- Fokus transformasi ekonomi Kabupaten Sabu Raijua mencakup ekonomi hijau, inklusi sosial, dan perlembagaan kebijakan publik.
- Kunci transisi ini terletak pada kemandirian dan kapasitas yang dimiliki masyarakat, bukan dari faktor luar.
- Dua skema pendanaan, ICCA dan BUMI, ditawarkan untuk mendukung kemandirian ekonomi masyarakat hingga Juni 2026.
Suara.com - Kabupaten Sabu Raijua berada di ambang transformasi ekonomi besar yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan inklusivitas. Ada tiga fokus utama yang digalakkan: transformasi ekonomi hijau, inklusi sosial serta perlembagaan kebijakan publik untuk mengunci keberlanjutan inisiatif masyarakat lokal.
Topik besar tersebut mengemuka dalam diskusi yang digelar Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua menggandeng Global Environment Facility Small Grants Programme Indonesia dan Yayasan Pikul. Acara dalam format focus group discussion (FGD) tersebut digelar di Gedung DPRD Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, Rabu (14/1/2026).
Dalam diskusi tersebut, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menekankan kunci transisi ini terletak pada kemandirian dan kapasitas yang dimiliki masyarakat, bukan dari faktor luar. Sidi pun merinci alasan tiga pilar utama tersebut menjadi fokus yang digalakkan dalam diskusi tersebut.
"Transformasi ekonomi ditekankan lewat pengembangan model bisnis berkelanjutan dan rantai nilai adil bagi komunitas penerima manfaat. Inklusi sosial menjadi prioritas untuk memastikan semua kelompok masyarakat, termasuk yang rentan seperti perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas, terlibat aktif dan mendapatkan manfaat setara dari program,” kata dia.
Sementara itu, imbuh Sidi, perlembagaan kebijakan bertujuan untuk mengintegrasikan keberhasilan praktik program ke dalam kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah, sehingga menciptakan dukungan regulasi jangka panjang.
“Keberlanjutan sejati adalah saat masyarakat mampu mengelola inisiatifnya secara berdaulat,” tutur ilmuwan lulusan Ghent University Belgia tersebut.
Perubahan Paradigma Menuju Pasar Global
Diskusi ini melibatkan pakar seperti Direktur Yayasan Detara (Inklusivitas), Radityo Putro Handrito dari Universitas Brawijaya yang menyoroti ekonomi hijau, dan Galuh Syahbana Indraprahasta dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait kebijakan publik.
Salah satu topik alam diskusi tersebut yakni kewirausahaan hijau. Fokus topik ini mengarah kepada perubahan paradigma masyarakat. Perubahan tersebut dari masyarakat yang sekadar memproduksi komoditas menjadi model bisnis hijau yang terhubung dengan pasar atau off-taker.
Baca Juga: Kedaulatan Data dan Kearifan Lokal, Pondasi Sabu Raijua Hadapi Krisis Iklim Global
Ada dua tujuan penting dari program tersebut, yakni memastikan kelompok rentan, seperti perempuan dan penyandang disabilitas, menjadi aktor kunci dalam tata kelola sumber daya, dan tentunya mendorong adopsi praktik baik di tingkat komunitas menjadi kebijakan formal, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
Dalam upaya memperkuat potensi ekonomi, pemangku kepentingan pun mengidentifikasi sejumlah komoditas unggulan yang siap bersaing di pasar nasional maupun internasional. Garam dan rumput laut, misalnya, tetap menjadi sektor utama yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan daerah dengan dukungan pemerintah pusat.
Tak hanya itu, gula Sabu yang ikonik juga diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi gula semut demi menyasar pasar perhotelan dan ekspor. Potensi lainnya mencakup tenun Ikat yang telah memiliki indikasi geografis, serta keragaman pangan lokal unik seperti bawang merah putih (mola huna pudi), sorgum Raijua yang pulen, dan kacang hijau hitam.
Dukungan Finansial untuk Kemandirian
Menjelang penutupan program pada Juni 2026, GEF SGP Indonesia menawarkan dua skema pendanaan strategis. Salah satunya program Indonesia Contact Center Association (ICCA) yang menyediakan hibah sekitar Rp 5,6 miliar. Adapun pendanaan tersebut diperuntukkan bagi pengembangan budaya dan masyarakat adat..
Adapula tawaran skema Bantuan Usaha melalui Investasi (BUMI) mitra kerjasama dengan Penabulu Foundation. Pendanaannya hingga senilai Rp 75 juta per pelaku usaha. Fokus dalam pendanaan tersebut yakni pada pengembangan komoditas bernilai tinggi guna memastikan kemandirian ekonomi masyarakat Sabu Raijua di masa depan.
Langkah ini selaras dengan visi Bupati Thobias Uly yang berkomitmen mendukung teknologi tepat guna berbasis kearifan lokal melalui pendanaan dan pelatihan, serta peringatan Kepala Bappeda Victor Radamuri bahwa perencanaan berbasis data dan kolaborasi dengan mitra seperti GEF SGP Indonesia adalah harga mati untuk menghindari kegagalan pembangunan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
4 Sepatu Lari Super Trainer Pesaing Adidas Adizero Evo SL, Terbaik Buat Jarak Jauh
-
Saat Pakaian Lama Punya Hidup Baru: Inspirasi Fashion Berkelanjutan dari Uniqlo
-
Membaca Jakarta dari Ruang Hijau: Catatan Sehari Bersama Ayo ke Taman
-
Banyak Ibu Mengalaminya, Ini Kisah Bangkit dari Kerontokan Rambut Pascapersalinan
-
Daftar Harga BBM BP Hari Ini di Jabodetabek dan Jawa Timur, BP Ultimate Tembus Rp17.240
-
Weton Tulang Wangi Apa Saja? Ini Alasan Dilarang Keluar di Malam 1 Suro
-
4 Lipstik Merah Transferproof yang Tidak Nempel di Gelas saat Minum, Tetap Bold Sepanjang Hari
-
4 Shio dengan Hari Kurang Beruntung pada Juni 2026, Simak Prediksinya
-
Mudi dan Cara Baru Mengenalkan Konservasi: Tidak Selalu dari Hutan, Bisa dari Media Sosial
-
Apa Itu Solid Perfume? Ini Kelebihan dan Kekurangannya Dibandingkan Parfum Cair