Lifestyle / Komunitas
Senin, 02 Maret 2026 | 13:17 WIB
Harga minyak dunia diprediksi meroket sangat tinggi efek perang di Timur Tengah [Suara.com]

Ketika harganya melambung, biaya produksi barang dan jasa di seluruh dunia akan ikut naik. Kenaikan akan memicu inflasi global yang sulit dikendalikan.

Negara-negara pengimpor minyak, terutama di Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan, akan menjadi yang paling terdampak karena mayoritas pasokan energi mereka bergantung pada jalur ini.

Kenaikan biaya energi juga akan memukul sektor penerbangan dan logistik.

Harga tiket pesawat dan biaya pengiriman barang (logistik) akan naik tajam, dan pada akhirnya membuat harga kebutuhan pokok di rak-rak supermarket menjadi lebih mahal bagi konsumen.

Lumpuhnya logistik dan kenaikan biaya asuransi

Bahkan jika penutupan tidak bersifat total, ancaman keamanan di Selat Hormuz sudah cukup untuk mengacaukan perdagangan.

Perusahaan asuransi pelayaran akan menaikkan premi asuransi yang meliputi biaya perlindungan hingga berkali-kali lipat bagi kapal yang berani melintas.

Kapal-kapal mau tak mau harus mencari rute alternatif, misalnya melalui Tanjung Harapan di Afrika.

Waktu tempuh akan bertambah sekitar dua minggu dan perdagangan akan tertunda.

Baca Juga: 4 Kapal Pertamina Masih Berada di Timur Tengah, 2 Berada di Area Selat Hormuz

Penundaan ini akan mengganggu rantai pasok global (global supply chain), hingga menyebabkan kelangkaan barang-barang manufaktur hingga komponen elektronik.

Mengancam ketahanan pangan

Ahli geopolitik kepada Wired juga mengkhawatirkan akan adanya krisis pangan ketika Selat Hormuz ditutup aksesnya.

Selat Hormuz tidak hanya dilewati oleh tanker minyak, tetapi juga kapal kargo yang membawa bahan kimia, pupuk, dan biji-bijian.

Gangguan pada distribusi pupuk dan kenaikan biaya bahan bakar untuk mesin pertanian akan menekan produktivitas pangan global.

Negara-negara berkembang yang bergantung pada impor pangan bisa mengalami krisis kelaparan.

Load More