- Generasi pekerja kini mengutamakan kedekatan ruang kerja dengan tempat tinggal, bukan lagi prestise lokasi kantor di pusat kota Jakarta.
- Bekerja dekat rumah menawarkan keseimbangan hidup lebih lentur, efisiensi waktu signifikan, serta peningkatan kesehatan mental pekerja.
- Kawasan penyangga seperti Tangerang kini menjadi ekosistem urban lengkap yang menawarkan peluang karier dan integrasi ruang bisnis dengan alam.
Suara.com - Bagi generasi pekerja terdahulu, alamat kantor prestisius di pusat bisnis Jakarta sering kali menjadi simbol kesuksesan, meskipun harus ditebus dengan perjalanan panjang menembus kemacetan setiap hari. Namun, narasi tersebut kini berubah drastis. Bagi pekerja urban masa kini, prestise bukan lagi soal lokasi kantor, melainkan seberapa banyak energi dan waktu yang tersisa di penghujung hari untuk kehidupan pribadi.
Fenomena ini terlihat jelas di kawasan penyangga seperti Tangerang Raya. Batas antara tempat tinggal, bekerja, dan bersosialisasi kian memudar. Kawasan yang dulunya hanya asrama bagi para komuter, kini dipenuhi ruang kerja bersama, perkantoran skala menengah, kafe, hingga fasilitas gaya hidup yang lengkap.
Konsep hidup serba dekat ini menawarkan ritme baru yang lebih manusiawi. Mengapa bekerja dekat rumah kini menjadi pilihan hidup yang semakin masuk akal dan dicari? Berikut adalah lima alasan utamanya:
1. Keseimbangan Hidup yang Lebih Mengalir
Bekerja dekat rumah mengubah definisi work-life balance. Alih-alih memisahkan secara kaku antara jam kantor dan waktu pribadi, pekerja kini menggabungkannya dengan lebih lentur (fluid). Selesai rapat, mereka bisa berpindah ke kafe terdekat. Usai jam kerja, aktivitas sosial tidak menuntut perjalanan panjang.
Di Gading Serpong, ekosistem seperti ini sudah terbentuk matang. Direktur Paramount Land, Chrissandy Dave, menyebut bahwa kawasan ini telah bertransformasi menjadi ekosistem kehidupan urban yang lengkap.
“Paramount Gading Serpong terus berkembang sebagai ekosistem kehidupan urban yang lengkap, tempat di mana masyarakat tinggal, bekerja, berinteraksi, dan bertumbuh bersama,” ujarnya.
2. Efisiensi Waktu: Bukan Lagi Dikejar Macet
Dampak paling nyata dari bekerja dekat rumah adalah efisiensi waktu. Jam-jam yang sebelumnya hangus di jalan tol kini bisa dialihkan untuk hal yang lebih bermakna: sarapan tenang bersama keluarga, menjemput anak sekolah, atau berolahraga pagi sebelum meeting.
Baca Juga: Workplace Bullying: Silent Treatment dan Pekerjaan Tidak Adil Dinormalisasi
Efisiensi ini didukung oleh infrastruktur yang semakin terintegrasi. Aksesibilitas multi-jalur dan koneksi langsung ke jalan tol membuat mobilitas di kawasan penyangga menjadi sangat lancar. Tidak ada lagi stres akibat kemacetan berjam-jam menuju Jakarta.
3. Kesehatan Mental dan Produktivitas Meningkat
Lingkungan kerja sangat memengaruhi psikologis pekerja. Pemandangan beton dan kemacetan ibu kota sering kali memicu stres kronis. Sebaliknya, kawasan bisnis di kota mandiri kini menawarkan suasana yang lebih segar, sering kali terintegrasi dengan ruang terbuka hijau.
Suasana kerja yang lebih rileks, minim polusi suara, dan akses mudah ke fasilitas rekreasi di sela jam kerja terbukti mampu menjaga kesehatan mental dan meningkatkan produktivitas kreatif.
4. Peluang Bisnis dan Karier yang Terbuka Lebar
Mitos bahwa karier cemerlang hanya ada di Jakarta sudah terpatahkan. Pertumbuhan ekonomi di kawasan penyangga sangat pesat. Data dari Gading Serpong Update mencatat lebih dari 1.464 bisnis baru dibuka selama tahun 2025 di kawasan tersebut.
