-
Budaya patriarki disebut memicu ketimpangan kuasa yang memudahkan praktik child grooming.
-
Anak sering dididik menjadi penurut sehingga kehilangan kesadaran akan batasan diri.
-
Pola pikir sosial cenderung menyalahkan korban dan memaklumi perilaku predator laki-laki.
Suara.com - Istilah child grooming tengah menjadi pembahasan yang hangat di media sosial, setelah Aurelie Moeremans mengungkapkan kisahnya mengalami grooming lewat buku Broken Strings.
Kisahnya tersebut seketika menyadarkan publik fenomena child grooming atau upaya mendekati anak di bawah umur untuk tujuan eksploitasi seksual masih menjadi ancaman nyata.
Namun, banyaknya praktik ini bukan hanya soal kejahatan individu, melainkan ada peran budaya patriarki yang ikut andil.
Psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo, mengungkapkan bahwa sistem sosial patriarki menciptakan lingkungan yang sangat mendukung bagi para predator untuk beraksi.
Lewat cuitan di akun Threads-nya, Anastasia Satriyo membedah bagaimana budaya patriarki ini bisa membungkam korban dan melindungi pelaku.
"Kenapa budaya dan mindset patriarki itu melanggengkan child grooming? Ada penjelasan ilmiah dan sistematis dari sisi psikologi," tulis Anastasia Satriyo pada akun Threads-nya, Selasa 13 Januari 2026.
Berikut ini, 6 alasan budaya patriarki menjadi salah satu faktor yang bisa membuat pelaku lebih leluasa melakukan child grooming menurut Anastasia Satriyo.
1. Menciptakan Ketimpangan Kuasa yang Dianggap Wajar
Patriarki adalah sistem sosial yang memberikan kuasa lebih besar kepada laki-laki dewasa dan menempatkan perempuan serta anak-anak sebagai pihak yang harus patuh.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Minyak Kemiri untuk Menghitamkan Uban dan Menyuburkan Rambut
Dalam psikologi sosial, grooming selalu terjadi karena adanya ketidakseimbangan kuasa.
Anastasia Satriyo mengatakan budaya patriarki justru menormalisasi ketimpangan ini, sehingga relasi yang tidak setara antara orang dewasa dan anak seringkali dianggap wajar dan bukan hal yang berbahaya.
2. Anak Diajarkan Penurut Bukan Sadar Batasan
Di dalam budaya patriarki, anak-anak sering dididik untuk selalu taat pada orang dewasa tanpa diberi ruang untuk berpikir kritis.
Anak yang berani protes atau berkata tidak sering kali dianggap kurang ajar.
"Jika sistem sosial mengajarkan 'orang dewasa selalu benar', maka alarm internal anak untuk mendeteksi bahaya akan melemah," jelas Anastasia.
Berita Terkait
-
Buku Broken Strings Aurelie Moeremans Baca di Mana? Ini Link yang Resmi dan Gratis
-
Roby Tremonti Desak Aurelie Moeremans Bongkar Identitas Sosok Bobby di Memoar Broken Strings
-
Beda dengan Cerai, Apa Itu Annulment dan Status Liber yang Diperoleh Aurelie Moeremans?
-
Kenapa Pelaku Child Grooming Sering Denial? Psikolog Anak Ungkap 10 Pola Pikir Ini
-
Usai Baca Buku Aurelie Moeremans, Jessica Iskandar Ungkap Cerita Pribadi
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Nasabah Berkesempatan Nikmati Cashback dan Promo Serba 70 melalui QRIS D-Bank PRO
-
Blak-blakan Menkeu Purbaya Akui Utang Negara Bertambah
-
Komjen Rudi Setiawan Resmi Dilantik Jadi Irjen Kemenimipas, Ini Rekam Jejaknya
-
Mari Rayakan HUT ke-70 Danamon di Pontianak dengan Hidangan Serba Rp70 Pakai QRIS D-Bank PRO
-
Thomas Tuchel: Inggris Siap Bertarung Hadapi Argentina yang Sarat Emosi
-
PSI Klaim Jokowi Effect Mulai Terasa, 6.000 Warga Lampung Daftar Jadi Anggota
-
HUT ke-70 Danamon, Nasabah di Balikpapan Bisa Nikmati Hujan Promo di Banyak Merchant Favorit
-
Puas Belanja Online, Fajar Sadboy Bertransformasi Jadi Happyboy
-
Demi Belajar Mengaji, Driver Ojol Yogyakarta Rela Tinggalkan Order Dua Jam Setiap Rabu
-
Semifinal Memanas, Wakil Presiden Argentina Singgung Konflik Falkland Jelang Lawan Inggris