Suara.com - Setiap kali mendekati pertengahan atau akhir dari bulan Syaban, kalau dalam sistem kalender Jawa dikenal sebagai Ruwah.
Kegiatan Nyadran mulai dilakukan sebagai wujud rasa syukur, penghormatan dan memupuk kebersamaan atau gotong-royong.
Nyadran merupakan sebuah tradisi turun-temurun yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur.
Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan setiap tahun mendekati bulan suci Ramadan, sebagai tanda penghormatan pada leluhur yang sudah lebih dulu berpulang ke Rahmatullah.
Asal Mula dan Makna Tradisi Nyadran
Berdasarkan penelusuran dari laman resmi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, istilah "Nyadran" sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu "sraddha" yang mengandung makna keyakinan.
Awal mulanya tradisi tersebut terkait dengan animisme, namun seiring berjalannya waktu telah terjadi akulturasi dengan budaya Islam. Seiring dengan masuknya Islam ke Pulau Jawa melalui Wali Songo.
Dengan adanya akulturasi tersebut, nyadran telah mengalami transformasi sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan atas segala nikmat yang telah diberikan selama ini.
Perbedaan Nama Nyadran Pada Setiap Daerah
Masing-masing daerah mempunyai sebutan nyadran yang berbeda-beda. Menurut informasi, sebut saja orang Banyumas menyebutnya sebagai nyadran, sementara Temanggung dan Boyolali namanya Sadranan.
Sedangkan masyarakat Jawa Timur menyebutnya sebagai Manganan atau Sedekah Bumi dan masih banyak perbedaan nama lainya.
Baca Juga: 30 Link Download Poster Ramadan 2026 Gratis, Cocok untuk Media Sosial hingga Spanduk Masjid
Walaupun terdapat perbedaan nama untuk istilah nyadran, tetap memiliki makna sama, yaitu mendoakan arwah para leluhur dan menjaga kebersamaan maupun gotong royong antar warga serta keluarga.
Sejarah Singkat Nyadran
Melansir Informasi dari laman resmi kendalkab, tradisi tersebut sudah ada sejak zaman Hindu-Budha, sebelum Islam masuk ke Tanah Air.
Sedikit flashback ke belakang, pada tahun 1284, ada suatu tradisi yang mirip dengan nyadran. Tapi istilahnya berbeda yaitu Sradha.
Serupa tapi tidak sama, prosesnya berupa memberikan sesaji, setelah itu mendoakan arwah orang yang meninggal dunia.
Namun perlu digaris bawahi bahwa hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan atau memperingati kematian Raja.
Ketika zaman semakin berkembang, tradisi Sradha mulai ramai dilakukan banyak kalangan. Apalagi makin lama mendapat banyak pengaruh dari ajaran Islam.
Pujian yang umumnya dibacakan saat Sradha, mulai berganti dengan membaca ayat suci Al-Qur’an, dzikir, tahlil maupun doa.
Sehingga menjadi populer dengan istilh nyadran yang dilakukan saat hari ke-10 bulan Rajab atau masuk bulan Syaban.
Walaupun pelaksanaan antar daerah bisa berbeda-beda. Nyadran biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah (menurut kalender Jawa) yang bertujuan menyambut datangnya bulan Ramadan penuh berkah.
Tata Cara Nyadran
Melansir dari informasi yang sama pada paragraf sebelumnya, tradisi nyadran terdiri berbagai kegiatan. Pelaksanaannya tergantung wilayah maupun adat masyarakat setempat.
Namun, tata cara maupun prosesi secara umum sebagai berikut:
- Bersik
Kegiatan yang dilakukan berupa membersihkan makam leluhur dari rerumputan maupun kotoran secara gotong royong.
- Kirab
Umumnya berupa arak-arakan peserta nyadran menuju ke lokasi upacara adat yang telah ditentukan.
- Ikrar
Aktivitas berisikan penyampaian maksud dari terlaksananya upacara Nyadran yang dilakukan Pemangku Adat.
- Doa
Acaranya lebih mengarah pada pembacaan doa bersama yang dipimpin Pemangku Adat.
- Tasyakuran
Kegiatan ini berupa pelaksanaan prosesi makan bersama yang bisa diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebagai wujud rasa syukur dan menjalin keakraban antar warga.
Pelestarian Budaya Sekaligus Nilai Sosial Masyarakat
Waktu semakin berlalu, nyadran bukan sekedar proses ritual keagamaan. Namun, terselip nilai-nilai budaya serta sosial dalam masyarakat.
Dengan adanya tradisi tersebut semakin mempererat tali persaudaraan dengan gotong royong dan kebersamaan.
Sebagai warisan turun-temurun, tradisi nyadran sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang tetap lestari dan mengakar, meskipun berada di era modern seperti sekarang.
Kontributor : Damayanti Kahyangan
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Banjir Cuan! Ini 5 Shio yang Paling Hoki Hari Ini 11 Februari 2026
-
Sirkus Kelas Dunia Hadir di Singapura, Ajak Keluarga Indonesia Liburan Penuh Keajaiban
-
Jadwal Kereta Tambahan Mudik Lebaran 2026, Cek Syarat Pra-Pesan Tiket di Sini!
-
Karakter Orang yang Suka Warna Hijau, Plus Sifat Positif dan Negatifnya
-
Lebih dari Sekadar Barongsai: Deretan Mal Ini Jadi Destinasi Rayakan Imlek Penuh Budaya dan Hiburan
-
5 Lipstik Lokal Anti Luntur hingga 12 Jam, Cocok untuk Berbagai Acara
-
15 Link Download Amplop Lebaran 2026 untuk Anak dan Keponakan
-
25 Contoh Ucapan Selamat Imlek 2026 untuk Keluarga dan Kerabat Dekat
-
Pendaftaran Mudik Gratis Lebaran 2026 Sampai Kapan? Cek Infonya di Sini!
-
5 Inspirasi Desain Rumah Minimalis 2 Lantai 6x12 yang Irit Biaya