Suara.com - Syawal merupakan salah satu bulan dalam kalender Islam yang datang setelah Ramadan. Tahun ini, bulan Syawal dimulai pada 21 Maret 2026, menurut ketetapan Pemerintah.
Bagi masyarakat Jawa, bulan Syawal identik dengan tradisi Syawalan yang biasanya digelar sepekan setelah Idulfitri hingga Lebaran Ketupat pada hari ketujuh.
Tradisi Syawalan kini tidak hanya dilakukan oleh umat Islam, tapi juga meluas ke berbagai kalangan masyarakat.
Kegiatan ini kerap menjadi ajang berkumpul, baik dalam lingkup keluarga, komunitas, maupun kelompok profesi tertentu.
Lalu sebenarnya, apa itu tradisi Syawalan serta makna di baliknya? Simak ulasan berikut ini.
Apa Itu Syawalan?
Syawalan adalah tradisi setelah Idulfitri yang sarat dengan nilai kebersamaan dan kekeluargaan.
Biasanya, perayaan ini ditutup dengan kegiatan halal bihalal yang melibatkan keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas.
Di berbagai daerah, Syawalan memiliki sebutan yang berbeda-beda. Di Jawa Timur, misalnya, tradisi ini dikenal dengan istilah Kupatan, Bakda Ketupat, atau bahkan disebut sebagai Lebaran Ketupat.
Ciri khas Syawalan terletak pada tradisi membuat ketupat dari anyaman daun kelapa muda.
Baca Juga: 7 Amalan Sunah di Bulan Syawal yang Dianjurkan dalam Islam, Jangan Terlewat!
Ketupat yang telah matang kemudian dibagikan kepada kerabat, terutama yang lebih tua, sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan.
Lebih dari sekadar tradisi, Syawalan memiliki tujuan mempererat tali silaturahmi.
Momentum ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan sosial serta menumbuhkan rasa persatuan di tengah masyarakat.
Sejarah Syawalan
Tradisi Syawalan tidak lepas dari sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Saat itu, terjadi proses akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa yang telah lebih dulu berkembang.
Para Walisongo berperan penting dalam memperkenalkan tradisi ini kepada masyarakat. Mereka menggunakan pendekatan budaya agar ajaran Islam dapat diterima tanpa menimbulkan konflik dengan tradisi lokal.
Alih-alih menghapus budaya yang ada, para wali justru mengadaptasinya dengan nilai-nilai Islam. Pendekatan ini membuat masyarakat merasa lebih dekat dan mudah menerima ajaran baru.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
4 Rekomendasi Bedak Red-A Murah untuk Makeup Harian, Mulai Rp14 Ribuan
-
5 Pilihan Daily Foundation Viva Cosmetics untuk Makeup Natural Sehari-hari
-
4 Zodiak yang Diprediksi Dapat Energi Positif dan Keberuntungan pada 8 Mei 2026
-
Bahaya Sepatu Kekecilan bagi Kesehatan Kaki dan Tips Memilih Ukuran Tepat
-
4 Shio yang Diprediksi Penuh Keberuntungan dan Energi Positif pada 8 Mei 2026
-
Jerawat Punggung Muncul karena Apa? Ini 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya
-
Daftar Harga Facetology Sunscreen Terbaru 2026, Tawarkan Triple Care
-
Ubah Sampah Makanan Jadi Aksi Iklim: Jejak Food Cycle Indonesia Tekan Emisi dari Limbah Pangan
-
Jaga Alam, Jaga Kehidupan: Festival Raksha Loka Dorong Aksi Kolektif Untuk Masa Depan Hijau
-
6 Sunscreen dengan Kandungan Brightening yang Bantu Cerahkan Wajah Mulai Rp30 Ribuan