Lifestyle / Male
Senin, 09 Maret 2026 | 12:16 WIB
Mojtaba Khamenei (tengah) [Webangar.ir]
Baca 10 detik
  • Mojtaba Khamanei resmi menggantikan Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. 
  • Selama ini, Mojtaba dikenal sebagai sosok tertutup dan jarang muncul ke publik, namun memiliki peran krusial.
  • Ia akan menjadi suksesor sang ayah untuk memimpin Iran di tengah eskalasi konflik AS-Israel.

Suara.com - Pasca gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari 2026, kini sang penerus diperkenalkan ke dunia internasional. Ialah Mojtaba Khamenei yang menjadi suksesor ayahnya.

Mojtaba resmi melangkah ke panggung utama sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Transisi ini bukan sekadar pergantian figur, melainkan sebuah pergeseran seismik dalam struktur kekuasaan Republik Islam yang telah bertahan sejak revolusi 1979.

Lantas siapa Mojtaba Khamanei dan bagaimana perannya selama ini? Simak ulasannya berikut

Profil Singkat Mojtaba Khamenei

Mengutip catatan biografi dari Britannica, Mojtaba yang lahir pada tahun 1969 di Mashhad merupakan putra kedua dari Ali Khamenei. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup.

Meski menyandang status mentereng, Mojtaba jarang muncul di media. Namun, dirinya memiliki pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan di koridor kekuasaan Iran.

Kekuatan di Balik Layar dan Kedekatan dengan Militer

Perjalanan Mojtaba menuju puncak kekuasaan Iran tidak terjadi dalam semalam. Menyadur Al Jazeera, kenaikan posisinya terjadi di tengah situasi regional yang kritis, tatkala Iran tengah menghadapi tekanan besar akibat eskalasi konflik yang meluas.

Salah satu pilar kekuatan utama Mojtaba adalah hubungannya yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Britannica mencatat bahwa sejak awal 2000-an, Mojtaba telah membangun jaringan yang kuat di dalam militer dan badan intelijen.

Pengaruhnya mulai terlihat jelas secara publik meski tetap informal, seperti pada pemilu 2009 yang kontroversial. Nama Mojtaba mencuat sebagai tokoh yang diduga turut menggerakkan pasukan Basij untuk menindak demonstran damai "Gerakan Hijau".

Massa melancarkan protes pasca terpilihnya Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran. Semenjak saat itu, para kritikus dan pengamat internasional mulai melihat sosok Mojtaba bukan hanya sebagai putra pemimpin, melainkan sebagai "penjaga gerbang" utama ayahnya.

Baca Juga: AS Marah Israel Serang Depo Minyak Iran, Takut Harga Minyak Naik Jadi USD 200

Pendidikan Agama dan Legitimasi Politik

Untuk menjadi Pemimpin Tertinggi, seorang kandidat tidak hanya membutuhkan kekuatan politik, tetapi juga legitimasi religius. Mojtaba menempuh pendidikan seminari di Qom, pusat pembelajaran Syiah, di bawah bimbingan ulama-ulama konservatif terkemuka.

Namun, transisinya tetap memicu perdebatan internal. Al Jazeera menyoroti bahwa kenaikan Mojtaba menandai preseden baru dalam sejarah Republik Islam di Iran dengan isu suksesi turun-temurun.

Hal ini sebelumnya merupakan sesuatu yang sangat dihindari oleh para pendiri revolusi untuk membedakan diri dari sistem monarki Shah yang mereka tumbangkan.

Jabatan Baru Prestisius

Mojtaba sebelumnya tidak pernah mencalonkan diri untuk menduduki jabatan formal lewat pemilihan umum. Namun, sosoknya masuk dalam lingkaran elite politik Iran.

Dalam pemungutan suara yang digelar oleh Majelis Ahli Iran pada Minggu waktu setempat, Mojtaba mengantongi suara bulat dari 88 anggota majelis.

Mojtaba dinobatkan sebagai Pemimpin Ketiga Revolusi Islam. Ia kini meneruskan tugas sang ayah menjadi Pemimpin Tertinggi Iran.

Load More