Mulai dari startup, ritel modern, hingga korporasi besar kini membuka kantor satelit atau cabang di wilayah seperti Gading Serpong. Peluang kerja dan usaha terbuka lebar tanpa harus pergi jauh.
“Kawasan ini bertransformasi menjadi ekosistem bisnis berskala besar, sekaligus pusat ekonomi, sosial, dan gaya hidup yang dinamis,” tambah Chrissandy.
5. Integrasi Bisnis dan Ruang Hijau: Bekerja Sambil Merawat Lingkungan
Alasan terakhir, tren bekerja dekat rumah didukung oleh desain kawasan yang semakin ramah lingkungan. Kawasan bisnis modern tidak lagi didominasi hutan beton, melainkan mulai merangkul konsep yang menyatukan ruang usaha dengan alam terbuka.
Salah satu manifestasi nyata dari konsep ini adalah kawasan Maggiore Signature East di Gading Serpong. Mengusung tema ‘Premium Business, Natural Vibes’, kawasan ini mengintegrasikan area komersial dengan Maggiore Hills Park, sebuah ruang terbuka hijau seluas 2,3 hektare di tepian Situ Cihuni.
Henry Napitupulu, Direktur Planning & Design Paramount Land, menjelaskan bahwa desain bangunan di sini sengaja dibuat terbuka untuk merespons kebutuhan lingkungan.
“Area komersial ini dilengkapi double facade yang menghadap taman untuk memaksimalkan potensi lokasinya, serta koridor terbuka street gallery,” ujar Henry.
Dengan fasilitas seperti jogging track dan area pejalan kaki yang asri, aktivitas ekonomi tidak lagi memisahkan manusia dari alam. Bekerja di kawasan seperti ini memungkinkan interaksi yang lebih sehat dengan lingkungan, memberikan jeda berkualitas di tengah kesibukan bisnis.
Kesimpulannya, ketika kantor, kafe, dan rumah berada dalam satu radius yang asri, bekerja tidak lagi terasa sebagai beban perjalanan yang melelahkan. Di tengah padatnya ritme kota modern, kedekatan ruang justru memberi jarak yang sangat dibutuhkan untuk bernapas dan menikmati hidup.
Berita Terkait
-
Aksi Buang Sampah Warnai Protes di Kantor Wali Kota Tangsel
-
Kenapa Penerima Bansos di Kantor Pos Harus Foto Diri dengan KTP dan KK? Ini Penjelasan Dirut PT Pos
-
BLTS Rp 900 Ribu di Aceh Tamiang Disalurkan Manual, Kantor Pos Masih Rusak Pascabencana
-
Hari Terakhir Pencairan BLTS Rp900 Ribu, Kantor Pos Buka hingga Tengah Malam
-
Kejar Tayang: Pemerintah Pastikan 17 Juta KPM Terima BLT Kesra Rp900 Ribu Via Kantor Pos
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Inspiratif, Kisah Suli dan Komunitas TWS Gagas Bantuan Seumur Hidup untuk Guru Honorer di NTT
-
7 Program Mudik Gratis Lebaran 2026 dengan Kuota Terbanyak, Aman Buat War Tiket!
-
Kampung Ramadan Wedomartani, DRW Skincare Hadirkan Berbagi dan Pemberdayaan UMKM
-
6 Sepatu Sandal Unisex Paling Nyaman dan Stylish untuk Acara Ramadan
-
Jadwal Pengisi Ceramah Tarawih di Masjid Kampus UGM, Akhir Pekan Ada Menkeu Purbaya
-
THR Lebaran 2026 Karyawan Swasta Paling Lambat Tanggal Berapa? Simak Ketentuannya
-
Lengkap! Jadwal Menu Buka Puasa dan Sahur Gratis di Masjid Kampus UGM Selama Ramadan
-
Jejak Pendidikan Alex Noerdin: Pernah Ikut Program Harvard hingga Kena Kasus Korupsi
-
Parfum Siang vs Malam: Beda Waktu, Beda Aura, Beda Karakter Wangi
-
10 Link Daftar Mudik Gratis Lebaran 2026 Terbaru Masih Buka, Buruan Daftar Kuota Terbatas