Ya pilihnya mah yang deket rumah aja," katanya.
Dibebaskan Pilih Sekolah
Diberitakan sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan kalau masyarakat miskin diperbolehkan untuk memilih antara Sekolah Rakyat dengan sekolah reguler SD-SMP yang gratis. Terpenting, katanya, orang tua memberikan izin di mana pun anaknya akan sekolah.
"Ya boleh aja, bebas kan. Jadi ada sekolah unggulan, ada sekolah reguler, ini ada Sekolah Rakyat. Makanya yang mau di Sekolah Rakyat ini kan harus ada kesediaan orang tua ya untuk memberikan dukungan," kata Gus Ipul ditemui saat meninjau Wisma Atlet Jalak Harupat, Bandung, yang akan jadi calon asrama Sekolah Rakyat.
Di sisi lain, Gus Ipul juga tak khawatir Sekolah Rakyat akan sepi meminat apabila kebijakan SD-SMP negeri maupun swasta digratiskan, sebagaimana putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Gus Ipul yakin kalau Sekolah Rakyat juga banyak diminati oleh masyarakat.
Berita Terkait
-
Curigai Bareskrim, Rismon Sebut Skripsi Jokowi Pakai Font Times New Roman: Tak Sesuai Zamannya!
-
Pekik Gak Punya Otak, Dedi Mulyadi Disentil Gegara Ngamuk ke Suporter Persikas: Kelihatan Aslinya!
-
Dicap Tak Punya Kapasitas Sebut Ijazah Jokowi Palsu, Solmet Sindir Roy Suryo: Dia Bukan Siapa-siapa!
-
Jokowi Santer Maju Ketum PSI: Siasat jadi King Maker Demi Muluskan Jalan Gibran di 2029?
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan