Suara.com - Indonesia akan menghadapi babak baru kondisi iklim setelah beberapa bulan dilanda hujan deras di berbagai daerah.
Adapun sepanjang akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026, Indonesia berkali-kali disapu oleh curah hujan tinggi.
Namun per April 2026, kondisi cuaca akan berubah 180 derajat dengan datangnya fenomena El Nino.
El Nino kali ini diproyeksikan tak seperti biasanya. Bahkan ada nama khusus bagi fenomena yang akan terjadi yakni Godzilla El Nino.
Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) di berbagai daerah dalam keterangan yang dihimpun pada Selasa (31/3/2026) menilai potensi puluhan bahkan ratusan titik di Tanah Air akan dilanda El Nino super.
Godzilla El Nino ini juga dinilai akan membawa kekeringan dengan skala yang lebih besar.
Lantas, apa yang dimaksud dengan 'Godzilla' El Nino? Apa dampaknya bagi Indonesia?
El Nino Versi Ekstrem
Godzilla El Nino bukanlah istilah ilmiah resmi, melainkan julukan populer untuk menggambarkan fenomena El Nino dengan intensitas ekstrem atau luar biasa kuat.
Istilah ini dipopulerkan oleh beberapa ilmuwan di NASA untuk menjelaskan bahwa dampak yang ditimbulkan lebih besar dari El Nino biasa.
Baca Juga: Perubahan Iklim Tekan Produksi Pangan, BRIN Dorong Adaptasi dan Mitigasi
Secara umum, El Nino adalah anomali kala suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur yang melonjak jauh di atas normal di atas 2-3 derajat Celcius.
Skala kekuatannya yang masif mampu mengganggu sirkulasi atmosfer global secara drastis, menjadikannya "monster" di antara siklus iklim rutin karena durasi dan dampaknya yang jauh lebih merusak dibandingkan El Nino biasa.
Terbentuknya 'Godzilla' El Nino
Fenomena ini bermula ketika angin pasat yang biasanya bertiup kencang dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah.
Akibatnya, tumpukan air laut hangat yang seharusnya berada di dekat Indonesia justru "tumpah" kembali ke arah Amerika Selatan.
Adapun pada Godzilla El Nino, volume air hangat ini sangat besar dan pergeserannya sangat masif.
Karena air hangat berkumpul di Pasifik timur, pusat pembentukan awan hujan pun ikut berpindah menjauhi Asia Tenggara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
5 Parfum di Alfamart yang Tahan Lama Menurut Review Pembeli, Mulai Rp30 Ribuan
-
4 Sepatu Lari SPECS Terlaris di Shopee, Ini Plus dan Minusnya Menurut Pembeli
-
Reboisasi Tak Selalu Menambah Pasokan Air, Mengapa Iklim Jadi Faktor Penentu?
-
Mengenal Pendekatan Baru untuk Mendapatkan Tidur yang Lebih Nyenyak
-
Inspiratif! Bagaimana Tiga Pelajar SD Ini Raih Nilai Sempurna di Olimpiade Matematika Nasional?
-
4 Sepeda Road Bike Rp2 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Gowes Jarak Jauh
-
10 Cara Membersihkan Sepatu Bahan Suede agar Bersih dan Awet Dipakai
-
Viva Velvet Cushion Resmi Meluncur, Cushion Rp60 Ribuan dengan SPF yang Mulai Banyak Direview
-
3 Level Persentase Niacinamide untuk Atasi Masalah Kulit Wajah, Mana yang Cocok untuk Kulitmu?
-
Bagaimana Cairan Pencuci Buah Ini Berupaya Mengurangi Residu Pestisida dan Limbah Pangan?