Sebaliknya, ibu jari dengan ujung ke bawah berarti musuh berhak menghabisi nyawa seorang petarung yang telah lumpuh.
Konon, gestur tersebut dipercayai dibawa oleh peradaban Romawi di luar pertandingan gladiator.
Jempol ke atas akhirnya menjadi simbol afirmasi positif atau respon setuju terhadap suatu hal.
Mendarah daging di DNA manusia
Ada juga teori yang menyatakan bahwa memang pose jempol sebagai afirmasi positif telah mendarah daging di DNA manusia sebagai spesies yang cerdas.
Manusia punya kecenderungan secara insting untuk mengangkat ibu jari mereka ketika hendak menyetujui sesuatu.
Teori tersebut diteliti oleh zoolog dan etolog Desmond Morris dalam bukunya Gestures: Their Origins and Distribution.
Buku tersebut menelusuri praktik mengangkat jempol kembali ke kebiasaan abad pertengahan yang digunakan untuk menyegel transaksi bisnis.
Simbol angkat jempol menandakan bahwa seorang pedagang setuju untuk melakukan transaksi dengan kesepakatan yang ia buat dengan klien atau pedagang lain.
Baca Juga: Bocor, Apa Isi Percakapan Prabowo dan Trump yang Jadi Sorotan Media Inggris?
Seiring waktu, jempol yang terangkat mulai melambangkan keharmonisan dan perasaan baik, yang berasal dari penyegelan kesepakatan.
Dipakai kala perang
Simbol atau gestur angkat jempol juga menjadi lambang dari kata 'oke' yang dipakai pada Perang Dunia I dan II.
Buku Over the Top karya Arthur Guy Empey menjelaskan bahwa acungan jempol adalah ungkapan tentara Inggris "Tommy's expression" yang berarti "semuanya baik-baik saja" "everything is fine with me".
Tak semua budaya memandang pose jempol positif
Berkaca dari beberapa sumber historis di atas, pose jempol berarti setuju atau suka dengan sesuatu.
Penting untuk diingat bahwa di beberapa negara seperti Iran, Irak, Afghanistan, dan beberapa bagian Afrika Barat menganggap acungan jempol sebagai penghinaan kasar yang setara dengan mengacungkan jari tengah di budaya Barat.
Alhasil, pose ini harus dipakai sesuai dengan kebudayaan dan peradaban tempat tertentu.
Kontributor : Armand Ilham
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Shin Tae-yong Resmi Dihukum 10 Tahun, Bagaimana Nasibnya di Persija Jakarta?
- 4 Zodiak yang Diprediksi Hidup Lebih Tenang dan Damai di Akhir Juli 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Penyelundupan Sabu 2 Kg dari Aceh ke Jakarta Gagal di Bandara Pekanbaru
-
Mencekam! Buaya Situ Habibi Sukabumi Terekam Menerkam Anak Sapi di Depan Wisatawan
-
Hari Mangrove Sedunia, Kilang Plaju Perkuat Komitmen Lestarikan Ekosistem Pesisir
-
Dari Gurih hingga Pedas, Menu Flavor Shake-Up Ajak Pecinta Kuliner Eksplorasi Beragam Rasa
-
Kejagung Jangan Berhenti di Febrie Adriansyah, Aktor Intelektual Harus Diburu
-
Port FC Petik Tiga Poin, Sarawut Treephan Sebut Kemenangan atas PSMS Jadi Modal Penting
-
Review Dikichi Kediri: Sensasi Crispy Hot Chicken yang Renyahnya Bikin Nagih!
-
Napi Lapas Pekanbaru Belum Ditemukan, Kabur saat Ambil Obat di Apotek
-
Dihukum 10 Tahun oleh KFA, Shin Tae-yong Tetap Tangani Persija
-
Perkuat Sektor Wing Back, Kendal Tornado FC Datangkan Eks Pemain Timnas U-19