Lifestyle / Komunitas
Sabtu, 21 Maret 2026 | 21:05 WIB
Syawalan - asal usul syawalan (Freepik)

Suara.com - Syawal merupakan salah satu bulan dalam kalender Islam yang datang setelah Ramadan. Tahun ini, bulan Syawal dimulai pada 21 Maret 2026, menurut ketetapan Pemerintah.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Syawal identik dengan tradisi Syawalan yang biasanya digelar sepekan setelah Idulfitri hingga Lebaran Ketupat pada hari ketujuh.

Tradisi Syawalan kini tidak hanya dilakukan oleh umat Islam, tapi juga meluas ke berbagai kalangan masyarakat.

Kegiatan ini kerap menjadi ajang berkumpul, baik dalam lingkup keluarga, komunitas, maupun kelompok profesi tertentu.

Lalu sebenarnya, apa itu tradisi Syawalan serta makna di baliknya? Simak ulasan berikut ini.

Apa Itu Syawalan?

Ilustrasi Syawalan. (Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko)

Syawalan adalah tradisi setelah Idulfitri yang sarat dengan nilai kebersamaan dan kekeluargaan.

Biasanya, perayaan ini ditutup dengan kegiatan halal bihalal yang melibatkan keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas.

Di berbagai daerah, Syawalan memiliki sebutan yang berbeda-beda. Di Jawa Timur, misalnya, tradisi ini dikenal dengan istilah Kupatan, Bakda Ketupat, atau bahkan disebut sebagai Lebaran Ketupat.

Ciri khas Syawalan terletak pada tradisi membuat ketupat dari anyaman daun kelapa muda.

Baca Juga: 7 Amalan Sunah di Bulan Syawal yang Dianjurkan dalam Islam, Jangan Terlewat!

Ketupat yang telah matang kemudian dibagikan kepada kerabat, terutama yang lebih tua, sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan.

Lebih dari sekadar tradisi, Syawalan memiliki tujuan mempererat tali silaturahmi.

Momentum ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan sosial serta menumbuhkan rasa persatuan di tengah masyarakat.

Sejarah Syawalan

Tradisi Syawalan tidak lepas dari sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Saat itu, terjadi proses akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa yang telah lebih dulu berkembang.

Para Walisongo berperan penting dalam memperkenalkan tradisi ini kepada masyarakat. Mereka menggunakan pendekatan budaya agar ajaran Islam dapat diterima tanpa menimbulkan konflik dengan tradisi lokal.

Alih-alih menghapus budaya yang ada, para wali justru mengadaptasinya dengan nilai-nilai Islam. Pendekatan ini membuat masyarakat merasa lebih dekat dan mudah menerima ajaran baru.

Load More