Bisnis / Makro
Senin, 02 Maret 2026 | 08:40 WIB
Ilustrasi-Pengendara mengisi BBM di sebuah SPBU di Setiabudi, Jakarta Selatan. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Konflik Iran, AS, dan Israel berpotensi mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz, memicu lonjakan harga BBM global yang mengancam stabilitas ekonomi Indonesia.
  • Ketegangan Timur Tengah menyebabkan investor menarik modal (capital outflow) dari pasar negara berkembang, menekan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
  • Dampak sistemik konflik meliputi kenaikan inflasi akibat biaya logistik dan transportasi, serta penyempitan ruang fiskal pemerintah akibat subsidi energi.

Suara.com - Eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel belakangan ini bukan sekadar isu politik mancanegara.

Pengamat ekonomi memperingatkan bahwa stabilitas ekonomi nasional kini berada di titik rawan, terutama terkait potensi lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Meskipun secara geografis Indonesia terpisah ribuan kilometer dari pusat pertempuran, efek domino atau spillover effect melalui jalur energi dan pasar keuangan global tidak dapat dihindari.

Dampak yang paling dikhawatirkan oleh para ekonom bukan sekadar fluktuasi angka di layar bursa, melainkan gangguan pada distribusi energi fisik secara global.

Titik nadir dari krisis ini terletak pada jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi energi dunia.

Skenario paling horor dalam konflik ini adalah kemungkinan perang, antara AS, Israel dan Iran memblokade Selat Hormuz.

Jalur ini merupakan rute transit krusial bagi sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dunia setiap harinya.

Sebagai negara yang kini menyandang status importir neto minyak (net importer), Indonesia sangat rentan terhadap gangguan pasokan di jalur tersebut.

Jika Selat Hormuz benar-benar tertutup, pasokan minyak mentah dunia akan terganggu hebat dan harganya dipastikan melambung tinggi.

Baca Juga: BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel

Hal ini secara otomatis akan membengkakkan beban biaya impor BBM ke dalam negeri. Rizal Taufiqurrahman, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), memberikan gambaran mengenai dampak sistemik dari situasi ini.

"Dampaknya menjalar ke fiskal melalui peningkatan subsidi dan kompensasi energi, serta ke inflasi karena biaya transportasi dan logistik meningkat sehingga harga pangan ikut terdorong naik," papar Rizal, kepada Suara.com pada Senin (2/3/2026).

Selain masalah fisik energi, jalur pasar keuangan global menjadi pintu masuk pertama guncangan ekonomi ke Indonesia.

Rizal menjelaskan bahwa sentimen negatif dari Timur Tengah akan membuat pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia, berada dalam kondisi tertekan.

Dalam kancah ekonomi global, setiap kali terjadi ketegangan geopolitik berskala besar, perilaku investor akan berubah secara drastis.

Mereka cenderung menarik aset dari negara-negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia untuk memindahkan modal ke instrumen yang dianggap lebih stabil atau safe haven.

Load More