Lifestyle / Food & Travel
Jum'at, 20 Maret 2026 | 09:10 WIB
Ilustrasi ketupat. [Instagram @arka.saputra5]

Suara.com - Hari Raya Idulfitri selalu identik dengan berbagai hidangan khas yang dinantikan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Di Indonesia, salah satu makanan yang hampir selalu hadir di meja makan saat Lebaran adalah ketupat.

Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda ini bukan sekadar sajian pelengkap opor ayam, rendang, atau sambal goreng hati. Ketupat memiliki makna budaya dan filosofi yang sangat dalam bagi masyarakat Indonesia.

Tradisi menyajikan ketupat saat Lebaran sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dilestarikan hingga sekarang.

Ketupat tidak hanya menjadi simbol perayaan, tetapi juga sarat dengan pesan moral dan spiritual yang berkaitan dengan makna Idulfitri itu sendiri, yaitu kembali ke fitrah dan saling memaafkan.

Di berbagai daerah di Indonesia, ketupat bahkan menjadi bagian dari tradisi khusus yang dirayakan beberapa hari setelah Idulfitri, seperti tradisi "Lebaran Ketupat".

Hal ini menunjukkan bahwa makanan sederhana ini memiliki nilai sosial dan religius yang kuat dalam kehidupan masyarakat.

Lalu, bagaimana sebenarnya asal usul ketupat Lebaran dan mengapa makanan ini begitu identik dengan perayaan Idulfitri di Indonesia? Berikut penjelasannya.

Sejarah Ketupat

Ilustrasi Ketupat Hari Raya (Unsplash.com/Mufid Majnun)

Sejarah ketupat di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Islam di Nusantara.

Banyak sejarawan menyebutkan bahwa tradisi ketupat mulai populer pada masa penyebaran Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16.

Baca Juga: Promo Hypermart Hari Ini Edisi Lebaran 12 Maret 2026, Biskuit Kaleng dan Toples Diskon Besar

Ketupat sering dikaitkan dengan tokoh ulama besar dari Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Beliau dikenal sebagai ulama yang menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya lokal agar masyarakat lebih mudah menerima ajaran agama.

Sunan Kalijaga diyakini memperkenalkan tradisi "Kupatan", yaitu perayaan yang dilakukan sekitar satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri.

Dalam tradisi ini, masyarakat membuat dan membagikan ketupat kepada tetangga dan kerabat sebagai simbol kebersamaan serta saling memaafkan.

Pendekatan budaya ini membuat Islam dapat diterima dengan lebih mudah oleh masyarakat Jawa pada masa itu. Ketupat pun kemudian menjadi bagian dari simbol perayaan Idulfitri yang terus diwariskan hingga sekarang.

Makna Filosofis Ketupat

Ketupat tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki makna simbolis yang dalam. Kata "ketupat" dalam bahasa Jawa sering dikaitkan dengan istilah "ngaku lepat", yang berarti mengakui kesalahan.

Makna ini sangat selaras dengan tradisi Idulfitri yang identik dengan saling memaafkan. Dengan menyajikan ketupat, masyarakat diingatkan untuk mengakui kesalahan dan membuka hati untuk meminta serta memberi maaf kepada sesama.

Load More