- Sejumlah anggota DPR dan Kongres AS mendesak pemakzulan Donald Trump karena retorika ancaman perang terhadap Iran sejak Selasa malam.
- Desakan tersebut muncul setelah Trump mengancam peradaban Iran terkait penutupan Selat Hormuz melalui unggahan di media sosial Truth Social.
- Upaya pemakzulan tersebut dinilai sulit terwujud karena kendali Partai Republik di Kongres dan dukungan loyalis dalam kabinet Trump.
Suara.com - Seruan 'Regime Change' atau perubahan rezim kembali bergema sejak Selasa (7/4) malam, tapi bukan di Iran, melainkan di jantung pusat pemerintahan Amerika Serikat. Itu setelah sejumlah anggota DPR dan Kongres AS mendesak Trump dsimakzulkan alias dicopot
Sejumlah petinggi Partai Demokrat secara terbuka menyerukan penggunaan Amandemen ke-25 atau proses pemakzulan segera, menyusul ancaman destruktif Trump terhadap Iran menjelang tenggat waktu penutupan Selat Hormuz.
Ketegangan ini mencapai titik kritis, setelah Trump mengeluarkan retorika yang dianggap banyak pihak sebagai ancaman genosida dan kejahatan perang.
Retorika Trump yang paling kontroversial muncul melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa pagi, di mana ia menyatakan “sebuah peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah bisa kembali lagi”.
Ancaman itu berlaku jika Iran tidak segera memenuhi tuntutannya untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, Rabu (8/4/2026), Trump justru menerima 10 persyaratan Iran, dan memberlakukan gencatan senjata selama 2 pekan ke depan.
Anggota DPR AS dari Colorado, Diana DeGette, bereaksi keras terhadap pernyataan tersebut.
“Donald Trump secara terbuka mengancam kejahatan perang terhadap seluruh peradaban Iran. Proses Amandemen ke-25 harus segera dimulai, tetapi jika Kabinet terlalu pengecut, DPR harus memulai proses pemakzulan sekarang,” tulisnya di platform media sosial X.
Senada dengan DeGette, Senator Ed Markey dari Massachusetts mendesak Kongres untuk bertindak cepat sebelum situasi semakin tidak terkendali.
“DPR harus mengajukan pasal-pasal pemakzulan, dan Senat perlu mencopot presiden yang ingin melakukan kejahatan perang. Kita tidak bisa berdiam diri saat Donald Trump mengancam untuk mengakhiri seluruh peradaban,” tegas Markey.
Baca Juga: Hasil Lengkap Investigasi PBB soal TNI Tewas karena Proyektil Israel
Perdebatan Konstitusi: Amandemen ke-25 dan Pemakzulan
Langkah untuk mencopot presiden di tengah konflik militer yang sedang berlangsung adalah prosedur yang sangat jarang dan rumit.
Amandemen ke-25 mengizinkan Wakil Presiden dan mayoritas anggota Kabinet untuk menyatakan Presiden "tidak mampu melaksanakan kekuasaan dan tugas kantornya."
Namun, mengingat Kabinet Trump saat ini diisi oleh banyak loyalis, peluang penggunaan jalur ini dianggap sangat kecil oleh banyak analis politik.
Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran mengenai kontrol atas kode nuklir. Perwakilan Mark Pocan dari Wisconsin menyatakan dengan tajam, “Amandemen ke-25 SEKARANG JUGA! Trump terlalu tidak terkendali, berbahaya, dan gila untuk memegang kode nuklir!”
Gedung Putih sendiri menanggapi serangkaian seruan tersebut dengan nada meremehkan.
Berita Terkait
-
Hasil Lengkap Investigasi PBB soal TNI Tewas karena Proyektil Israel
-
Ke Mana Mojtaba Khamenei Setelah Gencatan Senjata AS - Iran?
-
Usai Pernyataan Gencatan Senjata, Trump Dikhawatirkan Berubah Pikiran Lagi
-
Donald Trump Murka ke CNN karena Beritakan Kemenangan Iran: Kalian Jahat
-
Kebijakan WFH di Tengah Krisis Energi: Solusi Sementara atau Jawaban Jangka Panjang?
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Selamatkan Tanah Negara, Kejari Lombok Tengah Amankan Tanah Miliaran Rupiah dari Mafia Tanah?
-
3 Rekomendasi Rice Cooker Low Sugar, Ada Klaim Kurangi Gula hingga 55%
-
Prabowo Datang ke Titik Karhutla Kubu Raya, Minta Pemadaman Dipercepat
-
40 Ribu Penumpang Terlayani, Penerbangan Samarinda Tetap Stabil di Tengah Karhutla
-
Bikin Emosi! Kalteng Dilanda Karhutla, Akun Resmi Pemerintah: Selamat Ulang Tahun Nyonya Agustiar
-
Duh! 681 Kendaraan KDKMP Temanggung Sudah Tiba, Koperasi Belum Beroperasi
-
Bikin Murka Publik! Ini Tampang Ajudan Gubernur Maluku yang Hina Monyet ke Mahasiswa
-
5 Essence Terbaik untuk Kulit Berminyak Sesuai Review Pengguna, Muka Jadi Bebas Jerawat
-
Darurat Karhutla Kalbar: Prabowo Tambah 1.500 Personel TNI hingga Armada Helikopter Raksasa
-
Dikepung Api dan Asap, Dua Kompleks Perumahan Dekat Bandara Syamsudin Noor Terancam