Salah satu ciri utama saham blue chip adalah memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar, umumnya di atas Rp40 triliun. Kapitalisasi pasar mencerminkan nilai perusahaan jika dibeli secara keseluruhan. Semakin besar kapitalisasi, semakin kecil peluang harga saham dimanipulasi oleh pihak tertentu.
Dalam klasifikasi umum, saham dengan kapitalisasi di atas Rp10 triliun sudah termasuk kategori besar. Sementara itu, saham dengan kapitalisasi Rp500 miliar hingga Rp10 triliun masuk kategori lapis dua, dan di bawah Rp500 miliar tergolong saham lapis tiga.
2. Likuiditas Tinggi
Saham blue chip dikenal sangat likuid, artinya mudah diperjualbelikan di pasar. Tingginya likuiditas biasanya didukung oleh jumlah saham yang beredar di publik (free float) serta tingginya minat investor. Saham jenis ini umumnya sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia selama minimal lima tahun.
3. Pemimpin di Sektor Industri
Perusahaan dengan saham blue chip biasanya merupakan market leader di sektornya. Produk atau jasanya telah dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional, dan perusahaan tersebut telah beroperasi selama puluhan tahun.
4. Fundamental Perusahaan Kuat
Saham blue chip memiliki fundamental keuangan yang solid. Kinerja keuangan perusahaan cenderung stabil dan menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dalam jangka panjang, meskipun pasar sedang bergejolak.
5. Dividen Konsisten
Baca Juga: Saham-saham Milik Konglomerat Terancam Aturan Free Float, Potensi Delisting?
Ciri penting lainnya adalah konsistensi pembagian dividen. Perusahaan blue chip umumnya membagikan dividen secara rutin selama bertahun-tahun, bahkan hingga lebih dari satu dekade. Hal ini mencerminkan kesehatan keuangan perusahaan serta komitmen manajemen terhadap pemegang saham.
6. Reputasi Perusahaan Baik
Perusahaan blue chip memiliki reputasi yang kuat, baik di dalam maupun luar negeri. Riwayat kinerja sahamnya dapat ditelusuri dengan jelas karena telah lama diperdagangkan di bursa.
Tips Memilih Saham Blue Chip
Memahami ciri-ciri saham blue chip saja belum cukup. Investor juga perlu menerapkan strategi yang tepat agar investasi memberikan hasil optimal.
Pertama, lakukan analisis fundamental secara rutin dengan mengevaluasi laporan keuangan perusahaan. Perhatikan rasio penting seperti Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) untuk menilai efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- 5 Mobil Toyota Dikenal Paling Jarang Rewel, Ideal untuk Mobil Pertama
- Denada Akhirnya Akui Ressa Anak Kandung, Bongkar Gaya Hidup Hedon di Banyuwangi
- 6 Moisturizer Pencerah Wajah Kusam di Indomaret, Harga di Bawah Rp50 Ribu
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
Pilihan
-
Pintu Langit Dibuka Malam Ini, Jangan Lewatkan 5 Amalan Kunci di Malam Nisfu Syaban
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
Terkini
-
7 Sepatu Lari Lokal Anti Air Senyaman On Cloud Ori, Harga Mulai Rp400 Ribuan
-
Cek Jadwal Libur Awal Ramadhan 2026 Anak Sekolah SD-SMA di Berbagai Provinsi!
-
7 Produk Wardah Hempas Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas, Kulit Jadi Cerah dan Muda Lagi
-
Bacaan Niat Puasa Nisfu Syaban Sekaligus Ayyamul Bidh, Ini Hukum Menggabungkannya
-
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
-
4 Moisturizer Lokal yang Mengandung Kolagen untuk Mengencangkan Kulit Kendur Usia 50-an
-
5 Cara Memutihkan Lutut dan Siku dengan Cepat, Tak Harus Pakai Produk Mahal
-
Body Serum vs Body Lotion, Mana yang Lebih Efektif Melembapkan dan Mencerahkan Kulit?
-
5 Produk Viva Cosmetics Terbaik Bikin Kulit Usia 40 ke Atas Awet Muda Lagi, Harga Rp10 Ribuan
-
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?