- Gelar Ayatollah, berarti "Tanda Allah," merupakan sebutan ulama Syiah dengan keilmuan sangat tinggi dalam teologi dan hukum Islam.
- Proses perolehan gelar ini memerlukan studi panjang di lembaga seperti hawza di Qom atau Najaf hingga diakui senior.
- Dalam politik Iran, gelar ini memberikan legitimasi religius kuat kepada Pemimpin Tertinggi seperti Ali Khamenei sejak 1989.
Suara.com - Nama Ali Khamenei kerap disebut dengan gelar Ayatollah di depan namanya.
Gelar tersebut bukan sekadar sapaan, melainkan memiliki makna religius dan posisi penting dalam struktur keagamaan Syiah.
Lantas, apa sebenarnya arti gelar Ayatollah yang disandang Pemimpin Tertinggi Iran itu?
Arti Gelar Ayatollah
Secara bahasa, Ayatollah berasal dari bahasa Arab yang berarti “Tanda Allah” atau “Bukti dari Tuhan”. Gelar ini digunakan dalam tradisi Islam Syiah, khususnya aliran Dua Belas Imam (Twelver Shia), untuk menyebut ulama dengan tingkat keilmuan sangat tinggi dalam bidang hukum dan teologi Islam.
Dalam hierarki ulama Syiah, Ayatollah merupakan gelar prestisius yang diberikan kepada mereka yang telah mencapai kemampuan ijtihad, yakni kapasitas untuk melakukan penafsiran hukum Islam secara mandiri berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan prinsip-prinsip fikih.
Proses Menjadi Ayatollah
Untuk meraih gelar Ayatollah, seorang ulama biasanya menempuh pendidikan bertahun-tahun di lembaga pendidikan agama yang dikenal sebagai hawza. Dua pusat studi Syiah yang terkenal berada di Qom (Iran) dan Najaf (Irak).
Di lembaga tersebut, calon ulama mempelajari tafsir Al-Qur’an, hadis, filsafat Islam, ushul fikih (prinsip hukum Islam), hingga logika. Setelah diakui memiliki kompetensi tinggi oleh para ulama senior, barulah seseorang dapat disebut Ayatollah.
Baca Juga: Siapa Ali Khamenei? Pemimpin Tertinggi Iran Tewas Usai Serangan AS dan Israel
Di atas tingkat Ayatollah, terdapat gelar Grand Ayatollah atau Ayatollah al-Uzma, yang merujuk pada otoritas tertinggi dalam keilmuan agama. Seorang Grand Ayatollah biasanya menjadi marja’ al-taqlid, yaitu rujukan utama bagi umat dalam mengikuti fatwa dan panduan keagamaan.
Peran Ayatollah dalam Politik Iran
Dalam sistem Republik Islam Iran, gelar Ayatollah tidak hanya bermakna religius, tetapi juga memiliki dimensi politik. Sistem pemerintahan Iran menggabungkan unsur teokrasi dan republik, sehingga ulama memiliki posisi strategis dalam struktur negara.
Pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini, juga menyandang gelar Ayatollah sebelum menjadi Pemimpin Tertinggi pertama Iran pada 1979.
Hal yang sama berlaku bagi Ali Khamenei. Sejak diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989, Khamenei tidak hanya menjadi kepala otoritas agama, tetapi juga figur paling berkuasa dalam sistem politik Iran. Ia memiliki kewenangan atas angkatan bersenjata, kebijakan luar negeri, serta pengangkatan pejabat tinggi negara.
Mengapa Gelar Ini Penting?
Gelar Ayatollah mencerminkan legitimasi religius yang kuat. Dalam konteks Iran, legitimasi tersebut menjadi dasar moral dan ideologis bagi kepemimpinan negara.
Oleh karena itu, gelar Ayatollah bukan sekadar simbol akademik, melainkan juga fondasi otoritas dalam sistem pemerintahan Iran.
Singkatnya, gelar Ayatollah yang disandang Ali Khamenei menunjukkan posisinya sebagai ulama dengan otoritas tinggi dalam tradisi Syiah sekaligus tokoh sentral dalam struktur kekuasaan Republik Islam Iran.
Berita Terkait
-
Mengapa Amerika Menyerang Iran? Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Rudal
-
Profil Mojtaba Khamenei: Sosok Kuat Penerus Ali Khamenei, Calon Pemimpin Iran?
-
Irak Ikut Terseret dalam Konflik Iran-AS-Israel, Tegaskan Tutup Wilayah Udara
-
Siapa Ali Khamenei? Pemimpin Tertinggi Iran Tewas Usai Serangan AS dan Israel
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Emiten PGEO Pasang Target Kapasitas PLTP Capai 1,8 GW pada 2034
-
Hyundai New CRETA Dilengkapi Drive Mode Adaptif untuk Berbagai Kondisi Berkendara
-
ICW Cium Gelagat Kasus Eks Jampidsus Bakal Berhenti di Tengah Jalan: Sulit Lacak Aktor Besar
-
Modus Judi Online Makin Canggih, Terbaru Lewat QRIS hingga E-Wallet
-
Bukan Sekadar Tren, Alasan Barrel Pants Kini Jadi Andalan Gaya Sehari-hari
-
Produk Tembakau Alternatif Bisa Bantu Perokok Dewasa Beralih, Tapi Tetap Berisiko
-
Daftar Pemain Terkuat dan Berpengaruh di Piala Dunia 2026
-
Sebulan Tak Diguyur Hujan, Sungai Cisadane Mulai Mengering
-
Asing Jual Bersih Rp160 Miliar, BMRI hingga RANS Malah Diborong
-
Bukan Didorong, ASN Nias Tewas Lompat dari Apartemen di Medan Gegara Diperas 2 Wanita