Suara.com - Istilah witch hunt kembali muncul setelah ramai polemik penerima beasiswa LPDP yang viral beberapa waktu belakangan ini.
Istilah ini muncul di media sosial, salah satunya pada cuitan pemilik akun Ghozy Ul-Haq di X (dulunya Twitter). Tapi sebenarnya apa itu witch hunt?
Witch hunt dikaitkan dalam konteks pembicaraan seorang penerima beasiswa LPDP yang tengah "dikuliti" masa lalu dan berbagai hal terkait dirinya.
Banyak fakta dan opini kemudian beredar luas, dan berasal dari berbagai sumber.
Meski sebenarnya banyak sekali kisah inspiratif dibalik sang penerima beasiswa tersebut, namun sepertinya masyarakat lebih banyak tertarik dengan fakta miring yang ditemukan dan dikaitkan dengan nasionalisme yang rendah.
Mengenal Istilah Witch Hunt dalam Dunia Modern
Istilah ini sebenarnya berangkat dari fenomena masa lampau, ketika masyarakat luas melakukan perburuan penyihir.
Perburuan ini dilakukan karena keresahan masyarakat, dan pengenalan pada tanda-tanda yang dipercaya sebagai identitas penyihir yang memiliki kemampuan astral dalam melakukan hal buruk pada orang lain.
Pada konteks modern, witch hunt kemudian bermakna sebagai "penyerangan" pada orang atau kelompok tertentu yang dilakukan secara massal. Hal ini pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, dan umum ditemukan di media sosial.
Fenomena yang terjadi belakangan ini jadi salah satu bentuk nyatanya. Seseorang viral di media sosial, dianggap kurang baik oleh masyarakat luas, dan netizen terus melakukan penggalian fakta dengan tujuan "menyerang" orang tersebut sebagai bentuk respon yang mereka rasakan atas ketidaksukaan yang dialami.
Baca Juga: Hotman Paris Desak Status WNI Dwi Sasetyaningtyas LPDP Dicabut, Apa Dampaknya?
Tidak jarang witch hunt ini juga membawa dampak negatif ketika dilakukan terus menerus pada korban yang menjadi target penyerangan.
Hal ini muncul karena rasa tidak berdaya dan kelelahan mental saat terus diserang oleh banyak orang dalam jangka waktu yang lama.
Dampak Nyata dari Witch Hunt yang Dilakukan
Saat hal ini terjadi, beberapa dampak nyata bisa muncul sebagai efek dari penyerangan yang dilakukan di media sosial.
- Penyebaran kebencian, witch hunt menjadi sumber dari penyebaran kebencian pada seseorang karena masalah yang muncul dirasa menjadi masalah dari semua orang.
- Penyebaran informasi palsu, witch hunt juga rawan menjadi momen penyebaran informasi palsu yang dilakukan dalam rangka memanfaatkan situasi dan emosional netizen yang tengah mengalami kemarahan. Setiap informasi yang dianggap baru kemudian dipelintir agar dapat menjadi amunisi untuk melakukan penyerangan.
- Masalah mental, dapat muncul pada target penyerangan jika terus menerus menerima berbagai ujaran kebencian atau tekanan yang ada dari media sosial. Beberapa masalah mental seperti depresi bahkan hingga keinginan untuk mengakhiri hidup bisa saja muncul ketika tidak lagi kuat menanggung serangan ini.
- Pelaporan, hal ini bisa muncul dari berbagai pihak sebagai respon atas tekanan yang diterima atau diberikan. Kasus hukum bisa saja terjadi mengacu pada peraturan yang berlaku di Indonesia sekarang ini.
Witch Hunt yang Pernah Terjadi di Indonesia
Witch hunt yang terjadi pada penerima beasiswa LPDP ini bukan yang pertama kali di negara kita. Sebelumnya, beberapa kasus juga pernah memunculkan fenomena tersebut.
Salah satu yang paling nyata adalah masa-masa Pilpres 2024 lalu. Banyak orang yang merasa kecewa kemudian melakukan witch hunt pada pendukung pasangan 02 yang merupakan pemenang dari pemilu lalu, Prabowo-Gibran.
Fenomena tersebut bahkan masih bisa dirasakan di media sosial hingga saat ini ketika kebijakan yang diambil pemerintah dirasa salah, tanpa pertimbangan, atau tanpa melihat situasi dan kondisi masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
5 Tips agar Anak Cepat Gemuk dalam 1 Minggu, Efektif tapi Tetap Aman
-
7 Mesin Cuci 2 Tabung Hemat Listrik dan Awet, Mulai Rp1 Jutaan
-
5 Rekomendasi Sabun Mandi Pemutih Kulit, Hasil Cerah Bertahap
-
Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?
-
Siapa Pencipta Lagu 'Erika' yang Dinyanyikan HMT ITB? Viral Karena Lirik Merendahkan Perempuan
-
Klarifikasi Dikidoy yang Sempat Live TikTok Kasus Pelecehan FH UI
-
5 Rekomendasi Foundation Lokal Terbaik, Kualitas Setara Brand High-End
-
7 Bedak Wardah yang Tahan Lama untuk Kondangan, Mulai Rp30 Ribu
-
7 Lipstik Transferproof yang Tahan Lama dan Anti Menor Buat Kondangan
-
Pemerintah Buka 30 Ribu Loker Manajer Koperasi Merah Putih, Berapa Gajinya?