Suara.com - Maraknya konten tanpa filter di media sosial kerap membuat orang tua khawatir akan keamanan anak dalam berselancar di dunia digital. Hal tersebut menjadi tantangan bagi orang tua dalam mengedukasi anak agar menjangkau konten yang sesuai dengan usia mereka.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan orang tua supaya anak patuh terhadap peraturan berselancar di dunia digital yakni menjalin komunikasi secara intens. Selaras dengan itu, Isya Hanum Kresnadi selaku Goverment Affairs & Public Policy Manager Google Indonesia, mengatakan bahwa diskusi dengan anak mengenai standar konten yang layak dijangkau dan konten yang patut dihindari menjadi bagian penting bagi anak dalam berselancar secara online.
“Nah, di sinilah pentingnya diskusi pada anak tentang keamanan online, survey juga melihat bahwa sebenarnya mayoritas orang tua itu sudah cukup percaya diri untuk diskusi soal keamanan online.Maksudnya apa sih, mungkin diskusi tentang konten apa sih yang gak boleh ditonton, konten apa sih yang harus dihindari,” kata Isya Hanum Kresnadi selaku Goverment Affairs & Public Policy Manager Google Indonesia saat berdiskusi di Urban Forest Cipete, Selasa (1/7/2025).
Lebih lanjut, Hanum memaparkan bahwa Google turut memfasilitasi fitur Tangkas Berinternet untuk membantu orang tua berkomunikasi dengan anak mengenai peraturan berselancar di dunia digital. Fitur ini akan memandu orang tua dalam mengedukasi anak terkait cara menjelajahi internet dengan aman.
Adapun cara mengkomunikasikan aturan yang dibuat para orang tua supaya efektif kepada anak-anak dalam keamanan berselancar di dunia digital menurut Saskhya Aulia Prima selaku Psychologist and Founder of @tigagenerasi yakni:
1. Melakukan pembiasaan sejak kecil
Dengan adanya rutinitas yang dibangun sedini mungkin dapat membentuk anak dalam memenuhi arahan orang tua, seperti konten yang layak untuk ditonton atau tidak.
2. Membuat aturan mengenai screen time
Orang tua perlu membuat peraturan mengenai screentime anak-anak agar mereka tidak adiktif, seperti halnya tidak memberikan screentime di waktu maupun ruang tertentu, contohnya ruang makan dan kamar tidur.
Baca Juga: Kepala PCO Klaim Terima Dikritik Koalisi Cek Fakta, Tapi...
3. Melakukan diskusi sebelum membuat aturan
Para orang tua patut melibatkan anak dalam membuat peraturan ketika berselancar di dunia digital. Hal ini dilakukan supaya anak mengetahui konsekuensi yang mereka terima apabila melanggar dan membantu orang tua memahami keinginan anak yang kemudian terbentuk aturan yang ideal bagi orang tua maupun anak.
Selain itu, komunikasi secara intens mengenai pengalaman berselancar di dunia digital tetap perlu dilakukan meskipun anak-anak sudah beranjak dewasa. Dalam rentang usia tersebut, diskusi antara orang tua dan anak justru menjadi lebih berat mengenai batasan mereka dalam berselancar secara online.
Anak yang tengah beranjak dewasa memiliki intelegensi yang tinggi sehingga beberapa dari mereka sering bernegosiasi mengenai peraturan ketika berselancar di dunia digital dengan orang tua. Maka dari itu, orang tua perlu memahami keinginan anak terlebih dahulu kemudian memutuskan peraturan seperti apa yang nantinya akan diterapkan.
“Yang penting tujuannya, oke anak ini bilang mau bikin konten atau mau bikin laporan atau mau bikin bisnis, maka kita mintalah outputnya,” kata Saskhya Aulia Prima selaku Psychologist and Founder of @tigagenerasi saat berdiskusi di Urban Forest Cipete, Selasa (1/7/2025).
Oleh karena itu Saskhya turut menyampaikan bahwa dalam mewujudkan ruang aman bagi anak dalam berselancar di dunia digital, dapat dilakukan dengan mencari pendekatan komunikasi yang sesuai dengan anak Anda. Hal ini dikarenakan para orang tualah yang paling mengetahui karakteristik anak mereka seperti apa.
(Himayatul Azizah)
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan
-
22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing
-
Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
Prabowo Tak Main-Main! Bidik 4 Korporasi di Balik Karhutla Kalimantan, Izin Bakal Dicabut