- UNEP melaporkan dunia membuang 1,05 miliar ton makanan pada 2022, menghasilkan gas metana kuat dari TPA.
- The Flavor Bliss Alam Sutera mengubah limbah organik menjadi ribuan liter Eco Enzyme untuk Sungai Cisadane.
- Inisiatif ini mencetak rekor MURI 7.000 liter Eco Enzyme pada Maret 2026, melibatkan kolaborasi lintas komunitas.
Suara.com - Laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) mengungkap fakta ekologis yang mengkhawatirkan: dunia menyia-nyiakan 1,05 miliar metrik ton makanan pada tahun 2022. Setidaknya satu miliar porsi makanan yang sebenarnya layak konsumsi justru berakhir di tempat sampah setiap harinya.
Berdasarkan data tersebut, rata-rata satu orang membuang hingga 79 kilogram makanan per tahun. Seperlima dari makanan yang tersedia bagi manusia disia-siakan oleh rumah tangga, restoran, dan sektor ritel.
Masalahnya tidak berhenti pada pemborosan pangan. Sebagian besar sampah makanan ini berujung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Saat terurai, tumpukan organik ini menghasilkan gas metana—gas rumah kaca yang memiliki kekuatan pemanasan iklim hingga 80 kali lipat lebih kuat dari karbon dioksida dalam 20 tahun pertama.
UNEP menegaskan, sampah makanan tidak hanya memicu perubahan iklim, tetapi memperburuknya. Negara-negara beriklim panas bersuhu tinggi, seperti Indonesia, berisiko membuang lebih banyak makanan karena tantangan penyimpanan agar bahan tidak cepat membusuk.
Ekonomi Sirkular sebagai Solusi Nyata
Melihat besarnya ancaman gas metana dari limbah organik tersebut, penerapan ekonomi sirkular (circular economy) menjadi kebutuhan mendesak. Sebuah inisiatif nyata untuk memutus rantai krisis iklim ini dibuktikan oleh kawasan kuliner The Flavor Bliss Alam Sutera dan Pasar 8 di Tangerang Selatan.
Alih-alih membiarkan limbah sayur dan kulit buah dari para pedagang dan tenant kuliner menumpuk di TPA, pengelola kawasan memprosesnya secara mandiri. "Sampah" yang berpotensi menjadi gas beracun itu ditransformasi menjadi cairan serbaguna ramah lingkungan atau Eco Enzyme.
Tidak tanggung-tanggung, produksi mandiri ini menghasilkan ribuan liter cairan enzim yang didedikasikan sepenuhnya untuk merevitalisasi urat nadi warga Tangerang Raya, yakni aliran Sungai Cisadane.
Puncak dari inisiatif pelestarian ini berlangsung pada Minggu (8/3/2026). The Flavor Bliss Alam Sutera menyumbangkan 7.000 liter Eco Enzyme untuk dituangkan ke Kawasan Sungai Jeletreng yang bermuara ke Cisadane. Aksi masif ini sukses mencatatkan nama di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai giat lingkungan melalui penuangan Eco Enzyme terbanyak di satu aliran sungai.
Baca Juga: Jangan Dibuang! Sisa Makananmu Bisa Jadi Pupuk Hingga Sumber Energi Masa Depan
Acara penuangan ini mendapat sorotan nasional dengan hadirnya Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisal Nurofiq, Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan, perwakilan Kementerian Agama, serta jajaran pemerintah pusat dan daerah.
Direktur PT Alam Sutera Realty Tbk, Andre Simandjaja, menjelaskan bahwa produksi cairan disinfektan alami dari limbah organik ini adalah bukti konkret komitmen perusahaan terhadap manajemen sampah (waste management) yang terintegrasi di kawasannya.
“Kami turut senang dapat berkontribusi dan berkolaborasi dalam memerangi pencemaran sungai melalui penyediaan Eco Enzyme yang diproduksi secara mandiri di Flavor Bliss Alam Sutera. Giat produksi ini merupakan salah satu program serta komitmen Alam Sutera untuk terus menghadirkan kawasan lingkungan hidup yang berkelanjutan,” ujar Andre.
Langkah penuangan cairan hasil fermentasi limbah organik ini dirancang sebagai "terapi biologis" untuk memecah polutan, menjernihkan air, dan menekan bau tak sedap pada sungai yang sempat tercemar.
“Diharapkan hal ini dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang masih memanfaatkan aliran Sungai Cisadane untuk kehidupan sehari-hari,” tambah Andre.
Kolaborasi Lintas Komunitas
Berita Terkait
-
Perut Kenyang, Tempat Sampah Penuh: Refleksi Makna Ramadan di Tengah Lonjakan Food Waste
-
Belajar dari China, Sampah Makanan MBG Berpotensi Jadi Biodiesel
-
TPA Terancam Penuh 2028, Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Sampah Indonesia?
-
Rekor Buruk! Jakarta Timur Jadi Penyumbang Sampah Makanan Terbanyak, Tembus 432 Ton
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Apakah Sholat Lailatul Qadar Harus Tidur Dulu? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
25 Link Twibbon Idulfitri Terbaru 2026/1447 H untuk Dibagikan di Medsos
-
Kenapa Nastar Retak setelah Dipanggang? Ini 5 Penyebab dan Cara Mengatasinya
-
7 Ide Isi Hampers Lebaran yang Bermanfaat Selain Makanan, Unik dan Berkesan
-
10 Singkatan THR Lucu yang Bikin Ngakak, Bukan Tunjangan Hari Raya!
-
Kalau Lebih Bayar Pajak Gimana? Ini Penyebab dan Solusinya
-
Apa Hukum Tukar Uang Baru di Pinggir Jalan dalam Islam? Hati-Hati Bisa Riba
-
Apakah Relawan MBG Dapat THR Jelang Lebaran 2026? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Isi Doa Quraish Shihab untuk Presiden Prabowo di Nuzulul Quran 2026
-
Cara Bayar Fidyah Ibu Menyusui 1 Bulan, Ini Bacaan Niat dan Besarannya