- KPF mengungkap massa terorganisir dan terorkestrasi dalam demonstrasi Agustus lalu, dipimpin mobil mewah.
- Massa suruhan dari Jabodetabek dan Jawa Barat diiming-imingi jarahan serta diminta menyiapkan bom molotov.
- KPF mendesak polisi menyelidiki dalang pergerakan massa yang diduga melakukan penjarahan anggota DPR RI.
Suara.com - Komisi Pencari Fakta (KPF) yang dibentuk oleh Koalisi Masyarakat Sipil untuk mengungkap temuan dalam demonstrasi bulan Agustus lalu, menemukan tentang adanya massa suruhan dalam aksi.
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) M Isnur mengatakan, dalam rangkaian investigasi yang dilakukan oleh pihaknya, ditemukan massa suruhan yang teroganisir sangat rapih dalam aksi demonstrasi Agustus lalu.
EKSKLUSIF SUARA: BOCAH-BOCAH DI SARANG POLISI: ASAL TANGKAP PERKARA AKSI AGUSTUS
“Kami justru menemukan dalam rangkaian investigasi kami terdapat massa suruhan, massa yang kemudian terorkestrasi bahkan dipimpin oleh ada mobil gitu ya Mercedes-Benz dan lain-lain,” kata Isnur, di Kantor ICW, Jakarta Selatan, Rabu (18/2/2026).
Massa tersebut, datang dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandungm Cimahi, Cianjur, dan Sukabumi. Mereka mau melakukan aksi dalam rangkaian demo Agustus lalu, lantaran diming-imingi barang jarahan yang diorganisir.
EKSKLUSIF SUARA: CINTA DAN JARI YANG PATAH DI UTARA JAKARTA
Tak hanya itu, sejumlah dari massa yang tergabung itu juga diminta untuk menyiapkan molotov untuk mewarnai aksi mereka.
“Mereka datang dari Jakarta, dari Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Cimahi, Cianjur, dan Sukabumi. Terdapat pula mereka yang nyiapin molotov,” kata Isnur.
EKSKLUSIF SUARA: BUKU PUTIH KAUM ANARKIS
Baca Juga: Eko Patrio dan Keluarga 'Siap' Kembali ke Rumah, Pasca Penjarahan 6 Bulan Lalu
Isnur menyampaikan, seharusnya pihak kepolisian melakukan investigasi terkait pergerakan yang mereka lalukan dan membongkar dalang yang menggerakan mereka.
“Justru mereka inilah yang harusnya diinvestigasi lebih lanjut siapa koordinatornya, siapa pelaksananya, siapa titik-titik simpulnya, bertemu di mana, menggunakan kendaraan bermotor sangat konvoi rapi ke sana ke mari,” ujarnya.
Kelompok ini juga disinyalir menjadi pelaku penjarahan di beberapa rumah para anggota DPR RI, mulai dari Sahroni, Uya Kuya, Eko, Nafal Urba sampai eks Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Isnur mengaku, jika pihak kepolisian memiliki niat untuk membongkar siapa dalang di balik aksi penjarahan tersebut maka bisa dilakukan dengan mudah. Sebab, wajah para pelaku sempat terekam dengan jelas.
“Itu sangat mudah ditelusuri gitu, gambar-gambarnya ada, videonya ada, orang-orangnya terekam dengan video. Harusnya mereka yang ditelusuri, dan bukan hanya pelaku lapangan,” ungkapnya
“Sekarang kan banyak tersangka pelaku lapangan belasan ya di tiap-tiap penjarahan tapi siapa yang memimpin mereka, siapa yang mengarahkan mereka itu harusnya dibawa ke ranah hukum agar terbukti bagaimana penjarahan terjadi,” imbuhnya menandaskan.
Diketahui bersama, Koalisi Pencari Fakta (KPF) Kerusuhan Agustus 2025 ini dibentuk oleh koalisi masyarakat sipil. Di dalamnya terdapat Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sebagai penanggung jawab.
KPF melakukan penelusuran independen terhadap 115 berkas pemeriksaan kepolisian, ribuan data sumber terbuka, 63 informan, serta jejak peristiwa di 8 provinsi, 18 kota, dan 3 lokasi di luar negeri sejak September 2025 hingga Februari 2026.
Laporan ini menjawab empat mandat utama, yakni mencari penyebab demonstrasi dan eskalasi kekerasan, memetakan aksi dan respons para pihak, mengidentifikasi pola serta faktor pemicu dan akselerator, serta menelaah akuntabilitas atas peristiwa yang terjadi.
Berita Terkait
-
Eko Patrio dan Keluarga 'Siap' Kembali ke Rumah, Pasca Penjarahan 6 Bulan Lalu
-
Tiba-tiba Purbaya Singgung Demo Besar dan Penjarahan Rumah Sri Mulyani
-
Uya Kuya Selesaikan Tesis Hanya dalam Waktu 3 Bulan, Masuk Akal?
-
Pastikan Tak Ada Lagi Warga Ditahan Terkait Penjarahan di Sumut, Kapolri: Mereka Hanya Butuh Makanan
-
Menteri PMK Bantah Penjarahan Beras di Sibolga: Bantuan untuk Warga Banjir, Bukan Kerusuhan
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Darurat Korupsi! Golkar Desak Evaluasi Total Rekrutmen Kepala Daerah Usai OTT Beruntun
-
Mulut Dimasukkan Sepatu! Viral Pengakuan Manajer Bank Ngaku Disiksa Atasan
-
Sita 74 Kg Emas dan Valas Rp476 Miliar, Kortas Tipidkor Polri Bongkar Brankas Rahasia di Sentul
-
Gebrakan RUU Sisdiknas: Wajib Belajar Kini 13 Tahun, Termasuk 1 Tahun di PAUD
-
Usai Cafe de'CLAN Signature, Polisi Sita 74 Kg Emas dan Ratusan Miliar Hasil TPPU di Sentul City!
-
Geledah Rumah Mewah di Sentul City Bogor, Polisi Diduga Sita Emas Hingga Mata Uang Asing
-
Rumah Mewah di Sentul City Digeledah Polisi Tengah Malam, Diduga Milik Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Meluas ke 12 Titik! Polisi Geledah Pacific Place hingga Rumah Mewah di Sentul Terkait Kasus TPPU
-
Bahaya State Capture, Pakar Ungkap Cara Militer 'Kuasai' Negara Lewat Jalur Legal
-
Jejak Densus 88 Kuntit Jampidsus di Cafe de'CLAN Signature: Kini Ditemukan Brankas Dolar Rp67 M!