Lifestyle / Komunitas
Rabu, 14 Januari 2026 | 14:50 WIB
buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans (Instagram.com/aurelie)
Baca 10 detik
  • Psikolog Anastasia Satriyo ungkap 10 pola pikir menyimpang pelaku child grooming.

  • Pelaku sering memanipulasi tindakan eksploitasi dengan kedok rasa sayang dan perhatian.

  • Memahami cara berpikir pelaku penting untuk mencegah praktik menyalahkan korban.

Suara.com - Kasus child grooming yang dialami Aurelie Moeremans sewaktu usia 15 tahun dan dituangkan dalam bukunya Broken Strings masih menjadi perbincangan hangat.

Kisah Aurelie Moeremans itu mungkin membuat sejumlah orang bertanya-tanya mengapa pelaku child grooming sering kali denial atau tidak merasa perbuatannya salah.

Psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo melalui cuitannya di Threads menjelaskan adanya mekanisme cognitive distortions atau cara berpikir yang menyimpang di kepala para pelaku child grooming.

"Ini bukan pembelaan pelaku, tapi penjelasan bagaimana pikiran pelaku 'memoles' perilaku salah agar terasa wajar di kepalanya," tegas Anastasia Satriyo dalam unggahannya, Selasa 13 Januari 2025.

Anastasia Satriyo mengatakan memahami pola pikir ini dianggap penting untuk deteksi dini dan menghentikan kebiasaan menyalahkan korban atau victim-blaming.

Berikut ini, 10 bentuk pembenaran diri yang sering digunakan pelaku child grooming menurut psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo.

Penjelasan psikolog anak soal pola pikir pelaku child grooming (Threads/@anassatriyo)

1. Menganggap Eksploitasi sebagai Bentuk Sayang

Anastasia Satriyo mengatakan pelaku sering mengganti makna tindakannya yang manipulatif menjadi narasi perhatian.

Mereka merasa hanya menjadi sosok yang peduli pada korbannya saat orang lain tidak ada.

Baca Juga: Tips Memilih Sepatu Jalan Nyaman untuk Orang Tua, Ini 5 Rekomendasi yang Gak Bikin Pegal

Padahal, kasih yang sehat tidak menciptakan ketergantungan atau rasa takut.

2. Menganggap Diamnya Korban sebagai Persetujuan

Anastasia Satriyo juga mengatakan banyak pelaku child grooming menilai diamnya korban yang masih di bawah umur sebagai tanda persetujuan atas perilakunya.

Padahal, diamnya anak bukan berarti dirinya setuju dalam ilmu psikologi.

Fakta ilmiah menunjukkan bahwa remaja sering mengalami kondisi freeze atau membeku atau patuh, karena bingung dan takut.

3. Pelaku Biasanya Merasa Beda dari Predator Lain

Load More