Bisnis / Energi
Senin, 02 Maret 2026 | 10:56 WIB
Kapal tanker minyak melewati selat hormuz (Reuters/Hamad I Mohammed)
Baca 10 detik
  • Harga minyak melonjak 7% akibat tewasnya Ali Khamenei dan eskalasi perang Iran-Israel.
  • Selat Hormuz ditutup, memicu ancaman krisis pasokan minyak mentah bagi kilang-kilang di Asia.
  • Analis prediksi Brent tembus USD 90 jika konflik bersenjata di jalur laut terus berlanjut.

Suara.com - Pasar energi global berguncang hebat. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga 7 persen pada perdagangan Senin (2/3/2026), menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Melambungnya harga emas hitam ini merupakan respons spontan pasar terhadap eskalasi konflik militer yang kian brutal antara Iran dan Israel.

Mengutip laporan Reuters, minyak mentah jenis Brent sempat melesat ke angka USD 82,37 per barel, sebuah rekor yang tidak pernah terlihat sejak Januari 2025. Hingga pukul 07.54 WIB, Brent stabil di kisaran USD 78,24 per barel, naik signifikan sebesar 7,37 persen.

Setali tiga uang, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut terkerek naik USD 4,66 atau 6,95 persen ke level USD 71,68 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh angka psikologis USD 75,33.

Sumbu ledak kenaikan harga ini dipicu oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu lalu yang menewaskan Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei. Alih-alih mereda, Israel justru meluncurkan gelombang serangan baru ke Teheran pada Minggu (1/3/2026), yang langsung dibalas Iran dengan hujan rudal.

Dampak konflik ini meluas ke jalur maritim paling krusial di dunia. Sedikitnya tiga kapal tanker di pesisir Teluk dilaporkan terkena hantaman rudal yang menewaskan seorang pelaut. Merespons situasi yang kian tak terkendali, Iran secara resmi menutup jalur navigasi di Selat Hormuz.

Langkah ekstrem Teheran ini praktis membuat pemerintah dan perusahaan kilang di Asia sebagai konsumen terbesar panik dan mulai mengevaluasi ketahanan stok minyak mereka.

Analis ANZ, Daniel Hynes, menilai risiko pasokan energi global kini berada di titik nadir karena aksi saling balas sudah menyasar infrastruktur pengiriman minyak. Sementara itu, tim analis dari Citi yang dipimpin Max Layton memproyeksikan Brent akan terus "menari" di kisaran USD 80 hingga USD 90 per barel sepanjang pekan ini.

"Pandangan dasar kami adalah kepemimpinan atau rezim Iran berubah signifikan sehingga perang berhenti dalam 1-2 minggu, atau AS memilih deeskalasi setelah melihat perubahan kepemimpinan dan terhambatnya program nuklir Iran," tulis laporan Citi.

Dunia kini menanti, apakah diplomasi internasional mampu mendinginkan bara di Timur Tengah, ataukah harga minyak akan terus melambung dan mencekik ekonomi global.

Baca Juga: Cak Nun Pernah Prediksi Soal Perang Iran vs Israel - AS Sejak 2012, Indonesia Bela Siapa?

Load More