Lifestyle / Female
Minggu, 12 Oktober 2025 | 17:55 WIB
Koleksi Athleisure Lokal Ryse and Shyne (Suara.com/Vania)
Baca 10 detik
  • Koleksi athleisure terbaru menekankan kenyamanan, fleksibilitas, dan gaya, cocok digunakan baik saat bergerak maupun aktivitas luar rumah.

  • Koleksi ini hadir dengan semangat body neutrality, mendorong perempuan menerima tubuhnya, fokus pada kekuatan, dan menumbuhkan self-appreciation.

  • Selain fashion, inisiatif ini terhubung dengan komunitas yang mendukung kesehatan mental, pemberdayaan perempuan, dan diskusi seputar penerimaan diri.

Suara.com - Koleksi athleisure kini dirancang agar fleksibel, mengikuti bentuk tubuh, sekaligus tetap stylish untuk dikenakan di luar gym. Pendekatan ini menekankan pentingnya kenyamanan, fungsi, dan ekspresi diri melalui fashion yang inklusif bagi berbagai bentuk tubuh.

Ryse and Shyne, athleisure lokal premium, resmi meluncurkan koleksi perdananya. Didesain dengan bahan berkualitas tinggi yang lembut, elastisitas empat arah, dan cutting presisi yang menyesuaikan dengan bentuk tubuh saat beraktivitas, Ryse and Syne menghadirkan kenyamanan layaknya second skin, sekaligus inklusif untuk berbagai ukuran.

Desain koleksi dirancang dengan gaya casual-elegant, yang tidak hanya membuatnya sangat nyaman ketika digunakan saat bergerak, tetapi juga stylish untuk dikenakan saat aktivitas di luar.

Palet warna koleksi perdana ini hadir dalam hitam, cokelat, dan biru yang timeless, serta limited edition untuk pink yang playful. Koleksi perdana ini hadir dengan semangat merayakan body neutrality.

Koleksi Athleisure Lokal Ryse and Shyne (Suara.com/Vania)

“Sejak awal, Ryse and Shyne dirancang bukan hanya sebagai athleisure, tetapi juga sebagai ruang aman bagi perempuan untuk merasa nyaman dengan dirinya sendiri," jelas Felicia Kawilarang, Founder & CEO Ryse and Shyne.

Lewat Ryse and Shyne, Felicia ingin setiap perempuan bebas berekspresi, lepas dari stigma yang melekat, dan mencintai diri dengan segala kekuatan serta kelembutannya.

"Sama halnya dengan body neutrality, yang mengajarkan kita untuk menerima tubuh dengan kasih sayang, sambil tetap menghargai apa yang mampu dilakukan tubuh kita, bukan hanya bagaimana penampilannya,” katanya.

Ryse and Shyne berawal dari komunitas yang ditujukan untuk mendukung kesehatan mental dan pemberdayaan perempuan.

Terdapat lebih dari 2.000 Risers (anggota komunitas Ryse and Shyne) yang tergabung lewat komunitas yang dibentuk pada bulan Mei 2025.

Baca Juga: Auto Ganteng Maksimal! 3 Ide Outfit Keren ala Mas Bree yang Bisa Kamu Tiru

Ryse and Shyne bersama para anggotanya aktif berbagi cerita dengan berbagai topik, seperti negative self talk, mental wellness, penerimaan diri, hingga body positivity dan neutrality.

Seluruh koleksi activewear Ryse and Shyne dirancang dengan penuh makna. Proses pengembangan koleksi ini memakan waktu satu tahun, perjalanan cukup panjang untuk memastikan bahan yang dipilih, teknik jahitan, hingga detail presisi di setiap desain item hadir dengan kualitas terbaik.

Keseluruhan proses tersebut tidak hanya ditujukan untuk mendukung gerak perempuan, tetapi juga memberi kekuatan agar dapat memulai, bangkit, menemukan, dan mencintai dirinya sendiri.

Koleksi yang Merayakan Body Neutrality

Dalam kaitan konsep body neutrality, setiap perempuan setidaknya pernah merasa kurang percaya diri atas penampilannya.

Ada yang cenderung menyalahkan diri sendiri sehingga terpuruk atau sebaliknya, justru menerima dan mencintai diri sendiri namun secara berlebihan, sehingga mengarah kepada toxic positivity.

Dari dua kondisi tersebut, body neutrality hadir untuk merangkul hal itu, menjadi penengah diantara pandangan mencintai atau membenci tubuh sendiri.

Istilah body neutrality mulai dipopulerkan oleh Anne Poirier, seorang konselor spesialisasi pola makan intuitif (intuitive eating) serta gangguan makan.

Dalam bukunya yang berjudul The Body Joyfull, Poirier menekankan bahwa kita tidak perlu mencintai tubuh kita secara berlebihan (unconditionally love) atau membencinya, melainkan kita dapat memilih untuk merasa netral terhadapnya.

Poirier menyarankan untuk fokus pada apresiasi tubuh, mengganti pembicaraan negatif tentang tubuh dengan pernyataan netral tentang tubuh, serta fokus pada kekuatan (kualitas intrinsik) sebagai cara untuk menumbuhkan body neutrality.

Cara sederhana yang bisa dilakukan terkait dengan body neutrality, yakni self talk atau berbicara kepada diri sendiri secara positif mengenai kemampuan tubuh.

Misalnya, meskipun tubuh saya berbeda dengan orang kebanyakan, tapi saya sehat dan bisa beraktivitas dengan baik.

Selanjutnya, bisa juga melakukan olahraga dan aktivitas fisik yang menyenangkan, sehingga tubuh tidak merasa terpaksa dan bisa menikmati prosesnya dengan lebih baik.

Content Creator, Tirta Usada Practitioner, and Women’s Wellness Advocate Andra Alodita ikut berbagi pengalamannya terkait body neutrality.

“Buat saya, rasa nyaman dan mencintai diri sendiri itu bisa dibilang life goal. Kita sering terjebak pada label–sebagai ibu, perempuan karier, istri–yang tanpa sadar membatasi gerak dan mempengaruhi cara kita berpenampilan. Penampilan itu bisa jadi cara saya mengekspresikan diri, bukan sumber tekanan,” katanya.

Load More