Lifestyle / Komunitas
Selasa, 10 Februari 2026 | 16:58 WIB
Ilustrasi nyekar atau ziarah kubur (Istookphoto)
Baca 10 detik
  • Nyekar adalah tradisi berziarah ke makam leluhur dengan menabur bunga.
  • Praktik ini memiliki akar budaya Jawa, Hindu-Buddha, dan akulturasi Islam.
  • Dilakukan khusus menjelang Ramadan, Idulfitri, atau momen penting keluarga.
  1. Jelang Ramadan (Bulan Ruwah/Sya'ban): Ini adalah puncak keramaian nyekar, sering juga disebut tradisi Sadranan atau Nyadran. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan hati sebelum memasuki bulan puasa.
  2. Hari Raya Idulfitri (Syawal): Biasanya dilakukan setelah salat Id atau pada minggu pertama Syawal sebagai bentuk perayaan kemenangan bersama leluhur yang sudah tiada.
  3. Momen Personal: Nyekar juga kerap dilakukan saat seseorang memiliki hajat besar, seperti akan melangsungkan pernikahan, hendak bepergian jauh, atau memulai tugas berat. Ini dimaknai sebagai bentuk permohonan doa restu secara batiniah.

Aktivitas saat Nyekar

Apa saja yang dilakukan saat nyekar? Berbeda dengan masa lampau yang mungkin masih menyertakan kemenyan atau dupa (meski sebagian kecil masih melakukannya), praktik nyekar modern lebih sederhana.

  • Besik (Membersihkan Makam): Membersihkan rumput liar dan dedaunan kering di sekitar pusara sebagai bentuk perawatan dan kasih sayang.
  • Doa dan Tahlil: Membacakan ayat-ayat Al-Qur'an, surat Yasin, dan tahlil. Jika peziarah tidak fasih, biasanya di pemakaman umum tersedia jasa juru kunci atau pemuka agama yang memandu doa.
  • Tabur Bunga: Menaburkan kembang setaman di atas makam. Wangi bunga disimbolkan sebagai penyejuk dan harapan akan keharuman nama serta amal baik almarhum/almarhumah.

Load More