Suara.com - Persoalan sampah tidak hanya menjadi tantangan kota-kota besar, tetapi juga daerah yang tengah berkembang pesat. Ketika jumlah penduduk meningkat dan konsumsi rumah tangga bertambah, timbunan sampah ikut melonjak.
Kunci dari pengelolaan sampah yang berkelanjutan justru terletak di tempat yang sering terlupakan, yakni dari rumah. Tanpa pemilahan sejak dari sumber, bahkan teknologi pengolahan tercanggih pun tak akan banyak berarti. Sebaliknya, perubahan pola pikir dan kebiasaan individu dalam memperlakukan sampah menjadi fondasi penting menuju lingkungan yang bersih dan sehat.
Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berbagai upaya telah dilakukan untuk menghadapi masalah ini secara sistematis. Hingga 2024, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Kabupaten Kudus mencatat timbulan sampah tahunan sebesar 159.650 ton—setara 4,5 persen dari total nasional. Pemerintah menargetkan sebagian besar sampah itu dapat terolah secara mandiri di desa-desa, tanpa bergantung penuh pada TPA.
Inilah yang menjadi alasan sejak 2018, Bakti Lingkungan Djarum Foundation bersama pemerintah daerah menginisiasi Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang berfungsi mendaur ulang limbah organik dari pasar tradisional, rumah makan, hotel, hingga rumah tangga menjadi pupuk yang bermanfaat bagi pertanian.
Sebagai kelanjutan dari upaya tersebut, pada tahun 2022, diluncurkan gerakan digital Kudus ASIK (Apik Resik)—sebuah kolaborasi yang melibatkan komunitas, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Gerakan ini bertujuan mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk menjadikan pemilahan sampah sebagai bagian dari rutinitas harian.
Salah satu tokoh yang aktif menyuarakan semangat ini adalah Isman Ridhwansah, seorang inspirator Kudus Asik. Lewat kegiatan dapur sehari-harinya, Isman menunjukkan bahwa sisa bahan makanan seperti minyak jelantah, kulit bawang, hingga ampas kopi bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang berguna.
“Kita bisa memulai kehidupan berkelanjutan dari hal-hal kecil di rumah tangga. Memilah sampah memang harus dipaksakan dulu, tapi begitu dijalankan, akan terasa gampang,” ujarnya di Taman Celosia, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin (23/6/2025).
Gerakan ini tidak berdiri sendiri. Dukungan teknologi juga diberikan melalui penyediaan dua unit insinerator yang mulai dioperasikan di Desa Jati Kulon dan Kedungdowo. Alat ini didesain untuk mengolah sampah residu—yakni sampah anorganik tak bernilai seperti plastik kemasan dan popok—dengan memanfaatkan energi dari pembakaran itu sendiri, tanpa bahan bakar fosil.
Bantuan insinerator ini diserahkan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) sebagai bagian dari kontribusi jangka panjang mereka terhadap pengelolaan sampah di Kudus. Sejak 2018, BLDF telah mendorong berbagai inisiatif pengelolaan limbah organik maupun anorganik, dengan harapan mampu mereduksi timbulan sampah ke TPA hingga 90 persen pada 2029.
Baca Juga: Konsep Baru Adipura: Daerah Tak Kelola Sampah dengan Baik Dapat Predikat Kota Kotor
“Kita (manusia) ini penghasil sampah. Kalau tidak dikelola dengan bijak, maka akan menjadi permasalahan yang serius. Saat ini gunungan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) luar biasa, tetapi yang dikelola baru separuhnya. Sebagian lagi sudah dikelola oleh masyarakat dan
dengan bantuan BLDF,” kata Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus Abdul Halil.
Ia menambahkan, kapasitas dan komitmen yang dimaksud meliputi kemampuan 60 persen kepala keluarga (KK) di desa untuk memilah sampah secara mandiri. Juga, kehadiran akses dan fasilitas pengolahan sampah di desa yang memadai, sehingga dapat menampung residu sampah harian dari dusun lain.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, pun menyatakan bahwa pihaknya tidak hanya berfokus pada penambahan alat, tetapi juga pada pembangunan budaya baru di tengah masyarakat. Ia menyebut akan membuat edaran agar para ASN, penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) wajib ikut memilah sampah dari rumah.
Ia juga meminta setiap desa secara mandiri mengolah sampah sehingga mengurangi sampah yang dibuang di TPA. Sampah organik diarahkan untuk dijadikan kompos, sementara yang anorganik akan dipilah lagi mana yang bisa didaur ulang dan mana yang menjadi residu.
“Kudus ini kami dorong menjadi role model. Kalau masyarakat sudah bisa memilah sampah, maka persoalan pengelolaan sampah bisa selesai dari rumah, seperti yang dilakukan di desa Jati Kulon ini. Harapannya Kudus ini kita jadikan contoh baik bagi daerah-daerah lain,” ujarnya.
Namun, sebagaimana disampaikan oleh Direktur Program BLDF, Jemmy Chayadi, keberhasilan teknologi tetap bergantung pada partisipasi masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Waspada Godzilla El Nino! Ini Cara Tepat Pakai Sunscreen Agar Kulit Tidak Gosong
-
Kenapa Harga Plastik Naik? Ternyata Ini 'Biang Kerok' di Balik Layar
-
Apakah Sunscreen Bisa Memutihkan Wajah? Ini 6 Rekomendasi Terbaik Bikin Kulit Glowing
-
Apa Bedanya Jumat Agung dan Paskah? Bukan Hari Biasa, Ini Maknanya
-
6 Shio Paling Hoki pada 3 April 2026, Siapa Saja yang Beruntung Besok?
-
3 Bedak Tabur Wardah untuk Kulit Sawo Matang agar Makeup Tidak Abu-Abu
-
Diklaim Ramah Lingkungan, Ekowisata Justru Berisiko Gagal Redam Emisi Karbon Global: Mengapa?
-
Skincare Glad2Glow untuk Umur Berapa? Cek Panduan Lengkapnya di Sini
-
5 Bedak Murah yang Bagus dan Aman: Cocok untuk Sehari-hari, Mulai Rp20 Ribuan
-
Apakah SNBP Itu Beasiswa? Cek Penjelasan Lengkapnya Supaya Tidak Kaget