Suara.com - Pemilihan material pada lapangan tenis ternyata tidak hanya soal performa permainan, tetapi juga berkaitan dengan isu lingkungan. Studi terbaru menunjukkan bahwa jenis permukaan lapangan dapat berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) di atmosfer.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Geochemistry mengungkap bahwa penggunaan tanah liat hijau pada lapangan tenis mampu menyerap karbon dioksida. Laporan dari Phys.org menyebutkan, temuan ini menyoroti potensi material konstruksi fasilitas olahraga sebagai bagian dari solusi penanganan krisis iklim.
Kemampuan ini terjadi melalui proses kimia yang dikenal sebagai pelapukan batuan yang ditingkatkan. Metode ini memanfaatkan batuan silikat, seperti basal, untuk menangkap karbon dioksida dari udara. Ketika air hujan bereaksi dengan mineral dalam batuan tersebut, terjadi reaksi kimia yang mengikat CO2 dan menyimpannya dalam bentuk yang lebih stabil.
Di Amerika Serikat, lapangan tenis tanah liat hijau umumnya terbuat dari metabasal, yaitu jenis batuan yang memiliki sifat serupa dengan basal dan efektif dalam menyerap karbon. Material ini memungkinkan lapangan tidak hanya berfungsi sebagai sarana olahraga, tetapi juga sebagai penyerap karbon dalam jangka panjang.
Metode Penelitian dan Perhitungan Emisi
Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan bumi Jonathan Lambert dari NYU Gallatin School of Individualized Study bersama Frank J. Pavia dari Washington University. Mereka memetakan 17.178 lapangan tenis tanah liat hijau di Amerika Serikat untuk menghitung potensi penyerapan karbon secara bruto dan neto.
Dalam analisisnya, para peneliti menggunakan model komputasi yang memperhitungkan seluruh siklus hidup lapangan. Perhitungan tersebut mencakup emisi karbon dari proses penambangan dan pengolahan material, transportasi ke lokasi pembangunan, proses konstruksi, hingga pemeliharaan rutin. Selain itu, faktor fisik seperti ukuran butiran batu, suhu lapangan, dan komposisi kimia juga turut dianalisis.
Efisiensi Penyerapan dan Perbandingan dengan Lapangan Keras
Hasilnya menunjukkan bahwa secara kolektif, lapangan-lapangan tersebut mampu menghilangkan sekitar 25.000 metrik ton CO2 setiap tahun. Studi ini juga mengukur waktu yang dibutuhkan lapangan untuk mencapai kondisi emisi nol bersih.
Baca Juga: Ketimpangan Karbon: Mengapa Gaya Hidup Si Kaya Adalah Ancaman Terbesar Bumi?
Sekitar 80 persen lapangan mampu mencapai titik tersebut dalam waktu kurang dari 10 tahun, sementara 92 persen mencapainya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Rata-rata, lapangan tanah liat hijau membutuhkan sekitar 3,5 tahun untuk menjadi negatif bersih.
Dibandingkan dengan lapangan keras berbahan beton, lapangan tanah liat hijau juga memiliki keunggulan dari sisi emisi awal. Emisi yang dihasilkan selama proses konstruksi tercatat 1,6 hingga 3 kali lebih rendah dibandingkan lapangan keras, bahkan sebelum memperhitungkan kemampuan penyerapan karbonnya.
Pengaruh Lokasi dan Faktor Lingkungan
Namun, efektivitas penyerapan karbon ini tidak merata di semua lokasi. Faktor geografis, terutama suhu, sangat memengaruhi laju pelapukan batuan. Lapangan yang berada di wilayah dengan suhu lebih hangat cenderung memiliki tingkat penyerapan karbon yang lebih tinggi. Sebaliknya, lapangan di wilayah dingin menunjukkan kinerja yang lebih rendah.
Selain itu, faktor logistik juga berperan. Lapangan yang berlokasi dekat dengan pusat pengolahan basal, seperti di Virginia, memiliki efisiensi penyerapan yang lebih tinggi karena emisi dari transportasi material lebih rendah. Sebaliknya, sejumlah lapangan di wilayah terpencil dan bersuhu rendah diperkirakan sulit mencapai status emisi nol bersih.
Peluang Infrastruktur Olahraga Berkelanjutan
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Kuliner Bintang 5 Kini Jadi Acuan Baru Buat Cari Tempat Makan Enak
-
Cara Mudah Cek BPOM Kosmetik Pakai HP, Sat Set Gak Perlu Ribet!
-
3 Pilihan Maskara Viva Cosmetics Mulai Rp43 Ribu, Bikin Bulu Mata Lentik dan Tahan Lama
-
Apakah Hewan Kurban Boleh Betina? Ini Ketentuannya dalam Islam
-
Gunung Dukono Meletus Berapa Kali? Ini Riwayat Erupsi Gunung Api Aktif di Halmahera
-
8 Karier dan Pekerjaan Terbaik untuk Zodiak Gemini, Sesuai dengan Kepribadiannya
-
11 Kosmetik Populer Ditarik BPOM, Apa Saja Kandungan Bahayanya?
-
Liburan ke Bogor Makin Lengkap, Nonton Sunset di Kebun hingga Healing ke Curug
-
5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
-
Mengenal Barong Tagalog, Busana Khas Filipina yang Dipakai Prabowo di KTT ke-48 ASEAN