Suara.com - Kopi bukan hanya sekadar minuman. Ya, bagi warga yang berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Balantieng, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, kopi organik menjadi sebuah simbol harapan baru. Bukan hanya sebagai komoditas unggulan setempat, kopi organik juga menjadi penjaga kelestarian lingkungan dari bahaya ekosistem.
Sebuah inisiatif penting dibumikan masyarakat di hulu DAS Balantieng. Mereka melakoni inovasi dengan menanam kopi yang dibudidayakan menggunakan pupuk organik. Tentunya, konservasi ini tanpa melibatkan pestisida maupun cairan kimia. Melalui budidaya ini, mereka mempersamuhkan konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi setempat.
Didampingi oleh Balang Institute, program konservasi kopi tersebut berangkat dari potensi lokal dan kebutuhan ekologis masyarakat setempat. Direktur Balang Institute Junaedi Hambali, mengatakan pemilihan kopi pun bukan tanpa alasan. Ya, ternyata kopi merupakan salah satu komoditas unggulan di wilayah hulu DAS Balantieng.
"Ya. Satu, kopi adalah komoditas unggulan di wilayah hulu Balantieng. Yang kedua, kopi ini dianggap sebagai tanaman konservasi. Pengetahuan tersebut kemudian yang didorong dalam program ini selain basis ekonomi,” ujar Junaedi saat dihubungi.
Selain menopang ekonomi, kopi ternyata baik untuk konservasi dan pemulihan ekosistem di hulu DAS Balantieng yang termasuk wilayah tangkapan air. Sebagaimana dipaparkan Junaedi, kopi dianggap sebagai tanaman konservasi karena hanya memerlukan intensitas cahaya matahari yang rendah, sekitar 35 hingga 40 persen.
Junaedi mengatakan, “Hal ini berarti jika masyarakat setempat menanam kopi, praktis mereka juga akan menanam pohon sebagai naungan tanaman kopi. Pohon ini tentunya berfungsi melindungi tanaman kopi dari paparan langsung dari sinar matahari.”
Nah, dengan sendirinya, imbuh Junaedi Hambali, penanaman kopi tersebut praktis juga mendorong upaya reboisasi, memperkuat fungsi hutan dan menjaga ketersediaan air bagi ekosistem di hulu DAS Balantieng.
Pendampingan petani kopi
Pendampingan terhadap petani kopi bukan dimulai dari nol. Sejak 2016, mitra pendamping dari Koperasi Mitra Cahaya Mandiri sudah membersamai petani kopi. Program pendampingan tersebut menyasar tiga desa. Dua desa berada di Kabupaten Bulukumba, sementara desa lainnya berada di Kabupaten Sinjai.
Baca Juga: Lawan Modernisasi, Cerita Remaja Bulukumba Pelestari Tradisi Penyadap Nira
Sekadar informasi, ketiga desa yang mengikuti program pendampingan kopi organik tersebut yakni Desa Kahayya yang terletak di Kecamatan Kindang, Kabupetan Bulukumba; Desa Kindang yang terletak di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, serta Desa Bonto Tengnga yang terletak di Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai.
Nah, pendampingan tersebut semakin ditingkatkan serta dimaksimalkan sejak menjalin program kemitraan dengan Global Enviroment Facility Small Grants Programe (GEF SGP) Indonesia pada 2024. Melalui program tersebut, para petani diganjar fasilitas berupa rumah kaca atau green house yang digunakan untuk pengeringan kopi.
Junaedi mengakui keberadaan green house sangat membantu. Saat curah hujan tinggi, petani bisa menggunakan fasilitas untuk mengeringkan kopi yang sudah dipanen, kendati kapasitas green house memang masih sangat terbatas dari sisi kapasitas penampungan.
“Di lokasi seperti ini, harus ada fasilitas yang bisa membantu petani mengeringkan kopi meski curah hujan sangat tinggi di wilayah DAS Balantieng. Ya, meski kapasitas (green house–RED) terbatas, minimal itu bisa menjadi contoh dan membangun inisiatif petani, bahwa pengeringan bisa dibantu teknologi green house,” kata Junaedi.
Selain itu, dalam program pendampingan, para petani juga diberikan pembekalan terkait teori pengolahan tanaman kopi pascapanen. Menurut Junedi, salah satu langkah awal yakni memastikan kualitas hasil panen tanaman kopi sesuai dengan standar atau permintaan pasar, dimulai dari praktik pemetikan yang tepat.
“Petani diedukasi didampingi untuk mengolah kopi mulai dari pemetikan, misalnya kopi itu harus dipetik yang merah atau petik merah, tidak melakukan petik rampasan karena itu akan berpengaruh terhadap kualitas kopi dan harga kopi itu sendiri,” jelas Junaedi.
Berita Terkait
-
Lawan Modernisasi, Cerita Remaja Bulukumba Pelestari Tradisi Penyadap Nira
-
12 Desain Warung Kopi Depan Rumah dengan Lahan Terbatas 2X3, Cuma Seluas Teras
-
BABYMONSTER Jadi Brand Ambassador Kopi Lokal! Ini Bukti K-Pop Kuasai Gaya Hidup Indonesia
-
Industri Kopi, Cokelat, Teh dan Wine Targetkan Peluang Pasar Triliunan di CBE 2025
-
Inklusivitas dalam Setiap Teguk di Kopi Difabis
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
6 Bidang Profesi Terbaik untuk Zodiak Cancer, Sesuai dengan Intuisi dan Hati
-
Parfum Scarlett Jolly Wanginya Seperti Apa? Diklam Bisa Tahan hingga 16 Jam
-
7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
-
5 Shade Wardah Glasting Liquid Lip agar Bibir Terlihat Plumpy dan Glossy Tahan Lama
-
5 Pengharum Ruangan Wangi Premium Tahan Lama, Sensasi ala Hotel Mewah Bikin Betah
-
Apakah 15 Mei 2026 Cuti Bersama? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
-
Apakah Oat Milk Lebih Sehat dari Susu Sapi? Ketahui Dulu Hal Ini
-
Kapan Batas Akhir Penyembelihan Hewan Kurban? Ini Penjelasan Menurut Syariat
-
6 Rekomendasi Moisturizer Tanpa Pewangi, Cegah Iritasi setelah Eksfoliasi
-
BPOM Rilis 11 Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya: Ada Sampo Selsun hingga Produk Madame Gie