Suara.com - Memotong kuku merupakan aktivitas yang jamak dilakukan di bulan Ramadan. Namun, masih banyak yang sering bingung, apakah boleh potong kuku saat Puasa Ramadan.
Sebagian orang merasa ragu karena khawatir aktivitas tersebut dapat membatalkan puasa, sementara yang lain menganggapnya sebagai hal biasa yang tidak ada kaitannya dengan sah atau tidaknya puasa. Untuk memahami persoalan ini secara benar, penting untuk melihatnya dari sudut pandang fikih dan prinsip dasar ibadah puasa dalam Islam.
Puasa pada hakikatnya adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal-hal yang secara jelas membatalkan puasa antara lain makan dan minum dengan sengaja, berhubungan suami istri di siang hari, serta beberapa perkara lain yang telah dijelaskan para ulama dalam kitab-kitab fikih.
Jika ditelusuri dalam sumber ajaran Islam, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa memotong kuku termasuk hal yang membatalkan puasa. Oleh karena itu, secara hukum dasar, memotong kuku saat berpuasa adalah diperbolehkan dan tidak memengaruhi keabsahan puasa seseorang.
Dalam ajaran Islam, menjaga kebersihan dan kerapian diri justru sangat dianjurkan. Rasulullah, yakni Muhammad, mengajarkan pentingnya fitrah, yaitu kebiasaan-kebiasaan alami yang mencerminkan kebersihan dan perawatan diri.
Di antara praktik fitrah tersebut adalah memotong kuku, mencukur rambut yang tumbuh di area tertentu, serta menjaga kebersihan tubuh secara umum.
Anjuran ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan aspek kebersihan, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadan. Dengan demikian, memotong kuku bukan hanya boleh, tetapi juga termasuk bagian dari menjaga kebersihan yang dianjurkan agama.
Kesalahpahaman yang berkembang di sebagian masyarakat biasanya muncul karena adanya anggapan bahwa segala bentuk pemotongan anggota tubuh saat puasa dapat mengurangi pahala atau bahkan membatalkan puasa.
Padahal, yang membatalkan puasa adalah sesuatu yang masuk ke dalam tubuh melalui lubang tertentu dengan sengaja atau aktivitas tertentu yang secara tegas dilarang.
Baca Juga: Segar dan Praktis! Resep Es Kuwut Khas Bali untuk Menu Buka Puasa yang Melepas Dahaga
Memotong kuku tidak termasuk dalam kategori tersebut karena kuku adalah bagian tubuh luar yang tidak memiliki hubungan langsung dengan sistem pencernaan atau jalur masuknya sesuatu ke dalam tubuh.
Sebagian orang juga mengaitkan larangan memotong kuku dengan kondisi tertentu di luar Ramadan, seperti saat seseorang sedang berihram dalam ibadah haji atau umrah. Dalam keadaan ihram, memang ada larangan memotong kuku sebagai bagian dari aturan khusus ibadah tersebut.
Namun, aturan ihram tidak berlaku dalam puasa Ramadan. Puasa dan ihram adalah dua ibadah yang berbeda dengan ketentuan yang berbeda pula. Oleh karena itu, tidak tepat jika larangan saat ihram disamakan dengan kondisi saat berpuasa di bulan Ramadan.
Dari sisi kesehatan, memotong kuku secara rutin justru membantu menjaga kebersihan, terutama ketika seseorang berpuasa dan mungkin lebih sering beristirahat atau mengurangi aktivitas fisik. Kuku yang panjang dapat menjadi tempat berkumpulnya kotoran dan kuman.
Dengan menjaga kuku tetap pendek dan bersih, seseorang turut menjaga kebersihan diri yang merupakan bagian dari nilai-nilai Islam. Bahkan, dalam berbagai hadis disebutkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, yang menunjukkan betapa pentingnya aspek ini dalam kehidupan seorang Muslim.
Walaupun demikian, dalam melaksanakan aktivitas apa pun saat puasa, termasuk memotong kuku, tetap dianjurkan untuk menjaga adab dan niat yang baik. Lakukanlah dengan tujuan menjaga kebersihan dan merawat diri, bukan dengan keyakinan yang keliru atau takhayul tertentu. Ramadan adalah bulan untuk meningkatkan kualitas ibadah, bukan bulan untuk membebani diri dengan larangan-larangan yang tidak memiliki dasar syariat.
Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa memotong kuku saat puasa Ramadan hukumnya boleh dan tidak membatalkan puasa. Tidak ada dalil yang melarangnya, dan bahkan menjaga kebersihan diri merupakan anjuran dalam Islam.
Umat Islam tidak perlu ragu untuk tetap merawat diri selama bulan Ramadan, selama tidak melakukan hal-hal yang memang secara jelas membatalkan puasa. Dengan pemahaman yang benar, kita dapat menjalani ibadah Ramadan dengan tenang, fokus pada peningkatan ketakwaan, dan tetap menjaga kebersihan serta kerapian diri sebagai bagian dari ajaran Islam yang menyeluruh.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
5 Rekomendasi Deodorant yang Tidak Bikin Baju Kuning, Mulai Rp12 Ribuan
-
Link Pendaftaran Mudik Gratis Bersama Taspen, Kuota 100 Ribu Pemudik
-
Puasa Ramadan Bikin Berat Badan Naik? Begini Penjelasan Ahli Gizi RSA UGM
-
Apakah Sepeda Listrik Lipat Boleh Masuk KRL? Cek 6 Rekomendasi yang Diizinkan
-
Bukan LPDP! 5 Beasiswa Fully Funded Ini Tidak Wajibkan Penerima Kembali ke Indonesia
-
45 Desain Amplop Lebaran Gratis Siap Print, Model Unik Bikin THR Makin Berkesan
-
7 Sepatu Lebaran Tanpa Tali untuk Orang Tua, Jalan Kaki Nyaman Bebas Ribet
-
Apakah Sepeda Listrik Bisa Meledak? Cek 6 Rekomendasi Selis Terbaik Bebas Korsleting
-
Rumus dan Cara Perhitungan THR Kurang dari 1 Tahun, Pekerja Baru Wajib Tahu!
-
5 Rekomendasi Sabun Muka pH Balance untuk Jaga Skin Barrier Tetap Sehat