- Kelompok Tani Suka Maju di Sabu Raijua mengembangkan gula semut sebagai alternatif bernilai jual tinggi dibandingkan gula cair tradisional.
- Kelompok yang dipimpin Semuel Uly ini terkendala kapasitas produksi yang belum mampu memenuhi permintaan pasar ekspor dan hotel.
- Tantangan utama adalah kebiasaan masyarakat yang lebih menyukai produksi gula cair karena dianggap lebih praktis dan mudah.
Tantangan budaya dan preferensi terhadap gula cair
Meski memiliki potensi ekonomi tinggi, kelompok Tani Suka Maju masih harus berjuang melawan tantangan sosiokultural yang mengakar kuat. Nah, menurut Semuel, salah satu tantangan terbesar dalam proses pembuatan gula semut ini adalah budaya kerja masyarakat yang belum terbiasa bekerja dalam sistem kelompok.
“Masyarakat tidak terbiasa bekerja dalam kelompok. Ini menjadi tantangan utama kami,” ujar Semuel yang jujur mengakui tantangan signifikan di tengah beragam kekuatan dan peluang yang dimiliki kelompok Tani Suka Maju.
Semuel mengatakan model kerja berkelompok ini baru diterapkan masyarakat ketika mengumpulkan produk gula semut. Nah sementara itu, untuk produks gula semuti, proses pengolahan dan pemasaran masih dilakoni masyarakat secara individiual. Tak pelak, kondisi ini mengurangi efisiensi dan kualitas produk gula semut yang timpang serta tidak seragam.
Jarak tempat tinggal pun, menurut Semuel, menjadi tantangan tersendiri. Kekinian, ada dua anggota kelompok yang memiliki jarak tempat tinggal cukup jauh dari anggota lainnya. Nah, hal ini tentunya menyulitkan koordinasi hingga kegiatan bersama.
Tidak hanya kendala kerja sama tim, tantangan besar lainnya adalah cara pandang masyarakat. Sebagian besar masyarakat menganggap produksi gula semut terlalu menyita waktu. Sedangkan, gula cair tradisional lebih mudah diproduksi. Ada beberapa faktor yang membuat masyarakat berpikir seperti ini.
“Masyarakat lebih memilih produksi gula Sabu cair karena dianggap praktis. Proses produksi gula semut dianggap lebih rumit dibandingkan dengan produksi gula cair,” tutur Semuel.
Persepsi ini tentunya menjadi batasan psikologis yang menghambat masyarakat untuk beralih, bahkan menambah produksi gula semut, sebagai alternatif pendapatan. Padahal, gula semut memiliki nilai jual lebih tinggi dan daya simpan lebih tahan lama ketimbang gula cair.
Celakanya, ketergantungan terhadap gula cair ini juga mengancam keberlangsungan usaha gula semut. Ketika harga gula cair bagus atau permintaannya sedang meroket, masyarakat cenderung fokus untuk memproduksi gula cair. Sementara, produksi gula semut terabaikan.
Baca Juga: Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon
Berdasarkan data yang dihimpun dari beragam sumber, di pasar Nusa Tenggara Timur, harga gula semut lontar biasanya berkisar Rp 40.000 hingga Rp 60.000 per kilogram. Sementara, harga gula cair Rp 150 ribu per 5 liter atau setara dengan kurang lebih Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per liter atau kilogram.
Dukungan untuk para petani lontar
GEF SGP Indonesia mendukung komunitas petani lontar, di antaranya melalui peningkatan nilai tambah. Pihaknya membantu pengolahan gula sabu menjadi produk premium agar petani mendapatkan harga lebih adil untuk setiap panjatan berbahaya yang mereka lakukan.
“Selain itu, ada pula regenerasi ekosistem, yakni memastikan bahwa untuk setiap pohon yang dipanjat, bibit baru ditanam untuk generasi berikutnya. Kami juga menyoroti sisi keamanan dan inovasi. Dalam hal ini, menjajaki teknologi tepat guna yang dapat mengurangi beban fisik tanpa menghapus praktik budaya tersebut,” kata Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala.
Kerja yang dilakukan di Sabu Raijua di bawah GEF SGP Indonesia Fase 7, imbuh Sidi, merupakan cetak biru tentang bagaimana manajemen bentang alam berbasis masyarakat dapat berjalan. Dalam setetes gula cair emas khas Sabu, terdapat kisah ketangguhan, inovasi, dan harapan untuk masa depan yang berkelanjutan.
Berita Terkait
-
Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon
-
Menjaga Warisan Leluhur, Rahasia Ketangguhan Masyarakat Adat Jingitiu di Tanah Sabu
-
Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim
-
Evolusi Ekonomi Sabu Raijua, Mengubah Komoditas Lokal Menjadi Bisnis Hijau Inklusif
-
Kedaulatan Data dan Kearifan Lokal, Pondasi Sabu Raijua Hadapi Krisis Iklim Global
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!